
"Tidak, tidak apa apa master kepala. Maaf, temboknya lecet lecet.." Neil sudah mulai gagal fokus dengan kehadiran Juan yang didampingi oleh Milia.
"Sudahlah, ini salahku juga. Seharusnya aku membiarkanmu berlatih ditempatnya. Tidak ditempat seperti ini".
Juan yang awalnya terkesima dengan tampilan baru Neil merasa diacuhkan dengan tatapan kosongnya. Mengikuti pandangan Neil, ternyata pandangannya menuju ke dua gunung besar Milia. Mendengus dingin, Juan berdehem keras.
"Ehem ehem".
Neil yang sadar akan sikapnya, menarik nafas panjang merestart ulang pikirannya. Berbeda dengan Yui, Milia malah tampak menggoda Neil dengan sedikit menggoyangkan kedua asetnya.
"Maaf master kepala, ada keperluan apa master kepala datang menemui saya".
"Lebih baik kau pergi duluan Milia". Juan meminta Milia untuk pergi.
"Sesuai perintah anda master kepala".
Berjalan kedepan dengan melenggak lenggok, Milia benar benar sangat menggoda. Semakin dekat dan melewati Neil, Milia benar benar membuat Neil mematung.
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan".
Neil yang mendengar perkataan Juan terbangun dari lamunannya. "Maaf master kepala, tadi apa yang anda katakan".
"Haishh, dasar otak mesum. Aku katakan bagaimana kalau kita membuat kesepakatan ?".
"Kesepakatan apa master kepala ?".
"Apakah kau ingin berlatih di tempat yang benar ?".
"Iya master kepala. Aku mau.."
"Kalau begitu, berikan prototype itu padaku".
"Prototype... Ehmm, itu... untuk apa master kepala meminta prototype itu ?"
"Untuk ilmu pengetahuan".
Dalam hati Juan bergumam. "Tidak mungkin kan aku bilang untuk bergaya". Juan memang sangat menginginkan kacamata yang Neil kenakan, dia jatuh cinta pada pandangan pertama.
Mendengar kalau prototypenya akan digunakan untuk keperluan ilmu pengetahuan, Neil menjadi bimbang. Di satu sisi dia ingin mematenkan produknya, disisi lain dia tidak bisa pelit dengan ilmunya.
Mengambil nafas berat, Neil memberikan prototypenya. "Kalau benar untuk ilmu pengetahuan, master kepala boleh memillikinya. Prototypenya masih disimpan oleh Master Yosh".
Juan yang mendengar jawaban dari Neil berbinar raut mukanya. Akhirnya dia bisa memiliki kacamata seperti Neil. Bukan fungsinya yang Juan cari, tapi tampilannya yang membuat lebih keren.
"Bagus, kau memang berjiwa besar. Sebagai balasannya aku akan mengajarimu beberapa jurus seni beladiri".
"Benarkah master. Terima kasih banyak master kepala". Neil sangat antusias dengan ajakan Juan.
__ADS_1
"Sekarang ikuti aku keruang latihan".
Sesampainya diruang latihan pribadi kepala akademi, Neil terkagum kagum. Ruangan yang sangat luas terbentang dengan berbagai peralatan khusus.
"Ini lebih besar dari stadion terbesar dibumi. Hebat" Gumam Neil yang didengar oleh Juan.
"Sampai master Geiz kembali, kau diijinkan untuk berlatih disini".
"Terima kasih master kepala. Tapi, kenapa hanya sampai master kembali".
Mendengar pertanyaan Neil, sudut bibir Juan berkedut. Sedikit kesal, dia mengeluh di hatinya. "Sudah diberi daging, minta jantung. Benar benar tidak malu".
"Ini bukan tempat pribadi. Tempat ini tidak bisa terus menerus kau gunakan". Juan terpaksa membohongi Neil untuk menghindari hal hal yang merepotkan di kemudian hari.
"Baik master kepala. Terima kasih karena memperbolehkan berlatih disini".
"Sekarang keluarkan pedangmu. Aku ingin melihat kemampuanmu".
Neul kemudian mengeluarkan replika pedang harimaunya. Menggegam gagang pedang dengan tangan kanannya. Melihat cara menggenggam Neil, Juan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Coba serang aku dimana saja".
Neil yang mendengar perkataan Juan sedikit ragu, dia takut serangannya dapat melukainya.
"Apa kau meremehkanku".
"Lalu apa yang kau tunggu".
Menggenggam erat pedangnya, Neil bersiap untuk menyerang Juan. Mengambil ancang ancang Neil maju menyerang Juan.
