
Seperti biasa tak ada hari tanpa kesibukan bagi Alonso dan Ailyn. Sedangkan Anita belum menunjukkan tanda-tanda, bahkan seolah kini dirinya terlihat bertaubat. Alonso pun curiga dengan tingkah Anita yg tiba-tiba bertaubat setelah hampir menyerangnya.
Menurut laporan anak buahnya, kini Anita sudah tak terlihat glamor lagi. Dirinya juga sering mengunjungi tempat ibadah dan juga yayasan sosial lainnya. Hal yg cukup membuat Alonso tak percaya, dimana wanita iblis itu tiba-tiba berubah.
Sementara Ailyn, dirinya juga diam-diam mengawasi gerak-gerik ibu tirinya tersebut. Nampak aneh karena tiba-tiba berubah dan bertaubat. Karena rasanya tidak mungkin orang yg jahat seperti Anita tiba-tiba bertaubat.
Ailyn pun sesekali memeriksa Jini saudari tirinya lewat kenalannya. Dan nampak Jini semakin hari auranya semakin dingin. Terlihat juga dendam dan amarah di matanya. Ailyn pun tahu Jini pasti akan begitu dan memungkin akan membalas dendam padanya setelah keluar dari penjara.
Sementara Jane, hidupnya penuh warna dengan menikahi Juno. Mereka hidup bahagia dengan anak mereka. Ailyn pun menilai, kalau ini adalah pengaruh baik dari Juno dan keluarganya. Setidaknya musuhnya berkurang satu karena dengan memiliki anak pastinya Jane takkan berani menyentuhnya.
Namun, yg jadi masalah besar adalah Anita yg kini hidupnya bebas. Kedua anaknya sudah lepas dari pengawasannya. Jini berada di penjara dan Jane sudah menikah. Pastinya wanita gila itu bisa dengan mudahnya merencanakan sesuatu. Terlebih lagi menurut informasi dari Alonso, Anita memiliki dana taktis perusahaannya.
"Apa rencana nenek sihir itu kali ini? beepura-pura bertobat?? rasanya mustahil.. dia pasti sedang menyamar menjadi orang baik." gumam Ailyn dalam hati.
Dan anehnya lagi Alonso kini sudah tidak pernah memberi Ailyn tugas lagi. Ailyn pun menikmati masa liburannya karena tak harus menuruti kemauan Alonso. Walau begitu, Ailyn tetap harus merasa waspada jika Alonso tiba-tiba membuangnya.
Hari demi hari pun berlalu, baik Ailyn dan Alonso terlalu sibuk untuk saling bicara dan menyapa. Ailyn yg jarang ada di rumah, sementara Alonso juga sibuk dengan pekerjaan dan sesi konsultasinya dengan dr.Kevin.
.
.
Seperti biasa Alonso mulai rutin menemui dr.Kevin. Dan pria itu masih harus menyembuhkan traumanya tersebut.
"dr.Kevin.. bisakah anda serius dengan pengobatan ini?" tanya Alonso.
"Memangnya kata siapa aku main-main? tuan Alonso aku sudah bilang kan untuk berdamai dengan masa lalu." ucap dr.Kevin
"Kalau aku tak bisa bagaimana." balas Alonso.
"Artinya kau akan terus menderita." ucap dr.Kevin.
"Sia-sia aku datang padamu." ucap Alonso.
"Ya kau bisa cari dokter lain.. karena aku tak keberatan." ucap dr.Kevin.
Alonso pun gagal dalam pengobatannya kali ini. Meski sudah sekian kalinya Alonso gagal, dan kali ini pun gagal ini. Alonso yg sudah menyerah akan nasibnya pun hanya bisa menerima semua takdirnya. Sebelum bertemu dr.Kevin, Alonso pun sudah berkonsultasi dengan banyak dokter yg hasilnya nihil.
Sedangkan dengan dr.Kevin Alonso mulai ada kemajuan dan obat-obatannya juga efektif membuatnya bisa tidur. Tapi sayang obat-obatan itu tak bisa setiap hari dikonsumsi, yg artinya ada batasan dalam mengkonsumsinya.
Alonso pun menyiasatinya dengan bekerja hingga tubuhnya lelah. Tak ada jaminan baginya bisa sembuh. Sedangkan berdamai dengan masa lalu nampaknya terlalu berat dan tidak adil untuk segala yg pernah Alonso alami. Bahkan kini Alonso hidup sebatang kara dengan semua harta peninggalan orangtuanya.
"Tak ada cara lain selain membuat Ailyn bertahan selamanya disisiku." gumam Alonso dalam hati.
__ADS_1
.
.
.
