Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
47. Ujian Masuk Akademi


__ADS_3

"Minggir... Putri Duke Pyak akan lewat". Sebuah kereta kuda mewah dengan lambang bintang biru patah bergerak ke tempat seleksi.


Ujian masuk akademi yang ditunggu tunggu oleh para putra bangsawan dan beberapa pedagang serta rakyat biasa resmi dibuka.


"Para bangsawan benar benar sombong. Mereka selalu mencuri antrian kita". Ucap salah satu peserta seleksi yang sudah mengantri lebih dulu.


"Benar sekali. Antriannya tidak berjalan karena kedatangan mereka satu persatu". Jawab pemuda disebelahnya dan akhirnya terjadi obrolan diantara mereka.


Merasa memiliki kekuatan latar belakang keluarganya, para putra dan putri bangsawan memang terkadang menyalahgunakan kekuatan yang mereka miliki.


Sebagai contoh di dalam seleksi ujian masuk ini. Dengan kekuatan yang dimiliki, mereka menerobos antrian agar bisa unjuk gigi terlebih dahulu. Alasannya sangat sederhana, hanya karena tidak ingin terkena panasnya sinar matahari.


Pihak akademi memang tidak mempermasalahkan hal ini karena dianggapnya sesuatu yang wajar. Lagipula para peserta lain yang dirugikan juga tidak berani berbuat apa apa.


"Tidak semua bangsawan itu sombong". Suara pemuda bercaping menghentikan obrolan mereka.


"Siapa kamu. Para bangsawan memang sombong". Hardik salah seorang pemuda.


"Iya benar. Apa kau tidak bisa melihatnya sendiri".


"Lihatlah mereka selalu menerobos antrian".


Berbagai kata menyerang pemuda bercaping secara bertubi tubi. Mengambil nafas panjang, sang pemuda berkata. "Terserah kalian sajalah. Lagipula tidak ada gunanya kalau hanya berbisik saja".


Para peserta ujian masuk yang tadi menggebu gebu menyerang pemuda bercaping, langsung tidak bisa berkata apa apa. Mereka mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh pemuda bercaping adalah benar adanya. Mereka memang hanya bisa bergosip diluar saja.


"Pesertanya banyak sekali master". Ucap Neil yang menyaksikan ujian seleksi daribatas menara akademi.


Tahu bahwa ujian seleksi dimulai, Neil merengek kepada Geiz agar bisa ikut menyaksikan. Dengan alasan ingin memperbanyak pengetahuan, Geiz akhirnya membawa Neil turut serta menyaksikan ujian seleksi penerimaan murid baru.


Tentu saja Geiz tidak membawa Neil ke lokasi langsung karena khawatir akan mengganggu proses seleksi yang sedang dilaksanakan oleh panitia.


"Akademi hanya menerima murid yang berbakat dan memiliki kompetensi". Jawab Geiz dengan tak acuh.


Neil seketika tertegun. Dia merasa beruntung karena bisa diterima oleh akademi tanpa harus melalui seleksi. Memandang gurunya, Neil bergumam di hatinya. "Terima kasih karena telah menerimaku sebagai murid, master".


"Putra Mahkota telah tiba". Suara prajurit menggema di kerumunan.

__ADS_1


Sebenarnya Putra Mahkota mendapatkan keistimewaan langsung diterima oleh akademi tanpa melalui seleksi. Putra Mahkota datang hanya untuk menghormati proses yang dilakukan oleh akademi. Setelah datang, dia juga akan mendapatkan tempat khusus untuk melihat proses seleksi.


"Apakah dia putra mahkota yang dinobatkan sejak lahir. Benar benar tampan". Ujar seorang peserta seleksi wanita.


"Putra Mahkota benar benar tampan".


"Tampan sekali. Bisakah aku bersamanya.."


Berbagai pujian dilontarkan kepada Putra Mahkota. Tidak hanya para peserta seleksi wanita yang histeris. Beberapa pemuda juga menatap kagum kepadanya.


"Sepertinya kuat". Neil yang berada di atas menara juga ikut mengomentari. Sebagai sesama murid Geiz, Neil tertantang untuk beradu kekuatan dengan Putra Mahkota.


Sementara Putri Duke Pyak yang sangat tertarik dengan Putra Mahkota mencoba pamer dihadapannya. Dia melihat ke arah Putra Mahkota yang sudah duduk ditempatnya.


