Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
38. Yang Kumau


__ADS_3

"Keputusan sudah diambil". Suara Veriza menggema diruangan lomba.


Pelayan Jen dan Pelayanan Meri kembali saling tatap. Jantung mereka berdegup kencang dengan banyak pandangan tertuju kepada mereka. Suasana ruangan tidak ribut seperti sebelumnya. Semuanya terdiam menunggu keputusan yang diambil oleh Nona Besar mereka.


"Masakan Jen dan Meri sama sama enak. Sulit untuk menentukan siapa pemenangnya. Tapi lomba tetaplah lomba. Harus ada yang menang dan ada yang kalah".


"Aku Veriza Hung memutuskan, pemenang lomba memasak kali adalah ...."


"Tunggu.." Sebelum Veriza memberitahukan siapa pemenangnya, tiba tiba Duke datang.


"Hormat kepada Tuan Besar". Seluruh pelayan memberikan hormatnya kepada Duke.


"Ada apa suamiku, kenapa kau menghentikanku ?" Protes Veriza kepada Duke.


Sementara Neila yang melihatnya datang langsung berlari ke arah ayahnya. "Ayah.."


"Putriku sayang.. Neilaku..." Duke meraih Neila dan membawanya ke pelukannya.


Duke kemudian menghampiri istrinya yang sudah bersungut. Padahal kedatangannya tidak memiliki maksud apapun, dia hanya ingin menyaksikan final perlombaannya.


"Tidak Veriza, aku hanya ingin ikut menyaksikannya saja. Apakah tidak boleh".


"Tentu saja boleh suamiku. Kau juga boleh menentukan siapa pemenangnya".


"Ehh, sudahlah. Lebih baik aku kembali ke depan saja".


"Duduklah". Pinta Veriza kepada Duke.


Duke menjadi serba salah. Menempati tempat duduknya, Duke mengeluh di dalam hatinya. Veriza yang mengetahui suaminya sedikit cemberut kemudian menggodanya. Veriza mencubit pinggang suaminya.


Duke yang mendapatkan tanda dari istrinya langsung berbinar. Raut mukanya berubah menjadi cerah dan senyum muncul di bibirnya.


"Kenapa Yah, kenapa ayah senyum senyum sendiri ?" Neila penasaran dengan perubahan sikap ayahnya.


"Tidak nak, ayah hanya terlalu bersemangat melihat perlombaan memasak ini. Ini jarang terjadi di keluarga kita".


"Oohh gitu ya Yah ?" Balas Neila dengan raut muka lugunya.


Sementara Veriza yang mendengar jawaban suaminya menjadi sedikit malu. Pipinya memerah seperti apel.

__ADS_1


"Kedatanganku kesini hanya ingin menyaksikan siapa pemenang dari lomba memasak kali ini. Lanjutkan acaranya". Duke Jo menyampaikan maksud kedatangannya.


"Baiklah, pemenang pertama dari lomba kali ini adalah Jen". Veriza mengumumkan pemenangnya.


Pelayan Jen yang mendengar kemenangannya merasa sangat dan bersujud menyampaikan rasa terima kasihnya. "Terima kasih Tuan dan Nona Besar".


"Untuk itu, jabatan kepala pelayan utama aku berikan kepada Jen. dan Meri akan menjadi wakil dari Jen. Wakil Kepala Pelayan adalah jabatan baru di sistem pelayan Keluarga Hung, dan ini adalah keputusan mutlak dariku".


Mendengar keputusan mutlak dari Nona Besar, pembawa acaranya kembali mengumumkannya. "Selamat kepada Pelayan Jen sebagai Kepala Pelayan Utama dan Selamat kepada Pelayan Meri sebagai Wakil Kepala Pelayan Utama".


"Terima kasih Tuan dan Nona Besar". Suara seluruh pelayan menggema diruangan lomba.


Malam harinya di kamar utama Duke. Duke mengirimkan telepati kepada istrinya "Apakah Neila sudah tidur ?"


"Sebentar lagi. Aku akan menyusul ke kamar sebelah".


