Tahta Perak

Tahta Perak
Vampire


__ADS_3

Setelah Evan sampai di kamarnya, dia memandang gadis kecil berambut putih yang berdiri sambil menundukkan kepalanya di depan pintu masuk.


" Apa yang kau lakukan disana, cepatlah masuk, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. "


Setelah mendengar suara Evan, Isabell buru-buru masuk kedalam dan duduk dengan menekuk kedua lututnya di lantai.


Mungkin karena dia tahu identitas Evan sebenarnya dan dari kecil dia sudah diajarkan oleh orang tuanya tentang cara menghormati para bangsawan khususnya keluarga Silverash, dia jadi agak gugup bertemu dengan Evan sendirian.


Dan Evan sendiri yang melihat tingkah laku menggemaskan gadis kecil itu merasa cukup terhibur, tapi saat dia mengingat apa yang telah dialami gadis yang dua tahun lebih muda darinya ini, dia tidak bisa tidak menghela nafas panjang.


" Tenanglah Isabell, tidak perlu bersikap terlalu formal begitu, aku lebih suka Isabell yang tersenyum cerita saat kita pertama bertemu. "


Meskipun Evan telah mencoba membuatnya lebih tenang dan santai, tapi sepertinya dia tidak mendengarkan bujukan Evan sama sekali, dia tetap duduk diam disana sambil memandangi kedua lutut kurusnya.


" Sigh... pertama-tama aku ingin minta maaf atas yang terjadi dengan orang tuamu, sebagai pemilik tanah ini, aku sebenarnya juga patut disalahkan karena membiarkan para Penyihir Hitam itu masuk ke wilayahku hingga menyebabkan hilangnya banyak nyawa termasuk kedua orang tuamu. "


" Tidak Yang Mulia, semua ini bukan salah anda, ini semua salahku karena telah menarik perhatian orang-orang jahat itu sehingga melibatkan orang tuaku.. hiks... akulah yang harus disalahkan disini. "


" Sigh... itu juga bukan salahmu, hanya keberuntunganmu saja yang cukup buruk, menangislah jika itu memang membuatmu merasa lebih baik, jika aku mengalami hal yang sama dengamu, mungkin aku juga akan menangis untuk melampiaskan emosiku. "


" Hiks...hiks... tidak Yang Mulia, orang tuaku pernah berkata jika aku menangisi kepergian orang yang kusayangi, mereka tidak akan merasa bahagia di tempat tinggal baru mereka, jadi aku tidak akan menangis agar orang tuaku bisa bahagia dia sana.. hiks... "


Meskipun Isabell mengatakan hal itu, tapi dia masih tidak bisa menahan air mata yang terus mengalir ke pipinya, hal ini membuat Evan yang ada di depannya dibuat bingung harus berkata apa.


Akhirnya setelah beberapa saat ragu-ragu, dia mendekati Isabell dan memeluknya dengan erat sambil menepuk-nepuk punggung.


Dia ingat saat dia menangis dulu, ibunya sering melakukan hal ini untuk membuatnya lebih baik, jadi dia mencoba melalukan hal yang sama pada Isabella.

__ADS_1


Dan ternyata efeknya lumayan bagus, setelah Evan memeluknya, isabell balas memeluknya lebih erat dan mulai menangis dengan keras, ternyata pelukan Evan juga mengingatkan Isabell pada ibunya hingga membuatnya dia tidak bisa lagi menahan emosinya.


Adegan dramatis ini berlangsung cukup lama dan hanya berhenti setelah bahu kanan Evan telah basah kuyup karena air mata isabell dan setelah menunggu beberapa saat lagi agar Isabell dapat sedikit menenangkan dirinya, Evan akhirnya membahas topik utama.


" Jadi Isabell, apakah kau punya rencana di masa depan ? "


" Hiks...aku akan menjaga makam kedua orang tuaku disini selamanya. "


" Uhm... aku ingin membiarkanmu melakukan hal itu juga, tapi sayangnya itu tidak mungkin, kau tahu sendiri bagaimana kondisi tubuhmu dari Penyihir Hitam itu, jika kau terus-terusan tinggi di desa ini, akan ada banyak nyawa yang hilang. "


" ... "


Setelah mendengar perkataan Evan, Isabell kembali terdiam dan menundukkan kepalanya kebawah sekali lagi.


