Tahta Perak

Tahta Perak
Pertempuran Berdarah


__ADS_3

Beberapa detik setelah Sofia melihat tetesan darah yang mengalir keluar dari hidung Ksatria yang terluka itu, tiba-tiba insting bertahan hidupnya yang biasanya hanya aktif saat dia menghadapi bahaya yang mengancam hidupnya, kini bereaksi secara gila-gilaan.


Secara reflek, Sofia segera mencabut pedangnya dari sarung pedang dan memposisikan pedang itu dibelakang punggungnya.


Clingg... Baam...


Diiringin dengan suara seperti benturan antara dua logam, Sofia terpental dengan sangat cepat dan tak butuh waktu lama bagi tubuhnya untuk menabrak tembok yang dibangun mengelilingi tempat pelatihan hingga tembok itu hampir roboh sebelum akhirnya berhenti.


Ketika para Ksatria lainnya yang berada di tempat pelatihan melihat hal ini, mereka bergegas menuju tempat Sofia yang terbaring tak bergerak di lantai dan membentuk formasi untuk melindunginya.


" Bersiap untuk bertarung !, cepat bagi menjadi 2 tim, tim pertama bentuk formasi untuk melindungi Nona Muda dan yang lainnya ikuti aku untuk mengepung moster itu, jangan biarkan dia melarikan diri. "


Secara kebetulan, semua Ksatria yang berkumpul di tempat pelatihan hari ini adalah para elit yang sangat terlatih, bahkan yang terlemah berada pada tingkat Master Ksatria, jadi ketika mereka menyadari ada sesuatu yang tidak benar terjadi, mereka tidak panik melainkan sangat sigap dan disiplin.


Tidak termasuk Isabell yang kehilangan kendali dan Sofia yang terbaring tak sadarkan diri, ada total 21 orang yang ada di tempat pelatihan saat ini, 15 Master Ksatria, 5 Grandmaster dan 1 orang Ksatria bergelar.


Ke 21 orang itu saat ini berpisah membentuk dua kelompok, kelompok pertama terdiri dari 8 Master Ksatria dan 3 Grandmaster yang bertugas melindungi serta merawat Sofia yang saat ini terluka sangat parah sedangkan kelompok lainnya bertugas untuk mengepung monster yang menyerang Sofia agar tidak melarikan diri dan menyebabkan lebih banyak kekacauan.


Dipusat kelompok kedua yang saat ini dikomandoi oleh seorang Ksatria Bergelar yang bernama Robin, terlihat Isabell yang saat ini telah kehilangan kendali sepenuhnya.


Penampilan Isabell saat ini terlihat sangat aneh, mata merahnya saat ini terlihat sedikit lebih gelap, kukunya yang panjang dan berwarna hitam memancarkan kilauan metalik seperti artefak tingkat tinggi dan ada dua gigi taring mungil yang keluar dari mulut kecilnya.


Secara keseluruhan, penampilan Isabell masih mirip dengan manusia walaupun sedikit aneh, tapi bukan hal itu yang membuat para Ksatria elit ini mengelilingi dirinya dengan waspada, melainkan energi hitam aneh yang saat ini keluar dan mengelilingi tubuh Isabell dari segala arah.


Energi itu terus-menerus memancar dari tubuh Isabell hingga membentuk kabut hitam pekat yang menyelimuti seluruh tubuhnya dan dari kabut hitam inilah para Ksatria elit dari kota Aurum merasakan bahaya ekstrim.


Saat para Ksatria itu masih mengamati dan menilai lawan di depan mereka dengan cermat, tiba-tiba tubuh Isabell yang berada di tengah-tengah formasi, menghilang secara misterius seolah melebur dengan lingkungan sekitarnya.

__ADS_1


Seketika, semua Ksatria itu yang telah kehilangan target mereka segera meningkatkan penjagaan mereka ke tingkat tertinggi.


Dan tak lama setelah Isabell menghilang, Robin yang adalah satu-satunya Ksatria Bergelar di kelompok itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan tanpa berpikir panjang dia mengayunkan pedangnya kearah bayangannya sendiri dengan kecepatan tinggi.


Sringg...


Sebuah kekuatan yang sangat besar menghantam bayangan Robin hingga membuat sebuah celah yang dalam di lantai pelatihan, selain serpihan ubin yang berserakan, di dekat bekas tebasan pedang Robin ada juga banyak bercak darah dan sepotong lengan kiri dengan kuku hitam yang menakutkan tergeletak disana.


" Hati-hati, mahkluk itu dapat bersembunyi dibalik bayang-bayang dan juga usahakan jangan sampai terkena serangannya, itu mengandung racun yang sangat mematikan.


