
Saat ini di dareah pinggiran Desa Pilze yang telah porak-poranda, Evan dan Ursula sedang berbicara dengan santai.
Setelah William membawa Isabell pergi, mereka berdua telah berbicara cukup lama dan dari pembicaraan ini, Evan mendapat cukup banyak informasi yang sangat berguna baginya.
Tidak hanya waktu dan tempat dimana sekelompok Penyihir dan Ksatria Hitam berkumpul, dia juga mendapatkan lokasi telur Naga yang disembunyikan Penyihir Hitam ini.
" Satu pertanyaan lagi, darimana kau mendapatkan esensi darah dari ras Vampire ?, hal seperti itu jelas tidak akan dimiliki oleh seorang Penyihir Hitam sepertimu. "
Evan akhirnya menanyakan hal yang sangat menggangunya sejak awal pembicaraan ini, esensi darah dari ras Vampire adalah barang langka yang hanya ada di tangan Pemimpin tertinggi di masing-masing benua dan sangat kecil kemungkinannya untuk bocor ke orang luar.
Vampire adalah salah satu ras yang berdiri di puncak World of Darkness, setiap dari mereka memiliki penampilan yang cantik dan anggun, selain itu mereka juga memliki bakat alami yang sangat tinggi dalam memanipulasi Energy yang berarti bahwa mereka memiliki bakat yang sangat tinggi di jalan Penyihir.
Dari banyaknya jenis Energy yang ada, ras Vampire sangat pandai dalam menggunakan 3 energi yang dianggap sangat langka yaitu Moonlight, Darkness dan Blood Energy dan hal ini juga menjadikan ras Vampire dapat berdiri di puncak rantai makanan di World of Darkness.
Justru karena hal ini Evan sedikit curiga dari mana Ursula yang hanya Penyihir Hitam kuno mendapatkan hal seperti itu.
" Sebenarnya tidaklah sulit untuk mendapatkan hal itu, aku hanya perlu menggunakan tubuhku ini untuk melayani beberapa bangsawan yang menyedihkan itu dan setelah beberapa trik sederhana, mereka mulai memenuhi semua permintaanku. "
" ... "
[ Sialan, apakah tubuhnya memang bisa menyelesaikan segalanya, pertama dia mendapat telur Naga dan sekarang Esensi darah dari ras Vampire, mungkin aku juga harus memanfaatkan wajahku yang tampan ini untuk menghasilkan beberapa barang berharga...
Plakk...
Apakah aku baru saja kerasukan sesuatu tadi, cih ! benar apa kata ayah, bergaul dengan Penyihir Hitam dapat mempengaruhi pola pikirmu, aku harus berhati-hati di masa depan. ]
Evan yang tersadar dari sifat serakahnya dengan menampar wajahnya sendiri, segera melemparkan semua kesalahan pada Penyihir Hitam yang malang itu untuk membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.
" Sigh... baiklah, sudah saatnya untuk mengakhiri pembicaraan ini, apakah ada kata-kata terakhir ? "
__ADS_1
" Hehe... aku tidak menyangka bahwa aku akan mati ditangan anggota keluarga Silverash, asal kau tahu saja, sebenarnya aku sangat mengagumi dan menghormati keluargamu Tuan muda.
Sebagai seorang Penyihir Hitam, aku selalu hidup dalam pelarian jadi bisa dibilang aku pernah mengunjungi setiap kerajaan di benua Bintang tapi tidak ada yang bisa mengalahkan keluarga Silverash dalam hal merawat rakyatnya sendiri.
Setiap desa atau kota yang aku kunjungi di wilayah Silverash sangat indah dan makmur, meskipun masih ada beberapa yang masih memiliki keterbatasan ekonomi tapi mayoritas dari mereka bisa mengisi perutnya dengan cukup.
Jika aku memiliki kesempatan untuk bereinkarnasi dan terlahir kembali, aku harap bisa menjadi salah satu subjekmu dan memanggilmu sebagai Yang Mulia dengan rasa hormat tertinggi, Tuan muda Evan. "
Ursula tiba-tiba mengatakan sesuatu yang sangat tak terduga bagi Evan, tanpa sadar, mulut Evan mulai melengkung keatas membentuk senyum yang indah.
" Terimakasih. "
Trustt...
Akhirnya, pembicaraan santai yang terjadi antara seorang Ksatria dari keluarga Silverash dan Penyihir Hitam kuno diakhir dengan sebuah tusukan pedang berlapis cahaya perak yang menembus langsung jantung Penyihir Hitam itu dan menyebabkan kematiannya secara instan.
...
