
Jika dilihat dari sudut pandang Evan saat ini, area pertempuran antara dua Master Ksatria itu sudah sangat berantakan.
Banyak sekali lubang atau celah di sekitar lokasi pertempuran mereka yang terbentuk karena serangan dan bentrokan kedua Ksatria itu.
Jika pertempuran ini terjadi di pusat sebuah desa atau kota kecil, tidak akan mengherankan jika desa atau kota kecil itu akan segera rata dengan tanah karena dampak dari energi destruktif yang mereka keluarkan dan ini juga membuktikan betapa mengerikannya daya hancur dari seorang transenden.
Saat ini, duel kematian yang berlangsung selama hampir 3 jam ini sepertinya sudah mencapai titik puncak dimana pemenang akan segera diputuskan.
Meskipun daya tahan, fisik dan kekuatan seorang Ksatria telah jauh melebihi batas dari apa yang dapat dicapai manusia biasa, tapi 3 jam juga sudah merupakan waktu yang lama bagi seorang Master Ksatria jika mereka bertarung dengan kekuatan penuh melawan seseorang pada tingkat yang sama.
Saat ini keadaan dua orang itu dapat dikatakan sangat buruk, terutama Zaratan, selain tubuhnya yang sudah mencapai batas dan armornya yang sudah hancur di berbagai tempat, lengan kirinya juga sudah menghilang dari tempatnya.
Jika dibandingkan, keadaan William jauh lebih baik, hanya ada sedikit luka di berbagai bagian tubuhnya dan nafasnya yang sedikit tidak beraturan yang menunjukkan bahwa dia sama lelahnya dengan Zaratan, tapi jika dilihat dari masing-masing luka yang mereka terima, William jelas telah mendominasi di seluruh bagian pertarungan dan kali ini dia juga tidak menggunakan kemampuan spesial dari Legendary item Heavy Mountain Sword.
William hanya mengandalkan skillnya sendiri dan sebenarnya dia menggunakan Zaratan sebagai batu asah untuk mengasah dan mempertajam berbagai teknik yang dia kuasai.
" Sepertinya inilah akhirnya, tubuhku sudah tidak lagi mau menuruti keinginanku, sebelum aku mati, bisakah kau memberi tahuku siapa yang mengirimmu untuk membunuhku ? "
" Hmph, kau tidak pantas untuk mengetahui nama Tuanku, seorang Master Ksatria sepertimu yang menggunakan kekuatan untuk menindas rakyat biasa benar-bebar makhluk yang hina, aku tidak ingin nama Tuanku yang mulia dinodai oleh mulut kotormu itu. "
" Hahahaa, apa salahnya kita yang kuat memanfaatkan yang lemah demi keuntungan kita sendiri , bukankah itu hukum tidak tertulis yang ada dunia ini, tapi... sigh... percuma saja membicarakan semua hal ini denganmu, kita memiliki dua jenis pandangan yang berbeda tentang dunia, jadi satu-satu cara untuk membenarkan diri kita sendiri adalah dengan menggunakan pedang.
Tapi meskipun aku bilang begitu, aku saat ini tidak dalam kondisi yang dapat bertarung dengan benar, kalau begitu akan kuberikan semua yang kupunya dengan satu serangan terakhir ini, bersiaplah. "
Setelah Zaratan mengeluarkan kata-katanya, tiba-tiba Aura yang mengelilingi tubuhnya berubah drastis.
__ADS_1
Berpusat dari perut bagian bawahnya, sebuah energi yang sangat besar mulai mengalir keseluruh tubuhnya dan akhirnya berkumpul di pedang biru yang dia pegang dengan satu tangannya yang tersisa sehingga membuat pedang biru transparan itu bersinar dengan sangat terang.
Seolah masih belum cukup, ketika semua Aura yang ada di tubuhnya telah disalurkan ke pedang itu, Zaratan membuat keputusan yang sangat gila yaitu menggunakan esensi kehidupannya sendiri sebagai bahan bakar sehingga membuat energi yang terkumpul di pedangnya menjadi semakin mengerikan.
Tak lama kemudian, rambut Zaratan yang awalnya berwarna coklat terang mulai memutih dan bersamaan dengan itu tubuhnya yang besar dan berotot juga mulai menjadi lebih kurus dengan kecepatan yang terlihat oleh mata telanjang.
Dan ketika tubuhnya menjadi kurus kering dan seluruh rambutnya memutih, akhirnya energi yang disalurkan ke pedang biru transparan itu berhenti.