Sementara itu Ailyn disela-sela pekerjaannya dirinya sedang mempelajari tentang trauma dari sebuah buku dan beberapa situs di internet. Beberapa traumanya biasanya sangat menyakitkan hingga tak bisa dilupakan penderitanya. Ailyn pun tak tahu kejadian apa yg menimpa Alonso di masa lalu. Terlebih tak ada keluarga ataupun pelayan yg melayani keluarga Alonso yg masih bekerja di rumahnya. Semua pelayan dan pekerja adalah orang-orang baru dan tak tahu tentang asal usul keluarga Alonso.
Saat sedang membaca buku, Leon pun memperhatikan Ailyn dengan seksama. Dan Ailyn tahu kalau sedang diawasi.
"Ada apa kapt?" tanya Ailyn menghentikan kegiatan membacanya.
"Instingmu memang luar biasa, tapi aku hanya penasaran dengan apa yg kau baca." ucap Leon.
"Oh, ini tentang gejala trauma." ucap Ailyn.
"Apa kau memiliki trauma atau butuh konsultasi?" tanya Leon.
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja.. Soal trauma aku rasa sesakit apapun yg pernah kualami aku tak mau mengingatnya lagi." ucap Ailyn.
"Ya.. baguslah, karena itulah kau bisa berada disini.. kita bahkan tak bisa menunjukkan kekurangan saat dalam bertugas." ucap Leon.
"Ya kapt, itu sangat berbahaya." ucap Ailyn.
"Kapt apa kau punya kenalan yg tahu banyak soal kondisi psikis seseorang?" tanya Ailyn.
"Ada, tapi siapa orang yg sedang kau khawatirkan?" tanya Leon.
"Tidak ada, aku hanya penasaran saja." ucap Ailyn.
"Ya nanti aku beritahu kontaknya.." ucap Leon.
Leon pun berpikir Ailyn tak ingin jujur apa masalah yg sedang dialaminya. Atau mungkin Ailyn tak ingin mempermalukan orang yg ingin ia bantu. Jadi Leon pun tak ingin tahu lebih dalam. Walau dalam hatinya Leon begitu penasaran.
"Lebih baik aku tak tahu apapu .." gumam Leon dalam hati.
.
.
Akhirnya Ailyn bisa pulang lebih awal. Dan dirinya juga ingin memasak makanan sendiri. Walaupun pelayan sudah melarangnya tapi Ailyn tetap memaksa dan mengusir mereka pergi.
"Kalian minggirlah.. aku takkan mati jika hanya memasak." ucap Ailyn.
__ADS_1
"Tapi nyonya.."
"Sudah pergi.." ucap Ailyn.
Mereka pun akhirnya mengalah walau masih memperhatikan Ailyn memasak. Dan Ailyn membiarkan mereka karena sangat merepotkan jika mengusir mereka. Asalkan mereka hanya memperhatikan tanpa mengganggunya itu sudah cukup baginya.
Di saat yg sama, Alonso juga pulang lebih awal. Dan pelayan memberitahu Alonso kalau istrinya memaksa untuk memasak makanan. Alonso pun menghampirinya di dapur dan melihat Ailyn memasak.
"Ai sedang apa?" tanya Alonso.
"Kalau didapur pastinya memasak.." balas Ailyn.
"Ya aku tahu, tapi bukankah sudah ada pelayan yg bisa kau mintai tolong." ucap Alonso.
Ailyn pun mengambil pisau dan memotong sayuran dengan cepat membuat Alonso menelan salivanya dengan susah.
Tak..tak..tak..takk.taakk...takkkkkk..
"Sudah lihat kan? aku bisa memasak." ucap Ailyn.
"Oke.. silahkan." ucap Alonso.
Alonso pun memgalah dan memilih ke kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya. Walau ia tahu Ailyn bisa memasak tapi tetap saja Alonso tak ingin membebani Ailyn pekerjaan.
Tak berapa lama Ailyn pun sudah selesai dengan masakannya. Ailyn juga meminta pelayan untuk mencicipinya dan mendapat pujian jujur dari ekspresi mereka.
"Wah nyonya ternyata pandai memasak.. tuan pasti makin mencintai anda." puji seorang pelayan.
"Terimakasih.." ucap Ailyn tak percaya apa yg ia dengar.
"Makin mencintaiku?? orang itu saja tak percaya pada cinta.. " gumam Ailyn dalam hati.
Ailyn pun menata makanan di atas meja dibantu beberapa pelayan, kemudian tak lama Alonso turun untuk makan.
"Ini semua buatanmu?" tanya Alonso.
"Iya.. tapi kalau kau tak suka jangan dimakan." ucap Ailyn.
"Aku takkan tahu jika belum mencobanya. " ucap Alonso.
"Silahkan saja.." ucap Ailyn.
Alonso pun menikmati lagi masakan buatan Ailyn. Masakan yg berbeda dari para pelayan. Dan Alonso sangat menyukainya. Tak ada makanan yg tersisa di atas meja menandakan kalau masakan tersebut sangat lezat.
__ADS_1