
"Bukankah aku keluar dari sana. Dimana goanya ?"
Merasakan keanehan kembali Neil hanya mematung, pikirannya benar benar tertekan sangat dalam.
Sementara harimau penjaga sedang menontonnya dengan tatapan tidak percaya. Menurutnya ini pertama kalinya dia menemukam orang yang paling bodoh.
"Bagaimana mungkin ada manusia seperti itu. Apakah aku terlalu lama tidur di dalam goa". Harimau juga mendapatkan tekanan mental yang sangat berat.
Sudah hal yang wajar kalau tempat khusus dilindungi dengan array, tapi melihat pemuda yang berkali kali mengucek ucek matanya karena merasa pandangannya telah tertipu, tanpa sadar harimau penjaga mengaum dengan sangat kerasnya.
Beruntung goa itu terlindung, jika tidak Neil pasti sudah pingsan bahkan mati karena aumannya. Goa terlindungi oleh array yang dibangun oleh pemilik makam untuk melindungi warisannya.
Mencium aroma tubuhnya, Neil tersadar bahwa dia harus segera menemukan air. Sudah beberapa hari dia tidak mandi. Dia juga perlu mendapatkan stock air untuk menjamin keberlangsungan hidupnya.
Tidak ingin terbawa pikiran yang tidak tidak, Neil berulang kali meyakinkan hatinya bahwa apa yang telah terjadi hanya kebohongan. Menolak semua yang terjadi beberapa hari ini.
Dengan semangat baru, Neil berniat menyelusuri hutan mencari jalan keluar.
"Kanan, depan atau kiri". Neil bergumam memilih jalan. Tapi akhirnya dia memilih berjalan ke depan.
"Jalan saja kedepan". Tanpa Neil sadari, dia berjalan menuju ke lapisan hutan ketiga.
Tentu saja harimau penjaga yang sengaja membiarkan Neil untuk kembali mengikutinya dari belakang dengan tidak terlihat agar bisa mengetahui identitas Neil yang sebenarnya.
Jika si harimau tahu bahwa itu hanyalah usaha yang sia sia, dia pasti sudah menginterogasinya.
Belum lama Neil melangkah, dia sudah mendengar suara suara berbagai binatang hutan. Neil masih menganggapnya wajar karena ia sedang berada dihutan. Dia sedikit lupa dengan kemampuan indera pendengarannya yang sudah meningkat.
__ADS_1
"Aku lupa kalau aku sedang dihutan. Bagaimana kalau ada macan lagi atau binatang buas lainnya. Sepertinya aku perlu senjata untuk berjaga jaga". Neil mencari kayu untuk melindungi dirinya dari binatang buas.
Tidak lama setelah Neil menemukan tongkat kayu yang sedikit runcing dikedua ujungnya Neil bertingkah seperti kera yang sakti dengan 72 ilmu sihir yang pernah ditontonnya di bumi. Harimau yang mengikutinya nampak lebih tertekan.
Hari sudah mulai sore, kini suara binatang buas yang sebelumnya Neil dengar seperti kicauan burung terdengar lebih keras di telinganya seperti sangat dekat. Neil nampak sangat berhati hati.
Seandainya saja harimau tidak meghilangkan auranya, tidak akan ada beast yang mendekati Neil.
"Rooaarrrr.... Rooarrr.. digg dig.. dug".
Suaranya semakin keras, dan Neil terpaksa menyumpal telinganya dengan dedaunan. Tubuhnya gemetar ketakutan. Dia ingin menjerit sekeras kerasnya, tapi khawatir ada binatang yang mendengarnya.
Tepat saat dia ingin lari menjauh, 2 beast yang sedang bertarung melompat diatasnya. Neil yang melihatnya terjatuh lemas dan segera bersembunyi.
"Binatang apa itu. Besar sekali...Monsterrr".... Roarr...
"Bukankah...tidak, apakah aku ada di jaman purba..." Neil benar benar gemetar hebat. Pikirannya sudah kemana mana. Mentalnya benar benar ditekan sampai kempes.
Hutan yang sebelumnya damai kini sangat kau. Pertarungan monster ada di depan matanya. Harimau yang melihatnya serasa ingin muntah.
"Duuaagghh....".
Beast model kerbau menyeruduk beast kadal berkaki, membuatnya mundur beberapa meter dan membuat mulutnya mengeluarkan darah segar.
Tidak mau kalah, kadal berkaki menjulur julurkan lidahnya yang membuat minotaur hitam semakin marah. Kehilangan konsentrasi, si kadal melompat dan menghantam minotaur dengan ekornya.
"Kekk kekk kekkk..."
__ADS_1
Melihat bekas cambukan ekornya di wajah si kerbau, si kadal meringis penuh kemenangan. Minotaur yang merasa diejek sangat marah, asap keluar dari hidungnya, siap menerkam kapan sapa saja.
Dia pun maju menyerang, tapi saat si kadal mengayunkan ekornya kembali, minotaur menangkap ekor si kadal dan memutar mutarnya terus menerus.
Neil yang mulai dapat melihat keseluruhan bagian monster, benar benar tertekan. Dia melihat wajah minotaur dan si kadal berkaki yang sangat menakutkan.
Seluruh tubuhnya benar benar tidak dapat bergerak yang disebabkan rasa takut yang luar biasa. Dia bahkan sudah siap mati jika salah satu beast itu menyerangnya.
Beruntung jubah yang dipakai menutupi seluruh tubuhnya. Masih lebih baik walaupun masih bisa dideteksi oleh binatang buas.
Sementara si harimau yang sudah mulai bosan melihat pertarungan 2 binatang bodoh di depannya mulai menguap. Setidaknya sudah mendapatkan hiburan setelah mendapatkan tekanan berat dari Neil. Dia mengeluarkan sedikit auranya untuk mengusir para pengganggu.
Kerbau dan kadal yang merasakan aura membunuh dari harimau langsung menciut. Ayunan tangannya pada si kadal langsung terlepas dan segera lari melarikan diri.
Sementara si kadal yang jatuh menghantam tanah, berlari menabrak pohon kesana kemari karena kepalanya yang sangat pusing.
"Ehh... Brruuukkkk".
Neil yang hampir tertabrak kadal raksasa, terjatuh kesamping hingga mukanya menghantam akar pohon karena mencoba menahan jatuh dengan tangannya.
Merasakan sakit di dahi dan hidungnya Neil menangis dalam diam.
"Ayah.. bunda.. aku mau pulang... Aku akan patuh... Ya sangat patuh". Neil merindukan rumah dan keuarganya.
Air matanya keluar lagi dengan terisak isak. Dia benar benar berada dalam situasi terburuk selama dalam hidupnya.
Sampai malam tiba, Neil masih terbaring ditempat dia jatuh. Melihat kanan kiri hanya terdapat pepohonan tinggi dan rindang, Neil menarik nafas berat merenungi nasibnya.
__ADS_1
Dia mengingat ingat semua dosanya di bumi. Menahan beben berat di pikirannya, Neil perlahan memejamkan matanya.