
"Yeayy.. hore.. aku bisa bikin api". Seru Sam kegirangan.
"Aku juga bikin api". Lien tak mau kalah.
"Kakek, gimana caranya bikin api".
"Ehmm, lain waktu lagi. Kalian harus berlatih mengontrol mana terlebih dahulu. Dan itu pelajaran berikutnya bersama kakek". Balas Tetua Guo yang masih khawatir cucunya bemain api dan merusak sana sini.
"Yiaah, aku kan mau bikin api". Keluh Sam pada kakeknya.
Tetua Guo yang mendengar keluhan cucunya hanya berdehem. "Ehhemm, sudah. Kalian juga harus istirahat. Masih ada waktu lain lagi".
"Baik.. baik kakek". Sam dan Lien menuruti perintah kakeknya. Mereka sudah diwanti wanti oleh kedua orang tuanya untuk mengikuti arahan dari kakeknya demi kebaikan mereka sendiri.
Terlebih bagi Lien, ini adalah kesempatan terbaiknya untuk menjadi seorang ahli sihir. Walau terasa sebentar, tapi sebenarnya latihan Sam dan Lien sudah cukup lama.
Kondisi Sam dan Lien yang masih 5 tahun perlu disesuaikan kadar latihannya. Jika dipaksakan, khawatir berakibat buruk bagi kesehatan dan mentalnya, karena bagaimanapum mereka masih anak anak.
Sementara di domain sihir, Neil yang sedang menjalani latihan nampak sangat buruk kondisinya. Kedua tangannya penuh dengan darah dan luka luka. Neil yang sudah menembus Level Body II sedang berusaha naik ke Level Body III.
Latihannya adalah memukuli bebatuan besar dan batang pohon besar. Neil sekarang memiliki tampilan yang berbeda, rambutnya dibiarkan panjang seperti gurunya. Tubuhnya juga semakin tegap dan lebih tinggi. Neil sendiri merasa tidak percaya dengan kondisi tubuhnya.
Neil yang kurang lebih sudah berusia 70 tahunan, tetapi masih memiliki fisik seperti usia 24 tahunan. Tapi Neil berpikiran mungkin masih bisa mempertahankan kondisi tubuhnya berkat latihan dan pil yang dikonsumsinya.
Berbeda dengan Neil, Geiz berharap Neil memiliki umur yang panjang seperti umur orang orang di dunianya.
"Hentikan". Geiz yang merasa latihan Neil tidak berkembang mencukupkan latihannya.
__ADS_1
"Kenapa master, bukankah ini masih siang hari".
"Hmm, kita harus mencari jalan lain. Latihanmu tidak berkembang sama sekali. Lihat tanganmu, jika terus dipaksakan bukannya mujur, tapi malah hancur".
Neil mengamati telapak tangannya yang sudah penuh dengan balutan kain menghela nafasnya panjang. Padahal dia merasakan tubuhnya sudah sangat kuat, tetapi gurunya mengatakan tidak ada perkembangan.
Jika Neil saat ini ada di bumi, dia mungkin sudah menjadi super hero dan sudah bergabung dengan kelompok super hero dibumi M*rvel. Dia akan sebanding dengan Hu*k si manusia hijau.
Seperti itulah yang sedang dipikirkan Neil saat ini. Dia memang terobsesi menjadi salah satu super hero di bumi. Sayangnya saat dia mempunyai kemampuan, dia tidak memiliki kesempatan untuk menunjukannya.
"Kenapa senyum senyum sendiri. Apakah otakmu sudah mulai mengecil ?" Geiz yang melihat muridnya senyam senyum sendiri hanya geleng geleng kepala.
Neil yang tersadar dengan lamunannya cengar cengir sendiri. "Tidak master, ini..balutannya terlihat lucu".
Geiz yang mendengar alasan muridnya, sudut bibirnya berkedut. Dengan tak acuh dia berkata. "Aku bisa membuatnya lebih lucu".
"Tidak, jangan bercanda master". Neil segera memasang pertahanan dirinya.
"Tidak, aku tidak mau kau mengalami hal seperti dulu lagi.. lagipula aku juga tidak yakin lagi dengan khasiatnya". Balas Geiz dengan masih memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan.
Jika saja Neil seperti manusia di dunianya saat ini, mungkin Neil akan lebih mudah untuk menembus Level Body III atau bahkan Level Body IV.
Disini Geiz sama sekali tidak bisa mengukur kekuatan jiwanya. Neil yang telah bercerita tentang kehidupannya dibumi kepada gurunya, memaksa Geiz berpikir ulang untuk membangun pondasi sihir pada Neil.
Sebelumnya Geiz berpikir bahwa Neil terisolasi di suatu tempat yang menjadikannya tidak mengenal kehidupan, tapi dugaannya salah karena Neil bukan berasal dari dunianya.
"Bagaimana caranya mengadaptasikan dirinya dengan kondisi di dunia ini'.
__ADS_1
Geiz berulang kali mempertanyakannya di dalam hatinya. Hingga malam tiba Geiz masih berkutat dengan pemikirannya. Neil yang tidak ingin mengganggu gurunya mulai membuat api unggun untuk menghangatkan diri dan membakar beberapa daging.
Neil mengumpulkan kayu bakar yang sudah dipukulinya dari batang batang pohon.
"Setidaknya apa yang kupukul tidak sia sisa. Sudah lama aku ingin membuat api unggun".
Selama latihan sebelumnya Neil dan gurunya hanya membuat api kecil untuk menghangatkan diri dan membakar daging. Neil teringat terakhir kali membuat api unggun di halaman rumahnya bersama Kent dan Deila. Itu adalah hari dimana mereka mengikrarkan janji 3 sekawan mereka.
Menyalakan api unggun, Neil mendekati gurunya. "Master, lihatlah api unggunnya master. Bukankah masih ada waktu 20 tahun lagi. Terlalu banyak berpikir membuat bebal".
Geiz yang mendengarkan perkataannya muridnya mengangguk.
"Mungkin aku terlalu banyal berpikir. Benar katamu, terkadang kita perlu mengistirahatkan pikiran agar bisa berpikir lagi". Balas Geiz membenarkan perkataan Neil.
"Ehh, untuk apa kau membuat api unggun sebesar ini. Itu akan mengundang beast datang kemari".
"Benarkah.. kalau begitu akan aku matikan saja".
"Tunggu, biarkan saja. Pasokan daging sudah menipis. Kita boleh membunuhnya jika ada yang menyerang. Hmm, kenapa tidak terpikirkan dari dulu".
Geiz yang sudah khawatir persediaannya tidak mencukupi mendapatkan solusinya. Dihadapan api unggun Neil mulai bercerita lagi mengenai kehidupannya di bumi. Kini dia menceritakan tentang superheo di bumi yang membuatnya senyam senyum sendiri tadi siang.
"Master, apakah disini ada superhero".
"Maksudmu pahlawan.. tentu saja".
"Ehmm, apakah mereka juga memiliki seragam khusus seperti pahlawan di bumi".
__ADS_1
"Seragam khusus, tidak. Biasanya hanya mengenakan jubah. Memangnya seperti apa pahlawan di bumi".
Neil yang ingin sedikit pamer dengan kampung halamannya menceritakan tentang superhero yang di tontonnya di tv. Neil secara acak menceritakannya