
Di sebuah puncak gunung terpencil, saat ini terlihat sekelompok orang yang sedang memandangi sebuah celah di permukaan tanah seperti orang bodoh.
Orang-orang ini tidak diragukan lagi adalah kelompok Sofia dan yang lainnya.
Para prajurit yang terdiri dari kurang lebih 100 orang dengan tubuhnya ditutupi armor perak yang indah, sedang mengerumuni sebuah celah yang cukup dalam dan panjang dengan ekspresi kekaguman.
Bahkan Sofia yang adalah putri gubernur kota Aurum saat ini tidak dapat menyembunyikan ekspresi pemujaan di wajahnya yang sempurna itu hingga dia bahkan tidak menyadari bahwa sahabatnya sedang memandanginya dengan ekspresi jijik terpampang di wajahnya.
[ Sigh... aku memang tidak dapat memungkiri jika para Ksatria dan prajurit yang ada wilayah Silverash sangatlah luar biasa, baik itu keterampilan, kedisiplinan atau bahkan kekuatan tempur mereka sedikit lebih tinggi dari Kerajaan-kerajaan lainnya.
Tapi yang membuatku sedikit jijik adalah pada saat menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan keluarga Silverash, mereka seperti penyembah berhala fanatik dari Gereja Cahaya menjijikkan itu.
Bahkan perempuan yang menurutku sempurna seperti Sofia juga tidak dapat lepas dari hal ini, sigh... sungguh sangat disayangkan. ]
Saat Fiona melihat pemandangan yang ada di depannya ini, dia tidak bisa tidak menghela nafas panjang sambil menatap wajah cantik sahabatnya.
" Ada apa, mengapa kau melihatku dengan tatapan seperti itu? "
Sedangkan Sofia yang terus-menerus ditatap oleh Fiona dengan pandangan aneh akhirnya menoleh ke sahabatnya itu dan melontarkan sebuah pertanyaan dengan nada yang tidak menyenangkan.
" Fufufuu, bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu apa yang sangat mengagumkan dari penguasa kalian itu sehingga mereka dapat menaklukkan hati kalian seperti ini. "
" Heeee, kau bertanya pada orang yang tepat, Penguasa kita adalah yang terbaik di dunia ini, tidak hanya sangat murah hati dan dermawan, penguasa kita juga-"
" Baiklah, cukup sampai disana !
Jika tanda di tanah itu memang ditinggalkan oleh salah satu anggota keluarga Silverash, bukankah ini kesempatanmu ? "
Fiona telah mengenal sabahatnya ini dengan sangat baik sejak lama dan dia juga mengerti jika Sofia dibiarkan terus berbicara tentang keluarga Silverash, kemungkinan dia baru akan selesai beberapa jam kemudian, maka dari itu dia dengan cerdas segera menggeser topik menuju sesuatu yang membuat Sofia tertarik.
" Apa maksudmu ? "
" Sigh... apa kau belum mengerti, jika kebetulan bahwa anggota keluarga Silverash pernah berada disini beberapa waktu yang lalu maka kemungkinan besar dia juga akan pergi ke kota Aurum untuk melihat-lihat festival yang akan diadakan. "
__ADS_1
" Bagaimana kau tahu soal itu ?, bisa saja beliau hanya lewat atau memang tujuan utamanya adalah membasmi kelompok bandit ini, mengapa beliau harus pergi ke festival ? "
" Itu juga tidak menutup kemungkinan, tapi menurutku, karena dia sudah ada di sini, dia tidak akan melewatkan festival besar yang sangat jarang diadakan ini, apalagi jika dia berniat kembali ke kota Ash setelah menyelesaikan tugasnya, dia juga harus setidaknya melewati beberapa desa atau kota dan jalan termudah adalah dengan melewati kota besar terdekat yaitu kota Aurum.
Bukan hanya jalan ke kota Aurum jauh lebih aman, tetapi juga sangat mudah diakses dibandingkan dengan jalan di pedesaan yang penuh air dan lumpur, jadi ada kemungkinan besar jika Tuanmu akan melihat secara langsung turnamen yang diadakan di kotamu. "
" ... "
Setelah Sofia mendengarkan penjelasan Fiona yang sangat masuk akal, dia sempat terdiam sejenak dan kemudian segera memerintahkan para prajuritnya untuk dengan cepat berkemas dan kembali ke kota Aurum.