Jika kalian tidak mampu menekan racun itu dengan Aura, segera potong bagian tubuh yang terkena racun. "


Ketika para Ksatria lainnya mendengar peringatan pemimpin mereka, mau tidak mau, mereka melirik pergelangan kaki kiri Robin yang saat ini ada luka cakaran yang sangat dalam dan yang lebih menakutkan adalah daerah di sekitar luka itu menjadi hitam dan mulai membusuk seolah tidak dirawat selama beberapa minggu.


Selain itu, area hitam di sekitar luka itu seolah dengan keras kepala berusaha menyebar ke bagian tubuh lainnya tapi ditekan secara paksa oleh Aura Robin.


Sebenarnya sangat wajar bagi mereka untuk takut, menghadapi musuh yang tidak diketahui dengan kemampuan yang aneh dan mengerikan yang bahkan dapat melukai seorang Ksatria Bergelar dalam kondisi siaga penuh, bagaimana mereka tidak takut.


Tapi kondisi pikiran yang tidak stabil ini harusnya tidak muncul saat dalam pertarungan, apalagi jika lawan mereka adalah mahkluk mengerikan seperti Vampire.


" Aaaahhh... "


" Tidak ! aku harus pergi dari tempat ini. "


" Aaahhhh... kakiku. "


Benar saja, tak berselang lama setelah itu, satu demi satu teriakan putus asa terdengar dari tempat pelatihan diiringi dengan jatuhnya tubuh para Ksatria yang ada disana.

__ADS_1


Robin, yang melihat rekan-rekannya jatuh ke lantai satu demi satu dengan luka berdarah di dada atau leher mereka menjadi sangat marah, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan, meskipun dia adalah seorang Ksatria Bergelar yang kuat, tapi kecepatan bukankah keahliannya.


Meskipun kecepatannya tidak lambat jika dibandingkan dengan Ksatria Bergelar lainnya, tapi itu tidak bisa dibandingkan dengan Isabell yang sedang dalam keadaan mengamuk, apalagi Isabell dapat bergerak bebas di dalam bayangan yang membuatnya sangat sulit untuk tangkap.


Dan yang membuat Robin lebih Frustasi adalah setelah menderita kerugian dalam bentrokan dengannya beberapa saat yang lalu, Isabell secara sadar menghindarinya dan menjadikan para Master Ksatria yang lebih lemah sebagai target utamanya, jadi Robin memutuskan untuk menyerah dalam membunuh Isabell dan hanya fokus dalam pertahan sampai bala bantuan tiba.


...


Pada waktu bersamaan, Evan yang tidak mengetahui jika saat ini terjadi sebuah pertempuran berdarah di tempat pelatihan yang menjadi tempat tujuannya, sedang menatap linglung kearah sebuah pohon yang sangat indah.


Pohon ini tidak memiliki daun sama sekali tapi di setiap cabang dari pohon ada banyak sekali bunga berwarna merah mudah yang sangat indah.


Evan saat ini menatap pohon itu dengan sangat serius dan mendetail, bahkan dia tidak menggunakan Soul Energy untuk mengamati pohon itu tapi secara langsung menggunakan Sword Eyes yang sangat jarang dia gunakan karena konsumsi energinya yang berlebihan.


Alasan sebenarnya mengapa Evan begitu terpaku pada pohon ini adalah karena dia merasakan sesuatu yang istimewa tentang pohon ini tapi dia tidak bisa mengerti apa itu, tapi yang pasti dia bisa merasakan satu hal yaitu sesuatu yang tersembunyi di dalam pohon ini sangatlah penting baginya.


Jadi, dengan sekuat tenaga, Evan berusaha mengamati pohon itu untuk mencari tahu hal apa yang ada di dalam pohon itu hingga dapat mempengaruhi instingnya sedemikian rupa.


Setelah mengamati cukup lama, Evan mendapatkan beberapa hasil dan ketika dia hanya selangkah lagi dari menemukan rahasia yang tersimpan di dalam pohon itu, sebuah suara yang sangat familiar mengganggu konsentrasinya dan membuat semua usahanya selama ini sia-sia.


" Kabar buruk Tuanku, jika anda tidak segera menyelesaikan- "


BAAM....


Bahkan sebelum William menyelesaikan kata-katanya, sebuah tendangan yang sangat keras mendarat tepat di wajahnya.


" Sialan kau !!! jika aku tidak memukulimu sampai setengah mati hati ini, akan kutulis namaku secara terbalik. "

__ADS_1


Baam... buk... baam...


__ADS_2