
Jery pun menyimpan alat penyadap yg diberikan oleh Tom. Dan dirinya sudah memastikan cara penggunaannya benar sesuai perintah Tom. Lalu, dirinya pun hanya tinggal menunggu jam pulang kantor.
Setelah jam pulang kantor, Jery pun menuju ke sebuah kafe yg ditujukan oleh Rafli. Dirinya pun sudah memasang alat penyadap tersebut di kantong kemejanya dan dibawah meja.
Jery pun memesan kopi sembari menunggu Rafly. Dirinya berpura-pura mengerjakan tugas kantor dan menunggu pengkhianat itu datang.
Barulah tak lama berselang, Rafli datang. Pria itu pun datang sendirian tanpa ada yg menemaninya. Padahal Jery berharap bisa langsung bertemu dengan orang yg ada di atas Rafli dan memerintahkan pengkhianatan ini. Namun, hanya pria tua itu yg tiba.
Jery pun menyambut kedatangannya dengan senyum dan berbasa-basi. Setelahnya Rafli memesan minuman lalu memulai pembicaraannya. Dari awal nampak Rafli begitu membenci Alonso dan ingin menjatuhkannya. Jery pun penasaran dan mencoba memancing Rafli untuk mengatakan alasannya.
"Alasannya?? dia itu mirip dengan ayahnya yg gila dan kejam." ucap Rafli.
"Memangnya tuan dulu seperti apa? maklum aku kan termasuk angkatan baru." ucap Jery.
"Kau tak tahu seberapa gilanya atasanku dulu.. dia begitu kejam bahkan tega memberiku tugas sulit." ucap Rafli.
"Tapi kenapa anda menyerang tuan Alonso?" tanya Jery bingung.
"Kan sudah kubilang mereka mirip.. terutama wajahnya yg menyebalkan. Sekarang dia sedikit berubah tapi pasti tak ada yg berubah tentang keburukannya."
"Sepertinya ini tentang dendam pribadi anda." ucap Jery.
"Akhirnya kau paham.. dulu aku diminta bertanggungjawab atas semua kejahatannya." ucap Rafli.
"Dan posisimu saat ini adalah bayarannya?" balas Jery.
"Ya.. itu benar." ucap Rafli.
"Lalu apa rencanamu?" tanya Jery.
"Tentu saja menjatuhkan Alonso yg sombong itu."
"Tapi kau tidak sendiri kan dalam bergerak?"
"Tentu saja, aku yg paling tahu tentang perusahaan sebelum anak itu lahir."
"Jadi semua masalah yg terjadi itu ulahmu?" tanya Jery.
"Tidak semua, dan aku punya pendukung dalam hal ini." ucap Rafli.
__ADS_1
"Boleh aku tahu siapa pendukungmu, karena kau tahu kan jika kita salah langkah kita pasti mati." ucap Jery.
"Kau jangan khawatir pendukungku bukan orang sembarangan."
"Jadi siapa dia? kau tahu kan aku punya banyak data." ucap Jery tersenyum.
"Untuk saat ini aku belum bisa mengatakannya." ucap Rafli.
"Jadi kau belum memercayaiku.?" tanya Jery.
"Buktikan dulu kalau kau ingin bergabung denganku."
"Dengan cara apa?" tanya Jery.
"Beritahu aku proposal project S." ucap Rafli.
"Itu mudah.. tapi apa yg kudapatkan?" tanya Jery.
"Jika kau mendapatkannya kau akan mendapat 5% dari hasil project besar itu." ucap Rafli.
"Cukup menguntungkan, dan aku juga bisa membalas si baj***n itu." ucap Jery tersenyum.
Rafli juga lah yg merupakan musuh dalam selimutnya selama ini. Siapa yg menduganya bahwa pria tua itu masih memiliki ambisi untuk membalas dendam. Serta pria tua itu bekerja pada seseorang yg ia anggap pendukungnya yg hebat.
Alonso pun teringat dengan project S yg sedang Jery kerjakan. Alonso juga ingin melihat apa tindakan Jery setelah ini apakah Jery akan benar-benar ikut menusuknya dari belakang atau justru membantunya.
