
Di pinggiran jalan utama kota Aurum, setiap beberapa meter, akan terlihat sebuah pohon besar yang sengaja ditanam untuk membuat pemandangan di sekitar kota terlihat lebih hidup dan alami.
Sebenarnya ada banyak fungsi pohon-pohon ini, selain berguna untuk membuat pemandangan dan udara lebih segar, pohon ini juga sering dijadikan tempat berteduh dan istirahat bagi para warga kota atau pengunjung yang sering melintasi jalan ini.
Jadi para pejabat kota Aurum memutuskan untuk membuat beberapa bangku di bawah pohon itu agar orang-orang lebih nyaman saat sedang berteduh atau beristirahat.
Tapi siapapun pasti tidak akan menyangka bahwa saat ini, Tuan Muda kedua keluarga Silverash, Evan Silverash, akan duduk dengan lemas dan tak berdaya di bawah naungan pohon ini.
Evan saat ini sedang duduk di trotoar jalan dengan kaki terlentang dan punggung bersandar di batang pohon.
Dia tidak memilih untuk duduk di bangku yang telah disediakan karena ada pasangan yang sedang bermesraan duduk di bangku itu dan jaraknya dengan bangku lain terlalu jauh sehingga dia lebih memilih tempatnya saat ini.
[ Sialan, tidak kusangka akan jadi seperti ini, karena Mana, Aura dan bahkan Star Energy yang ada di dalam tubuhku telah habis sepenuhnya, luka-luka yang kudapatkan saat melawan penjaga reruntuhan itu tidak dapat sembuh secara normal melainkan semakin memburuk, selain itu tubuh fisik dan mentalku juga telah sampai pada batasnya, saat ini aku bahkan tidak dapat mengontrol Soul Energyku dengan benar. ]
Plok... plok... plok...
Saat Evan sedang memeriksa kondisi tubuhnya sendiri, tiba-tiba dia dikejutkan dengan sebuah suara langkah kaki yang perlahan mendekat kearahnya.
Segera dia dengan sekuat tenaga menyebarkan Soul Energynya dengan semua kekuatan yang tersisa dan mencoba memahami apa yang terjadi.
Dan apa yang dia lihat saat ini adalah seorang anak perempuan berusia sekitar 5 - 6 tahun sedang berdiri di depannya dengan ekspresi kasihan terpampang jelas di wajahnya.
" Uhmm... apa kau tidak apa-apa ? "
Gadis kecil itu bertanya dengan suara yang lembut dan manis.
" Hmmm, aku baik-baik saja, apakah kau membutuhkan sesuatu gadis muda ? "
" Hehe... baguslah jika kau tidak apa-apa, sebenarnya aku baru saja pulang berbelanja dengan ayah dan ibu, tapi aku tidak sengaja melihat kondisimu yang kurang baik.
Ibu pernah berkata bahwa jika ada orang lain yang dalam kesulitan, kita harus saling membantu, apakah kau butuh bantuan, tuan pengemis ? "
Ketika Evan mendengar sebutan yang diucapkan gadis kecil itu padanya, mulutnya berkedut beberapa kali sebelum dia menjawab dengan lemah.
__ADS_1
" Tidak perlu gadis muda, aku hanya perlu istirahat beberapa saat dan akan sembuh dengan sendirinya, jadi kau tidak perlu khawatir. "
" Benarkah, baik-baik saja kalau begitu, umh... "
Setelah mendengar jawaban Evan, gadis itu menghela nafas lega dan kemudian memasukkan tangan kanannya kedalam kantong celananya seolah sedang mencari sesuatu.
Tak lama kemudian, gadis itu menarik tangannya kembali bersama dengan 1 koin tembaga tambahan di genggamannya, seolah tidak puas dengan apa yang dia dapatkan, gadis itu segera mencari di seluruh kantong yang ada di pakaiannya tapi tetap tidak menemukan apapun.
" Tuan pengemis, aku hanya punya ini denganku, aku harap kau menerimanya. "
Kata gadis itu dengan suara kecil dan sedikit malu-malu.