Penginapan ini masih ramai dengan banyak tentara bayaran seperti sebelumnya bahkan walau ini sudah menjelang pagi, tapi kali ini bukannya mereka mabuk-mabukan atau menggoda para pelayan, tapi mereka sedang berdiskusi tentang ledakan besar yang mengguncang seluruh desa yang terjadi beberapa saat lalu.
Sebenarnya banyak dari mereka ingin mengecek apa yang terjadi, tapi kepala desa memperingatkan dan memblokir akses masuk untuk mendekati area pusat ledakan yang sepertinya terjadi di pinggiran desa, bahkan warga yang ada di sekitar lokasi juga dievakuasi secara menyeluruh.
Saat mereka semua sedang asik berdiskusi tentang apa yang menyebabkan ledakan sebesar itu bisa terjadi, tiba-tiba pintu masuk penginapan terbuka dan memperlihatkan seorang pria muda berambut hitam dalam kondisi yang sangat berantakan menggandeng gadis kecil serba putih yang masih cegukan beberapa kali disebabkan karena terlalu banyak menangis.
Pemandangan ini sontak membuat para tentara bayaran menutup mulut mereka rapat-rapat dan tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun karena takut akan membuat kesal pemuda itu.
Mereka masih ingat dengan jelas bagaimana pemuda berambut hitam ini mematahkan hidung setiap orang yang ada di penginapan, jadi mereka memilih untuk diam dari pada membuat monster ini marah.
Tapi sepertinya pemuda itu tidak dalam mood untuk mengurusi para ikan teri seperti mereka, dia menarik tangan gadis kecil itu dan berjalan perlahan mendekati konter.
__ADS_1
" A-ada yang bisa kubantu tuan ? "
" Aku ingin satu lagi kamar tambahan, selain itu, kamar itu juga harus bersebelahan dengan 2 kamar yang kami pesan sebelumya. "
" Ma-maafkan aku tuan, t-tapi kamar itu sudah dipesan oleh orang lain, ji-jika kau mau kami bisa memberimu kamar lainnya yang agak berdekatan. "
Pelayan itu berusaha sebisa mungkin untuk melawan ketakutannya dan akhirnya berhasil menolak dengan sopan permintaan pemuda itu meskipun harus tergagap beberapa kali.
" Sigh... bisakah kau mengusahakannya untukku, aku bersedia membayar lebih atau bahkan berbicara dengan pemilik kamar itu secara langsung. "
" Ba-baiklah, mohon tunggu sebentar. "
Resepsionis itu segera bergegas ke suatu tempat dan tak lama kemudian, dia kembali bersama David yang adalah pemilik penginapan dan seorang anak kecil tampan berusia sekitar 12 tahun beserta beberapa orang yang sepertinya adalah penjaga anak itu.
" Hahahaaa, tuan William, apakah ada yang bisa kubantu untukmu ? "
" Aku ingin satu kamar lagi disebelah kedua kamar yang kami sewa sebelumnya, bisakah kau membantuku dengan ini. "
" Permintaan maafku tuan William, tapi kamar itu sudah ditempati oleh Tuan muda Braford yang ada di sebelahku ini, biar kuperkenalkan padamu, dia adalah Braford Tiggon, putra kedua dari keluarga bangsawan Viscount Tiggon dari Kekaisaran Azeroth, beliau datang jauh-jauh kesini untuk mengikuti turnamen yang diselenggarakan di kota Aurum dua bulan kemudian. "
Braford mengangkat dagunya tinggi-tinggi saat David memperkenalkan dirinya beserta latar belakangnya kepada pemgemis yang ada di depannya, meskipun dia merasa aneh mengapa David berkata sangat formal kepada pengemis itu, tapi dia tidak terlalu memikirkannya.
[ Rakyat jelata adalah rakyat jelata, mereka ada untuk melayani kami para bangsawan, itulah alasan mereka dilahirkan di dunia ini. ]
Tapi saat Braford mengharapkan pengemis ini untuk berlutut dan menyembahnya karena telah membuang-buang waktunya, dia dikejutkan sekaligus dibuat geram oleh kata-kata pengemis itu.
" Aku tidak peduli siapa dia, yang aku pedulikan disini adalah kau bisa memenuhi kebutuhanku atau tidak, aku tidak ingin Tuanku memarahiku lagi nanti karena aku tidak bisa melakukan tugas yang sangat sederhana ini dengan benar. "
William berkata dengan santai tanpa memandang Braford sama sekali yang jelas membuat anak bangsawan manja ini sangat marah.
__ADS_1
Saat Braford akan memerintahkan prajuritnya untuk menangkap dan memukuli pengemis tidak tahu diri ini, kata-kata yang akan keluar dari mulutnya tiba-tiba tersangkut di tenggorokannya saat dia tanpa sengaja memandang gadis kecil yang berdiri disamping pengemis itu.
[ Cantik sekali. ]