
Pagi-pagi sekali, di tempat latihan yang biasa mereka gunakan, Evan dan Ernest berbaring di tengah lapangan sambil mengobrol santai.
" Apakah kau tidur nyenyak tadi malam saudara ? "
" Hah, kau pasti bercanda, bagaimana aku bisa tidur saat disampingku ada ibuku yang terus menerus menceritakan kisah tentang pahlawan sialan itu. "
" Haha, ternyata kita senasib, ini semua salah pak tua itu, kita harus membalas dendam padanya apapun yang terjadi. "
" Bukankah kau yang memulai semua ini saat kau bilang ayah akan mencari istri baru. "
" Tsk, jangan pedulikan detail kecil seperti itu, sekarang kita harus memikirkan rencana untuk membuat orang tua itu membayar perbuatanya. "
" Lupakan tentang itu, bukannya hari ini kau akan menerobos menjadi Master Ksatria, lebih baik kau memikirkan tentang itu daripada melakukan hal-hal yang tidak berguna. "
" Hah, apa yang kau katakan saudara, menjadi seorang Master Ksatria adalah masalah kecil bagiku, apa kau pikir aku yang adalah jenius paling tampan dan berbakat di era ini, mengalami kesulitan saat menjadi Master Ksatria, sungguh konyol. "
" Aku ingat kau mengatakan hal yang sama saat mencoba menjadi Ksatria Formal saat itu, tapi apa yang terjadi ?, itu berakhir dengan tragedi. "
" ... "
[ Sialan, aku baru ingat kejadian saat itu. ]
Evan tiba-tiba merasakan dingin menembus tulang belakangnya saat dia mengingat proses kebangkitan Bloodlinenya, rasa sakit yang luar biasa itu akan selamanya menjadi kenangan buruk yang melekat di ingatannya hingga dia mulai gelisah saat ini.
Beberapa saat kemudian, Ryan akhirnya datang dan mengumumkan dimulainya latihan hari ini.
" Apa yang sedang kalian lakukan dengan berbaring disana dasar pemalas, cepat bangunlah dan mulai latihan hari ini. "
" Tua bangka sialan, bukankah kau yang sudah terlambat dan sekarang kau berani memarahi kami, apakah kau ingin merasakan teknik pedang baruku, hah ? "
" Evan benar, kau memang terlambat ayah, bukankah kita sepakat untuk mulai jam 8 pagi, sudah lewat 30 menit sekarang. "
" Ohh begitukah, sepertinya aku bangun kesiangan hari ini, dan mengapa wajah kalian berdua terlihat pucat, apakah kalian tidak tidur dengan baik semalam ? "
" ... "
__ADS_1
" ... "
Saat dua bersaudara itu mendengar pertanyaan ayah mereka, wajah mereka berkedut sedikit dan tiba-tiba mereka mengingat kejadian tadi malam dimana ibu mereka bercerita tanpa henti tentang kisah para pahlawan yang mengalahkan raja iblis, dan bukan hanya itu saja, ibu mereka juga menceritakan semua kisah dongeng anak-anak yang mereka tahu.
Mereka berusaha kabur dari situasi itu dengan berpura-pura tidur tapi mereka menyerah setelah melihat ekspresi menyedihkan yang ditunjukkan oleh ibu mereka, jadi mereka tidak punya pilihan selain mendengarkan kisah dongeng anak-anak sepanjang malam itu.
Seolah sesuatu yang sudah direncanakan sebelumnya, Evan dan Ernest menghunus pedang besi yang entah dari mana mereka menemukannya dan menyerang Ryan secara bersamaan.
Serangan mereka diarahkan pada titik vital bagian tubuh manusia dan disertai dengan niat membunuh yang kuat yang seharusnya tidak ditujukan pada sesama anggota keluarga mereka.
Dihadapkan dengan serangan sengit kedua putranya, Ryan tersenyum tipis dan hanya menggerakkan sedikit anggota tubuhnya untuk menghindari kedua serangan yang mematikan itu tanpa menggeser kakinya sedikitpun.
Setelah menghindari serangan itu, entah darimana Ryan sudah memegang sebuah pedang kayu dan melakukan seranngan balasan yang membuat kedua bersaudara itu terbang mundur sambil berteriak kesakitan.
" Hahahaa, apakah kalian mencoba menyelinap menyerangaku, meskipun serangan tadi cukup bagus tapi masih ada banyak celah disana, hehehe... bagaimana dengan ini, jika kalian bisa membuatku bergerak dari tempatku berdiri saat ini atau berhasil mendaratkan sebuah serangan padaku, aku akan gandakan uang saku kalian bulan ini. "
" Cih, melihat wajah sombong pak tua itu membuatku semakin ingin memukulinya, bukankah begitu saudara. "
" Hmm, aku sangat mengerti apa yang kau rasakan saat ini, karena aku juga sering merasakannya saat berbicara denganmu. "
" Kau juga sama dasar bocah sialan, tutup mulut busukmu itu dan cepatlah pikirkan bagaiman cara untuk melawan monster tua itu. "
" Tenanglah saudara, sebenarnya aku sudah memikirkan sebuah cara untuk menghadapi orang tua itu, dengarkan baik-baik.... "
" ... "
Sementara kedua bocah ini sedang berdiskusi tentang bagaimana cara untuk memukuli ayahnya sendiri, orang yang sedang dibicarakan saat ini menguap sambil menempatkan pedang kayu dibahunya dengan ekspresi bosan diwajahnya.