" Isabell, bukannya aku tidak mau membiarkanmu mengurus makam orang tuamu, tapi jika kondisi tubuhmu tidak dikendalikan, maka lama kelamaan kau juga akan menjadi seperti Penyihir Hitam itu atau bahkan lebih buruk. "


" Sigh..., kalau begitu ayo kita coba sesuatu, jika kau berhasil melewati tes ini, aku akan membiarkanmu tinggal disini dan merawat makam orang tuamu, bagaimana, apa kau setuju ? "


" Apakah anda yakin Yang Mulia ? "


" Tentu, aku tidak pernah menarik kembali kata-kataku. "


" Baiklah kalau begitu, aku setuju. "


" Hoho, ayo kita mulai kalau begitu. "


Tiba-tiba Evan mengeluarkan sebuah belati dari Blue Rose Ring dan membuat sayatan kecil di telapak tangan kirinya hingga meneteskan cukup banyak darah merah cerah.

__ADS_1


Saat Isabell melihat hal itu, reaksi pertamanya adalah terkejut, tapi lama-kelamaan entah kenapa dia merasa sangat haus.


" Apa kau merasa haus sekarang, ini minumlah. "


Kali ini Evan mengeluarkan teko penuh berisi air putih dan dua buah gelas yang terbuat dari kaca, gelas pertama dia isi air yang ada di dalam teko sedangakan gelas kedua dia isi dengan darah yang menetes dari telapak tangannya.


Saat Isabell melihat hal itu dia segera mengambil gelas berisi air itu dan meminumnya dalam satu kali nafas, setelah meminum air itu dia menyadari bahwa rasa haus yang dia rasakan tidak berkurang sama sekali.


Akhirnya dia dengan malu-malu meminta Evan untuk satu gelas air lagi dan meminumnya dengan cara yang sama seperti sebelumnya, tapi rasa hausnya tidak juga menghilang bahkan dia juga menyadari seiring berlalunya waktu, rasa hausnya menjadi semakin kuat.


Hal ini membuatnya menjadi sangat panik dan tanpa sadar dia merebut teko yang ada di tangan Evan kemudian meminum semua air yang ada di dalamnya.


Setelah menghabiskan seluruh sisa air yang ada di teko itu, rasa hausnya bahkan tidak berkurang sedikitpun, akhirnya setelah beberapa saat Isabell menatap Evan dengan mata merahnya yang indah seperti batu ruby dan bertanya sesuatu dengan sangat panik dan gugup.


" Ya-Yang Mulia, a-apa yang sebenarnya terjadi padaku ? "


Tapi Evan sepenuhnya mengabaikannya dan terus menatap dirinya dengan pandangan yang sangat aneh.


Sebenarnya tidak heran jika Evan menatap Isabell dengan aneh, karena saat ini penampilan Isabell sangat berbeda dengan sebelumnya dan mungkin Isabell sendiri bahkan belum menyadarinya.


Kuku-kuku jarinya yang semula dipotong pendek dan rapi sekarang mulai memanjang dengan sendirinya, kedua matanya saat ini memancarkan cahaya merah terang dan saat dia membuka mulutnya, terlihat bahwa gigi taringnya juga tumbuh jauh lebih panjang dari pada yang ada di manusia pada umumnya.


Evan sendiri cukup terkejut saat melihat hal ini karena ini juga pertama kali baginya melihat proses transformasi manusia menjadi Vampire, tapi keterkejutannya tidak bertahan lama, saat dia menyadari bahwa Isabell saat ini cukup menderita, dia buru-buru mengambil gelas yang telah dia isi dengan darahnya sendiri hingga setengah penuh dan mengulurkannya pada Isabell.


" Minumlah, ini akan membuatmu menjadi lebih baik. "


Tapi kali ini, Isabell sepertinya tidak berniat untuk mengambil gelas yang ditawarkan Evan, dia sepertinya masih berusaha keras untuk mempertahankan kesadaran manusianya dengan cara meringkuk di lantai sambil memegangi tenggorokannya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2