Saat ini pedang yang ada di tangan Zaratan tidak lagi memancarkan cahaya yang menyilaukankan seperti pertama kali saat dia menyalurkan semua aura yang ada di tubuhnya kedalam pedang itu.
Meski begitu, perasaan bahaya yang dirasakan William tidak berkurang sama sekali melainkan bertambah besar.
Bilah pedang yang awalnya berwarna biru transparan sekarang menjadi lebih gelap dan memancarkan gelombang samar hingga membuat udara disekitarnya terdistorsi.
Dan semua proses ini terjadi sangat cepat hingga William tidak punya kesempatan untuk mengganggu proses pengumpulan energi Zaratan atau memang dia tidak berniat untuk mengganggunya.
Jika kau berhasil menahannya, ini akan menjadi kekalahanku. "
" Menarik, kalau begitu majulah, kebetulan aku juga ingin mengetes teknik yang baru-baru ini kupahami. "
Setelah William menyelesaikan kata-katanya, dia segera memposisikan Great Swordnya di depan tubuhnya dalam posisi bertahan dan tiba-tiba Aura kuning tanah mengerikan mulailah menyelimuti seluruh tubuhnya.
Setelah beberapa saat, Aura itu mulai mengembun membentuk ilusi samar sebuah gunung raksasa yang terlihat sangat agung, meskipun belum sepenuhnya terbentuk, gunung itu memancarkan perasaan yang sangat mendominasi dan kokoh.
Saat Evan melihat ilusi gunung raksasa yang mengelilingi William, dia sangat shock hingga membuatnya menjatuhkan kue kering yang ada di tangannya.
__ADS_1
" Fu*k... , sejak kapan pencapaian orang idiot itu dalam niat pedang menjadi setinggi itu, dia bahkan sudah dapat memproyeksikan gambar inti dari niat pedangnya menggunakan Aura, meskipun dia masih belum membentuk niat pedangnya ke kesempurnaan, tapi setidaknya itu masih lebih baik dariku yang hanya memiliki embrio kosong.
Sialan, aku tidak bisa membiarkan ini berlanjut, jika dia berhasil menyempurnakan niat pedangnya lebih dulu dariku, aku tidak akan punya alasan untuk menyebutnya idiot lagi.
Sepertinya aku harus memajukan rencanaku dan menjadikan niat pedang sebagai prioritas utama. "
Saat Evan sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, di area pertempuran, Zaratan yang telah menyelesaikan pengumpulan energi di pedangnya, akhirnya membuat gerakan.
Lengan kanan yang kurus kering itu menggenggam gagang pedang dengan erat kemudian Zaratan mengayunkan pedang biru itu secara horizontal dengan sekuat tenaganya.
Craaakkk... Prangggg...
Ketika Zaratan menyelesaikan gerakannya, pedang biru yang ada di tangannya seolah tidak lagi mampu menahan beban energi yang begitu besar hingga tubuh pedang itu mulai mengeluarkan suara retakan yang cukup keras dan pada akhirnya pedang biru itu hancur berkeping-keping hanya menyisakan bagian gagang yang masih dia genggam dengan erat.
Dan bersamaan dengan itu, energi berwarna biru yang dikeluarkan oleh satu ayunan pedang itu bergegas keluar menuju William seperti ombak raksasa yang dapat menyapu semua hal yang ada di depannya.
Dihadapkan dengan serangan mengerikan seperti itu, William tidak gentar sama sekali, dia sekali lagi memperbaiki postur tubuhnya dan memperkuat cengkramannya pada pedang yang ada di genggamannya.
Selain itu Aura kekuningan yang terpancar dari tubuhnya juga semakin menguat sehingga membuat gunung raksasa ilusi yang terbentuk dari Aura itu juga menjadi lebih solid dan stabil.
" Tsk..tsk..tsk..., gelombang Tsunami dan gunung raksasa...
Yang pertama dapat meluluh lantakkan segala sesuatu yang dilewatinya sedangkan yang terakhir sangat agung dan kokoh yang bahkan dapat bertahan melewati baptisan waktu... menarik, sangat menarik.
Ayo, biarkan aku menjadi saksi tentang jalan mana yang lebih baik dari dua jalan yang kalian pilih masing-masing. "
__ADS_1
Saat kedua energi yang luar biasa besar itu akan segera bertabrakan, Evan yang sedang menonton dari ujung pohon di dekatnya berkata dengan ekspresi sangat bersemangat.