"Klontang.." Baru sekali pedang di arahkan ke tubuh Juan, pedang ditangan Neil langsung terpental oleh sapuan tangan Juan.
"Payah.. cara memegang pedang saja masih amatiran. Pedang bagus menjadi tidak beguna sama sekali".
Mendengar sindiran dari Juan, Neil tidak bisa tidak berkata apa apa. Serangannya dipatahkan hanya dengan sapuan tangan. Menarik nafas berat, Neil berlutut di hadapan Juan.
"Tolong ajari saya bertarung master".
Juan yang melihat Neil berlutut lantas berseru. "Ambil perangmu kembali. Sesuai dengan janjiku, aku akan mengajari beberapa jurus seni beladiri. Jadi bangunlah".
Neil mulai berlatih seni bela diri dengan Juan untuk melatih jurus pedang dan belati terbangnya. Juan tidak mengajari Neil menggunakan pistol karena merasa benda itu tidak berguna. Juan juga melatih Neil cara menyerang dan bertahan
Hari berganti hari dan tahun berganti tahun. Semenjak dizinkan berlatih di ruang pelatihan pribadi master kepala, Neil hampir setiap hari berlatih disitu. Petugas perpustaakaan yang biasanya melihat Neil berlalu lalang merasa kehilangan.
"Serang bola ini". Juan melemparkan sebuah bola jauh didepan Neil.
Neil yang melihat bola dalam jangkauannya, melemparkan belati terbangnya. Dengan gaya ala patung pancuran, belati terbang menuju ke arah bola yang dilempar Juan.
__ADS_1
"Sreethhh..." Belati Neil menembus ke tengah bola.
"Jangan senang dulu. Sekarang serang bola ini. ini, ini, dan ini". Juan melemparkan beberapa bola sekaligus jauh di depan Neil.
Neil kemudian menarik belatinya dan menyerang ke arah bola bola yang di lempar oleh Juan.
"Sreeth...sretth..sretth". Beberapa bola ditembus oleh belati Neil dan beberapa bola jatu ke lantai.
"Masih kurang cepat". Suara Juan menggema di ruangan.
Disesi latihan berpedang Neil, terlihat Neil sedang berusaha menjatuhkan Juan.
"Klang.. klang". Suara pedang beradu dengan keras.
Menggunakan kemampuan Level Body III, Neil dapat mengimbangi serangan Juan.
"Hebat, tapi teknik bertarungmu masih kaku".
Mengarahkan pedangnnya kedepan, Juan menyerang pertahanan Neil. Menusuk ke arah leher, Neil memutar tubuhnya kesamping. Melihat tusukannya dihindari, Juan mengayunkan pedangnya kesamping. "Klang.." Ne menahan serangan Juan yang mengarah kepadanya.
Memuta balik tubuhnya, Juan menebas sisi lainnya. "Klang.. klang.. klang". Neil hanya mampu menahan serangan demi serangan dari Juan yang membuatnya semakin terdesak.
Diserang habis habisan, Neil tidak bisa menahannya lagi. Mengumpulkan tenaga di tangan kanannya, Neil berniat melakukan serangan akhir.
"Tiger Sword Slash...."
Pedang Neil berubah warna menjadi hitam pekat dan berhawa panas. Melakukan gerakan menyilang, Neil menebas kearah dada Juan.
"Kla..ang..." Benturan keras menggema diruangan.
Juan yang menerima serangan Neil menyunggingkan senyumnya. "Lumayan, tapi masih belum cukup kuat".
Sedikit melakukan tekanan, Juan menjatuhkan Neil kebelakang.
"Kemajuan yang cukup bagus. Kau memang memiliki bakat sebagai pendekar".
"Terima kasih master kepala. Tapi ini masih belum cukup. Aku harus meningkatkan levelku ke Level Body IV".
"Bersabarlah. Butuh waktu dan pelatihan yang keras untuk menembus ke level itu. Lebih baik memiliki pondasi yang kuat dari pada menembus dengan bantuan teknik khusus".
"Ehh, apakah ada teknik khusus untuk menembus master ?".
"Tidak, aku hanya memperumpamakannya saja".
"Ohh, jadi tidak bisa". Neil mengambil nafas berat sedikit kecewa.
"Kenapa kau begitu ingin menembus Level Body IV".
__ADS_1
"Aku.. aku harus menemukan mereka. Untuk itu, aku harus menjadi kuat dan merubah takdir sialan ini". Gumam Neil dalam hatinya. Dia tidak mungkin mengatakan kepada orang lain bahwa dia membenci takdirnya saat ini.