"Aku harus mencuri perhatian Putra Mahkota dengan sihir yang sudah kulatih sejak dulu". Gumam Putri Pyak dengan lirih. Dia lantas berjalan ke arah bola sihir pengukur mana.


"Letakkan tanganmu diatasnya. Bola ini akan mengukur sejauh mana level sihir yang kau miliki". Ucap salah satu panitia seleksi bagian pertama.


"Level 3, bakat yang bagus". Ucap panitia seleksi kembali yang melihat level sihir Putri Pyak dari bola sihir.


Putri Pyak yang mendengar sanjungan dari panitia seleksi mengangkat kepalanya tinggi tinggi berharap Putra Mahkota mengagumi kemampuannya.


Ujian kedua adalah ujian kemampuan fisik. Ujian kedua digunakan untuk mencari calon pendekar sihir yang berbakat. Biasanya di ujian ini dapat diketahui siapa yang berbakat sebagai penyihir dan siapa yang berbakat sebagai pendekar sihir. Seleksi ini juga yang akan menentukan kelas mereka.


"Ayo pergi". Geiz mengajak Neil meninggalkan ujian seleksi karena tugasnya telah selesai. Putra Mahkota sudah pasti diterima oleh akademi. Geiz yang merasa Putra Mahkota sudah aman di akademi, tidak ingin melanjutkan tontonan yang membosankan.


"Apa tidak bisa disini sebentar lagi master ?".


"Apa yang ingin kau lihat".


"Aku ingin melihat siapa saja yang diterima master".


"Membosankan. Sudah bisa ditebak kalau seluruh putra bangsawan akan diterima karena mereka telah menjalani pelatihan sebelumnya. Sedikit putra pedagang dan beberapa rakyat berbakat".


"Bukankah itu sedikit curang".


"Yang kuat yang bertahan. Itulah hukum di dunia ini".

__ADS_1


"Seperti hukum rimbakah". Neil kembali teringat dengan buku yang pernah dibacanya. Itulah salah satu yang menjadi motivasinya untuk menjadi kuat. Dia tentunya tidak ingin mati sia sia di dunia yang memiliki hukum yang kuat memangsa yang lemah.


"Aku akan pergi. Kalau masih ingin disini, jangan kemana mana".


"Tidak, aku ikut master".


Neil dan Geiz seketika menghilang dari pandangan. Putra Mahkota yang mengharapkan kehadiran gurunya sepertinya hanya akan tinggal harapan.


"Hebat. Siapa namamu tadi nak ?" Panitia seleksi pertama kaget melihat hasil yang ditunjukkan oleh bola sihir. Dalam hatinya dia bergumam. "Level 4 di usia seperti ini, benar benar berbakat".


"Lin, dari keluarga Luan".


"Apakah kau putra Hu Luan dari organisasi sihir".


"Aku cucunya".


"Pantas saja kau luar biasa di usiamu sekarang. Orang tuu pasti mengajarimu dengan keras".


"Benar". Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Lin menjawab pertanyaan panitia pertama.


"Baiklah, lanjutkan seleksi keduanya disebelah sana".


"Baik".


Sementara Putra Mahkota yang mendengar informasi bahwa ada seorang pemuda yang memakai caping memiliki bakat yang luar biasa dengan level sihir di level 4 awal sedikit tertekan.


Putra Mahkota yang berada di level 3 menengah tidak menyangka akan ada seseorang yang melebihi level sihirnya. Menggertakkan giginya, dia bertekad untuk berlatih keras.


"Siapa pemuda itu ?" Tanya Putra Mahkota.


"Namanya Lin Luan Pangeran. Cucu dari Hu Luan". Jawab pengawal utama Putra Mahkota.


"Keluarga Luan. Jadi mereka mendaftarkan cucunya kesini. Reputasi akademi sepertinya sangat meningkat.


"Saya juga mendengar masih ada beberapa keluarga ternama yang mendaftarkan anak dan cucu mereka Pangeran".


"Sepertinya tahun ini akan semakin menarik. Aku tidak boleh kalah dari mereka". Gumam Putra Mahkota dengan sedikit menggebrak meja dengan tangan kanannya.

__ADS_1


Ujian seleksi penerimaan murid akhirnya selesai sebelum malam. Panitia seleksi telah mendapatkan hampir seratus murid baru berbakat. Peserta seleksi yang lolos ujian langsung mendapatkan kamar penginapan di dalam akademi untuk menerima arahan selanjutnya.


__ADS_2