Duke yang mendengar jawaban dari istrinya nampak bersemangat. Dia sedang menyiapkan amunisinya karena sudah lama tidak berduaan dengan istrinya di atas ranjang. Neila yang sering bangun malam tiba tiba sebelumnya membuatnya harus berpuasa.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya penantian Duke terbalas. Istrinya datang menghampiri dengan mengenakan gaun tidur yang sengaja dibuat sedikit terbuka. Duke yang melihatnya langsung menelan ludahnya sendiri.


Sepertinya Veriza terkena efek dari beberapa macam masakan yang dicicipinya hari ini. Tubuhnya terasa panas dan ada hasrat gairah yang membara. Sepertinya Duke akan kewalahan menghadapi permainan istrinya.


"Beberapa minggu ini Neila sudah dapat tidur dengan baik, kau bisa tenang dan ... " Veriza mendorong jatuh kebelakang suaminya yang sedang duduk di tepi ranjang.


Membuka seluruh gaunnya, Veriza kemudian merebahkan tubuhnya diatas Duke. Dengan mesra dia berbisik. "Berikan yang terbaik".


Duke yang mendapat tantangan dari istrinya bertambah semakin bergairah, dia membenamkan istrinya didekapannya dengan meraung raung. Bersiap untuk pertempuran yang sebenarnya sampai esok pagi tanpa gencatan senjata.


Siang hari berikutnya di ruangan master kepala akademi, Neil sudah menghadap kepada Juan dengan antusias.


"Sepertinya kau nampak antusias ?"


"Tentu saja master kepala, bukankah ini adalah kesempatanku untuk menjadi semakin kuat".


"Kuat.. apakah itu yang kau sebut kuat. Perlu kau tahu bahwa di dunia ini kekuatanmu itu seperti kekuatan anak anak para ksatria".


Neil yang mendengar ejekan Juan berkedut sudut bibirnya, dia sebenarnya sudah sadar bahwa kekuatannya saat ini masih lemah. Tapi dengan membandingkannya seperti kekuatan para anak anak itu terlalu berlebihan kan. Seperti itulah apa yang dipikirkan oleh Neil.


"Tapi dengan usaha yang keras, aku yakin kau bisa lebih kuat bahkan lebih kuat dariku". Juan menyemati Neil.

__ADS_1


"Benarkah master kepala ?"


"Tentu.... jika kau tidak mati duluan".


Neil benar benar sudah tidak bisa berkata apa apa lagi. Mengambil nafas berat dia menenangkan hati dan pikirannya.


"Maaf menunggu lama". Sebuah suara terdengar dari pintu masuk.


"Ehh Master Yosh, kau sudah datang. Masuklah". Juan mempersilahkannya masuk.


"Apa kau membawa barangnya ?"


"Iya master kepala. Apakah ini anak yang akan mengenakannya ?" Master Yosh membuka koper yang berisi peralatan sihir.


"Perkenalkan Neil".


"Perkenalkan dia adalah Master Yosh, kepala laboratorium sihir yang bertanggung jawab pada pengembangan alat sihir di akademi". Juan memperkenalkan Neil dan sebaliknya.


"Hebat.. apakah anda bergelar professor master ?"


"Professor, apa itu ?"


"Ehh, itu adalah ..."


Sebelum Neil meneruskan jawabannya, Juan sudah menyelanya untuk melindungi identitas Neil. "Bocah bodoh ini terkadang membuat kosa katanya sendiri. Master Yosh tidak perlu menanggapinya".


Neil yang sudah dilarang untuk tidak berbuat sesuatu yang mencurigakan menundukkan kepalanya. Dia lupa kalau dia harus merahasiakan identitas sebenarnya dengan tidak melakukan hal hal yang mencurigakan.


"Maaf Master Yosh. Benar kata master kepala, itu bukan apa apa ?"


"Hmm, sepertinya julukan professor tidak buruk juga. Itu terdengar keren". Master Yosh tersenyum ke arah Neil.


"Seperti pesanan master kepala. Ini kacamata mana dan sepatu terbang. Selebihnya beberapa alat sihir pendukung lainnya". Master Yosh mengeluarkan peralatan sihir buatan laboratoriumnya.


Juan kemudian memeriksa peralatan sihir yang dibawa oleh Master Yosh. Dia ingin memastikan kalau alat sihirnya bekerja dengan baik.


"Apa kau sudah mengujinya master ?"


"Sudah master kepala, saya mengujinya sendiri untuk mengetahui kemampuannya".

__ADS_1


__ADS_2