" Hehehee, kau gadis yang baik, siapa namamu ? "
" Namaku adalah Sherly. "
" Baiklah Sherly, karena kau memberikan koin tembagamu yang berharga, tuan pengemis ini tentu harus memberikanmu sesuatu sebagai gantinya. "
Tapi yang membuat Evan sedikit terkejut adalah gadis kecil itu menolak pemberiannya.
" Tidak perlu tuan pengemis, kau bisa mengambilnya untuk dirimu sendiri, ibuku pernah berkata bahwa jika kita ingin membantu seseorang, kita harus melakukannya dengan sukarela dan tidak boleh mengharapkan balasan apapun. "
" Pfttt... hahahaa. "
" Mengapa kau tertawa tuan pengemis, apakah ada yang lucu dari kata-kata yang kuucapkan. "
" Hehehee, tidak ada, sebenarnya kotak ini tidak banyak berguna untukku, ini adalah pemberian berharga dari satu-satunya sahabatku, tapi karena aku tidak dapat melihat, aku bahkan tidak tahu hal apa yang ada di dalam kotak ini.
Aku tidak mau sesuatu yang diberikan oleh sahabatku akan selamanya berada di dalam kotak ini tanpa ada yang menggunakannya, jadi jauh lebih baik kuberikan kepadamu dan kuharap kau bisa menggunakannya dengan baik. "
" Hmmm... baik kalau begitu, aku akan menerimanya. "
" Tapi ingat, hanya buka kotak ini jika kau sampai dirumah dan jangan biarkan orang lain melihat isi kotak ini selain orang tuamu. "
__ADS_1
" Baik tuan pengemis dan juga terimakasih, ayah dan ibuku sudah menunggu, jadi sampai jumpa lain kali. "
" Jangan lupa apa yang kukatakan tadi. "
" ... "
" Sigh... tuan pengemis kah... apakah aku terlihat sekotor itu. "
Setelah menerima kotak kayu Evan, gadis kecil itu pergi berlari dengan tergesa-gesa menuju sepasang laki-laki dan perempuan muda berumur sekitar 25 tahunan yang sedang mengawasinya dengan senyum lebut terpasang di bibir mereka.
Evan yang melihat hal itu juga mengeluarkan senyum tipis di bibirnya, tapi senyum itu tak bertahan lama.
Cling...
Tiba-tiba ada sebuah suara koin yang jatuh tepat di depan tubuhnya dan saat dia menggunakan Soul Energy sekali lagi untuk melihat, ternyata itu adalah seorang pria paru baya yang melemparkan sebuah koin tembaga di dekatnya dengan ekspresi kasihan yang sama persis seperti gadis kecil sebelumnya.
Setelah pria itu pergi, Evan ragu-ragu sejenak sebelum mengambil koin yang dilemparkan pria itu.
" Heeeee... sepertinya tidak hanya bakat Ksatriaku saja yang sangat tinggi, siapa sangka aku memiliki bakat tersembunyi lainnya.
Lagipula ini bukanlah hal yang buruk, jika suatu hari tiba-tiba keluarga Silverash jatuh miskin, setidaknya aku tidak akan kelaparan di pinggir jalan. "
Setelah Evan menggumamkan sesuatu yang hampir mustahil untuk terjadi, dia melepas mantel hitam yang dia kenakan dan menggulungnya sedemikian rupa hingga membentuk menyerupai sebuah mangkuk, kemudian dia menaruh dua koin tembaga yang dia dapatkan sebelumnya di dalam mangkuk itu.
Setelah merasa semuanya beres, Evan membaringkan tubuhnya di trotoar dalam posisi meringkuk seperti bola dan mulai tertidur.
Cling... cling... cling...
Bersamaan dengan itu, suara gemerincing koin terus terdengar dari waktu ke waktu yang berasal dari mangkuk yang ada di depannya.
Tapi hal ini tidak berlangsung lama, beberapa saat kemudian ada sebuah kereta kuda mewah yang dikawal oleh beberapa penjaga kota berarmor perak melaju dengan kecepatan tinggi tapi tiba-tiba berhenti di pinggir jalan tidak jauh dari tempat Evan tertidur.
Segera pintu kereta itu terbuka dan memperlihatkan dua orang gadis yang sangat cantik berjalan perlahan keluar dari kereta menuju tempat Evan saat ini tertidur.
__ADS_1