[ Jika apa yang dikatakan Fiona adalah kebenaran, aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini walaupun hanya ada sedikit kemungkinan yang terjadi, apalagi persentase kali ini tidaklah kecil, cepat, aku harus kembali ke kota dengan cepat. ]
...
Sedangkan di sebuah hutan lebat yang tidak diketahui lokasinya, saat ini ada sebuah kereta kuda dengan 3 orang yang menaikinya.
" Yo Guardianku, apakah kau tahu dimana kita sekarang? "
" Umh... ahhh, aku pernah melihat pohon aneh itu sebelumnya, tapi tunggu dulu, bagaimana hal itu mungkin, kita sudah melewati pohon itu kemarin, Ohh, aku tahu, itu pasti pohon yang berbeda dan hanya mirip dengan sebelumnya. "
" Berbeda kepalamu !
itu jelas-jelas adalah pohon yang sama, aku juga melihatnya kemarin, Satu-satunya hal yang mungkin terjadi pada kita saat ini adalah TERSESAT, apa kau paham sekarang? "
Evan yang tidak tahan lagi dengan kebodohan bawahannya itu segera memukul kepala William dengan ringan sambil memarahinya Habis-habisan.
" Lalu dimana kita sekarang ini Tuanku? "
" Jika kau bertanya kepadaku, kepada siapa aku harus bertanya hah ?, burung ?, atau mungkin pohon ? "
" Jadi... apa yang harus kita lakukan sekarang ? "
" Bagaimana jika aku meninggalkanmu disini dan membiarkanmu mati kelaparan ?, bukankah itu ide yang bagus. "
__ADS_1
" Kumohon jangan bercanda Tuanku, aku masih belum puas menikmati indahnya dunia ini. "
" Kalau begitu cepat gunakan kompas yang kuberikan padamu sebelumnya jika kau tidak mau mati muda. "
" Errr... soal itu... kompas yang kau berikan sepertinya rusak karena pertempuran sebelumnya, hehehee aku lupa memasukkan ke dalam cincin ruang, maafkan aku ? "
" Hehehe, jika begitu kita semua akan membusuk bersama-sama di hutan ini. "
" Apa ?, Tidak mungkin hanya gara-gara kompas kita akan mati di tempat seperti ini, jika hal ini menyebar, kita mungkin akan tercatat dalam sejarah sebagai Master Ksatria pertama dan satu-satunya yang mati karena sebuah kompas dan itu bisa disebut kematian terkonyol yang pernah ada. "
[ Fu*k, rasanya ingin kukubur saja orang tidak berguna ini. ]
Evan yang sudah muak berbicara dengan William akhirnya merasa lelah sendiri dan memutuskan untuk beristirahat lebih awal hari ini.
" Sigh... lupakan, karena kita tersesat, percuma saja untuk meneruskan perjalanan tanpa arahan yang pasti, jadi kita istirahat di sini malam ini, cepat buatlah api unggun dan masaklah sesuatu, aku akan membangunkan Isabell untuk makan Malam. "
" Yes sir. "
Setelah mendapatkan perintah, William bergegas untuk menjalankan tugasnya dengan cepat sedangkan Evan hanya melirik sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan.
Setelah itu, dia dengan santai memasuki gerbong kereta yang didalamnya ada seorang gadis kecil berambut putih panjang sedang tertidur lelap.
Beberapa saat kemudian, Evan keluar dari gerbong kereta diikuti oleh Isabell yang masih menguap sambil menggosok-gosok kedua matanya secara bergantian.
" Tuan muda, apa yang akan kita makan hari ini ? "
" Entahlah, William yang memasak hari ini. "
" Kurasa kentang lagi hari ini, karena tuan William tidak bisa memasak apapun selain kentang, sekalipun bisa, rasanya sangat biasa. "
" Hmmm, mungkin karena dia terlalu banyak makan kentang, otaknya juga secara perlahan berubah menjadi kentang, karena inilah dia sangat bodoh. "
" Meskipun itu terdengar kejam, tapi aku sangat setuju denganmu Tuan muda. "
__ADS_1
Dan dengan begitu, perjalanan yang penuh belokan dan lika-liku dari kelompok yang dipimpin oleh Tuan Muda Evan Silverash dimulai kembali.