
"Ting Ting Ting". Suara pemberitahuan dari pihak akademi masuk ke dalam token yang telah diberikan sebelumnya pada peserta yang lulus seleksi untuk masuk ke asramanya masing masing.
"1 A". Seru Lien yang telah membaca pemberitahuan yang masuk ke tokennya. Penasaran dengan kelas Sam, Lien bertanya dengan antusias. "Kau masuk kelas berapa Sam ?"
"Sama, 1 A".
"Aku sudah menduganya. Kita pasti 1 kelas. Kita duduk bersama nanti !"
"Ehh, bukannya satu meja satu kursi ?"
"Begitu... kalau begitu kita duduk bersebelahan !"
"Tentu saja. Jika aku kesulitan, mohon bantuannya ?" Canda Sam pada Lien.
"Apa kau mengejekku ?"
"Tidak. Aku memang tidak pandai dalam pelajaran. Kau kan tahu itu ?"
"Hmm... aku juga mohon bantuannya ?"
"Ehh, sepertinya kita sama sama tidak pandai pelajaran.."
Mengakhiri obrolannya, mereka berdua tertawa terbahak bahak hingga lupa telah memilih jalan yang salah.
"Kita dimana ?" Tanya Sam kebingungan sambil mengambil peta akademi
"Aku juga tidak tahu. Jalan saja ke depan. Nanti juga ketemu jalannya".
"Apa kau yakin. Mungkin kita sebaiknya melihat peta !"
"Sangat yakin. Kita kan masih di akademi. Tidak akan kemana mana ?"
"Aku harap kita tidak tersesat ke tempat yang salah".
"Ting Ting Ting". Suara pemberitahuan kembali berbunyi.
"Isi data pribadi berikut". Sebuah proyeksi seperti kertas formulir muncul dari token masing masing setelah pemberitahuan dibaca.
Tidak hanya Sam dan Lien yang mendapatkan formulir sihir. Semua peserta ujian yang lolos kemarin juga mendapatkannya. Mereka juga sudah mengetahui kelasnya masing masing
Setelah mengisi data, mereka diminta untuk ke ruang administrasi guna pengambilan seragam sekolah dan beberapa peralatan sihir lainnya. Sam dan Lien yang sedang tersesat masih mencari jalan ke ruang administrasi.
"Apa kau bisa sihir pendeteksi lokasi Lien ?" Tanya Sam yang sedang melihat peta kertas ditangannya.
__ADS_1
"Tidak, bukankah kakek belum mengajarinya. Bagaimana kalau telepati, apa kau sudah menguasainya Sam ?"
"Tidak, aku belum menguasainya. Kalau kau mengingat lokasi sebelumnya, kita bisa teleportasi kesana ?"
"Jalan disini membuatku pusing".
Ini karena kau tidak mau melihat peta sebelumnya. Kita jadi tersesat semakin jauh".
"Mana aku tahu kalau akademi ternyata sangat luas. Dan lagi jalanan tidak ada orang satupun ?".
Mengambil nafas panjang Sam memutuskan. "Kembali ke rencana sebelumnya. Jalan lurus saja kedepan".
Lien yang mendengar kata kata Sam, menatapnya dengan ekspresi orang bingung. Kalau saja dia tahu endingnya akan seperti itu, dirinya tidak perlu berdebat dengan Sam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu ?" Seru Sam.
"Jalan lurus ke depan ".
Mereka berdua kemudian kembali jalan saja ke depan tanpa tahu didepannya ada apa. Melihat lorong panjang yang terasa sama, mereka berdua menarik nafas panjang.
"Disana ada pintu. Ayo kita kesana ?" Seru Lien pada Sam yang dianggukinya.
"Permisi, apakah ada orang didalam ?" Melihat pintu besar didepannya, Sam dan Lien mengetuk pintu.
"Apa ini semua ruangan kosong, kenapa tidak terdengar seorangpun dari dalam". Keluh Lien yang tidak jua menemukan seseorangpu untuk ditanyai.
"Apa yang kalian lakukan disini ?" Sebuah suara terdengar dari kejauhan.
"Akhirnya ada orang juga. Syukurlah..." Sam dan Lien bergegas menemui orang yang menegurnya.
"Maaf kak, kami murid baru disini... Kami sedang tersesat". Jawab Lien dan Sam secara bersama.
"Perlihatkan identitas kalian !" Pinta si wanita pada Sam dan Lien. Mereka pun kemudian memberikan token identitasnya pada si wanita.