Setelah pertemuan itu, Jery pun secara rahasia menghubungi Tom. Mereka banyak berdiskusi soal masalah project S. Dan Jery punya rencana untuk itu. Sejak awal Jery selalu membuat rencana dua rencana, dan yg disetujui oleh Alonso adalah rencananya yg pertama.
Tapi Jery akan memberikan rencana keduanya untuk Rafli. Atau lebih jelasnya Jery memberikan proposal cadangannya pad Rafli, tapi dirinya butuh tanda tangan Alonso sebagai bukti.
Disinilah Jery meminta bantuan Tom untuk tandatangan Alonso. Untungnya Tom segera membantunya dan Jery memberikan proposal cadangannya pada Rafli. Sementara Alonso tetap pada proposal yg ia pilih.
Setelah semuanya rapi, Jery pun menyerahkannya pada Rafli. Rafli pun sangat senang pada kinerja Jery. Dan dirinya akan mempercayai Jery untuk kerjasama seterusnya.
Rafli pun menyerahkan proposalnya pada atasannya atau orang yg ia sebut pendukungnya selama ini. Seorang wanita tua yg memiliki ambisi gila.
"Rafli kau hebat."
"Tentu nyonya.. aku punya mata-mata yg luar biasa." ucap Rafli.
__ADS_1
"Jika project ini sukses, aku takkan melupakanmu dan Alonso perlahan-lahan akan hancur." ucapnya..
"Tentu nyonya itulah yg kuinginkan." ucap Rafli.
Setelah menyerahkan proposal tersebut, Rafli pun bahagia dan menganggap semuanya akan usai. Dirinya masih berpikir kalau Alonso akan jatuh dengan cepat.
.
.
Sementara itu, Alonso tengah menunggu momen yg tepat untuk menjatuhkan Rafli beserta ide gilanya. Tom pun selalu melaporkan hasil temuan Jery selama menjadi mata-mata Rafli. Banyak data mengenai karyawan yg berada di bawah Rafli. Dan mengenai aliran dana yg mengalir secara tidak jelas ke salah satu rekening.
Alonso pun tersenyum puas pada hasil pekerjaan Jery. Dirinya tak menyangka kalau Jery berbakat dalam mencari informasi dan menjadi agen ganda.
"Jery ternyata kau harus didorong ke jurang dulu baru kau bisa membuktikan segalanya.." gumam Alonso dalam hati.
Hari demi hari pun berlalu, dan kini akhirnya diadakan rapat mengenai project S tersebut. Rafli pun tersenyum puas karena pasti project tersebut akan gagal. Dirinya berpikir perusahaan milik atasannya yg sudah lebih dulu mengeluarkan ide tersebut jadi proposal itu pastilah takkan berjalan lancar.
Alonso juga sengaja membahas project cadangan yg sudah diketahui oleh musuhnya. Beberapa stafnya yg setia padanya pun menjelaskan kalau project itu sedang dikerjakan oleh pesaing mereka.
"Benarkah? ternyata infonya sudah bocor ya." ucap Alonso.
"Bagaimana ini tuan? kita pasti akan kalah kalau tetap memaksa." ucap Rafli.
"Baiklah, untungnya aku selalu punya rencana cadangan." ucap Alonso.
Rafli pun teekejut dan tak menyangka akan hal itu. Bagaimana bisa Alonso mengganti rencananya dalam waktu singkat. Dan keluarlah Tom membawa rancangan barunya.
"Ini adalah solusi dari masalah kita." ucap Alonso.
Dan seketika semua stafnya pun lega karena hampir saja mereka dikalahkan oleh pesaingnya. Semua orang pun mendukung rencana Alonso tersebut. Dan mereka siap bekerja lembur demi suksesnya rencana itu.
Sementara Rafli, dirinya berpura-pura mendukung Alonso dan mengutarakan pendapatnya. Sementara Alonso hanya tersenyum dan tahu keburukan sifat pria tua itu.
"Dasar ular berkepala dua." umpat Alonso dalam hati.
Setelah keluar dari ruangan pun nampak Rafli sangat kecewa pada hasilnya. Dirinya mengira kalau akan sukses besar kali ini. Tapi nyatanya pria yg ia benci itu punya banyak akal untuk menghindar dan melawan.
"Dasar Alonso kurang ajar..!! kau harusnya sepakati saja proposal buatan Jery.." gerutu Rafli dalam hati.
__ADS_1