Beberapa saat kemudian setelah kedua bersaudara itu selesai berdiskusi, akhirnya pertempuran dimulai kembali.
" Apakah kalian sudah selesai, sekarang majulah dan tunjukan hasil latihanmu selama ini. "
" Hehehee, tenanglah pak tua, aku yakin kau tidak akan kecewa kali ini. "
" Bersiaplah ayah, kami datang. "
__ADS_1
Setelah selesai mengucapkan kalimatnya, Ernest bergegas kedepan dengan kecepatan tinggi, kecepatannya saat ini jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya dan jika diperhatikan dengan seksama akan ada kilatan berwarna perak yang menyelimuti kakinya saat ini.
Segera Ernest mencapai tempat dimana Ryan berdiri dan mengayunkan pedangnya yang sudah dilapisi aura ke leher ayahnya, tapi serangan ini mudah diblokir oleh Ryan dengan pedang kayunya yang juga dilapisi aura berwarna perak saat ini.
Melihat bahwa serangannya gagal, Ernest menggunakan rebound dari benturan kedua senjata mereka untuk mundur, sesaat setelah itu suara evan terdengar mengejutkan mereka berdua.
~ Fire Ball ~
Tiba-tiba ada sebuah bola api seukuran telapak tangan meluncur kearah Ryan yang sedang mencoba melakukan serangan balik kepada Ernest, setelah terkejutan sejenak, Ryan tidak panik atau mencoba mengindar dari boal api itu, saat bola api mendekatinya, dia menggunakan pedang kayunya untuk menebas dengan ringan bola api itu dan adegan yang luar biasa terjadi, aura perak yang ada di pedang kayu itu dengan mudah mengiris bola api Evan menjadi dua dan akhirnya meledak disamping kiri dan kanan Ryan.
Seolah tidak mau menerima kegagalanya, Evan melemparkan sihir bola api beberapa kali lagi dan semuanya tak terkecuali dipotong menjadi dua atau ditangkis oleh pedang kayu ayahnya yang tampak rapuh itu sehingga meninggalkan area disekitarnya menjadi cukup berasap dan menghalangi jarak pandang.
" Hehe, kau pikir trik kecilmu ini berpengaruh padaku, naif !, aku sudah pernah melawan beberapa penyihir sebelumnya dan setiap dari mereka bahkan jauh lebih kuat dari- "
Sebelum Ryan menyelesaikan kata-katanya, sebuah bayangan muncul dari asap tebal yang menghalangi jarak pandangnya, itu adalah Evan yang menghunuskan pedangnya tepat ke bagian dada kiri ayahnya, dan tidak berakhir sampai disitu, bayangan kedua muncul dengan kecepatan tinggi dan melancarkan serangan mematikan di bagian punggung Ryan yang tidak terjaga.
Saat berada disituasi genting ini, Ryan masih terlihat tenang, bahkan sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.
[ Hehe, sangat mudah ditebak, meskipun kerja sama kalian luar biasa, tapi kalian masih terlalu hijau, baiklah, pertama-tama aku akan menghindari serangan dari depan dulu kemudian menangkis yang belakang, saat kalian terkejut karena serangan kalian gagal, aku akan memanfaatkan waktu itu untuk memukul kepala kalian satu-satu, muahahahaa. ]
Tetapi semua itu tidak sesederhana yang dipikirkannya, saat dia mencoba menghindari serangan Evan, dia terkejut mendapati bahwa pedang Evan akan selangkah lebih maju darinya seolah sudah memperkirakan kemana dia akan menghindar selanjutnya, jadi mau tidak mau dia harus menggunakan pedang kayunya untuk memblokir serangan ini.
Saat pedang mereka bersilangan, mata kedua ayah dan anak ini tidak sengaja saling bertemu, saat Ryan melihat mata biru safir yang indah dihiasi dengan tanda pedang perak ditengahnya akhirnya dia mengerti bagaimana semua ini dapat terjadi.
Sword Eyes - Future Vision
[ Sialan, seharusnya aku tahu jika rencana yang dibuat oleh monster kecil ini tidak mungkin sesederhana itu. ]
Dan hal selanjutnya yang terjadi sangatlah sederhana, Ernest berhasil mendaratkan serangannya pada punggung Ryan, meskipun itu tidak menyebabkan luka yang serius karena Ryan telah menggunakan aura untuk melindungi tubuhnya sendiri, tapi itu tetaplah sebuah serangan yang fatal dan itu sekaligus mengakhiri pertandingan persahabatan antara ayah dan anak ini.
" Hahahaaa, apakah kau lihat itu, itu adalah teknik terbaruku yang telah kusempurnakan selama satu tahun terakhir ini, aku menyebutnya The Sword Eyes - Old Man Slayer, muahahahahaa. "
" Dasar kau bocah sialan, itu harusnya bernama Future Vision, jangan mengubah nama teknik seenak pantatmu, dasar bajingan kecil. "
" Uruslah urusanmu sendiri pak tua, di dunia ini hanya aku yang dapat menggunakan teknik ini sekarang, jadi terserah padaku mau menamainya apa, kau tidak berhak melarangku bahkan jika aku tidak memberikannya nama sama sekali. "
__ADS_1
" Itu jauh lebih baik dari pada nama sialan yang kau berikan sebelumnya idiot. "