Setelah membaca identitasnya, si wanita menasehati mereka berdua. "Akademi sihir sangat luas. Kalau tidak tahu jalan, kalian harus membawa peta".
Sam yang mendengar kata 'peta' kemudian menunjukkan petanya pada si wanita. Si wanita yang melihat Sam membawa peta menepuk jidatnya. Di dalam hatinya dia bergumam. "Sudah membawa peta saja masih tersesat, bagaimana kalau tidak".
Sam yang sepertinya mengerti apa yang dipikirkan oleh si wanita kemudian berujar. "Setelah tersesat, aku baru ingat kalau memiliki peta".
Dengan perkataan Sam, si wanita sedikit merubah pikirannya. "Baiklah. Bukankah kalian ingin pergi ke ruang administrasi. Aku akan mengantar kalian berdua kesana".
Sam dan Lien kemudian diteleportasi oleh si wanita menuju ke ruang administrasi. Sampai disana, ruangan sudah sepi dan hanya ada seorang petugas saja yang berjaga. Si wanita yang membawa Sam dan Lien kemudian menghampiri dan menjelaskannya kepada petugas jaga.
__ADS_1
Setelah mendapatkan penjelasan dari si wanita, petugas jaga memberikan seragam dan perlatan sekolah lainnya pada Sam dan Lien. Si wanita juga mengembalikan token identitas mereka.
"Terima kasih kak". "Terima kasih kakak kakak cantik".
"Jangan tersesat lagi. Gunakan peta yang kalian bawa untuk kembali ke asrama". Tegur si wanita."
"Baik, kak !"
Sam dan Lien mengucapkan rasa terima kasihnya karena telah dibantu. Mereka kemudian meninggalkan ruang administrasi dan kembali ke asramanya masing masing.
Setelah sampai di kamarnya masing masing, Sam dan Lien langsung ditanyai oleh Verzy dan Fahre dari mulai masuk di kelas apa, kenapa tidak ada kabar, kenapa pergi begitu saja, kenapa dan kenapa.
Mereka juga harus mendengar curhatan tentang PDKT-nya dengan Putri Teresta yang membuat keduanya seperti sedang mendengarkan dongeng sebelum tidur. Mengingatkan mereka tentang masa kecilnya.
"Akhirnya aku memakai seragam ini. Ini pas sekali".
"Sepertinya seragamnya bisa menyesuaikan ukuran tubuh kita". Balas Sam yang sedang mengepaskan seragamnya.
"Ohh ya Sam, bagaimana pendapatmu tentang penawaran Putri Teresta ?"
"Penawaran ?".
"Apa kau tadi malam tidak mendengarkanku Sam ?"
"Eee, maaf".
Verzy yang mendengar jawaban Sam menarik nafas beratnya. Dia kemudian menyampaikan kembali penawaran yang disampaikan oleh Putri Teresta.
"Minggu depan Putri menawarkan untuk berlatih bersama".
"Tidak, aku tidak mau !" Sam langsung menolaknya.
"Ayolah Sam, Putri menginginkan kau dan Lien untuk ikut juga". Verzy menarik narik lengan kiri Sam dengan manjanya.
"Tidak !" Sam dengan tegas menolaknya.
"Ayolah". Verzy terus meminta manja pada Sam.
Merasa kesal dengan tingkah Verzy, Sam meninggalkannya dan mulai melangkah ke kelasnya. Verzy yang cemberut mengikutinya dari belakang.
Masuk ke dalam kelasnya, Sam menjadi banyak perhatian para murid yang sudah berada di kelas. Bahkan Putri Teresta juga turut menatapnya. Sam menjadi banyak perhatian karena kemampuannya yang menjadi buah bibir. Apalagi dia merupakan Putra Duke yang memiliki posisi kuat di politik.
Lien yang sudah mengamankan kursi untuk Sam memanggil Sam untuk duduk dikursinya. Tidak ada yang berani untuk merebut kursi yang telah diamankan oleh Lien. Bahkan peserta ujian terbaik kedua juga tidak ingin merebutnya.
__ADS_1
Putri Teresta yang melihat Sam akan duduk dibelakangnya merasa senang. Berbeda denga Putri, Sam malah merasa tidak nyaman. Dia ingin memindah tempat duduknya, tapi dia tidak ingin mengecewakan Lien yang sudah memilihkan tempat duduk untuknya.