
"Tidak ada informasi mengenai itu. Aku sendiri tidak mengetahuinya". Balas Yuwe.
Dengan sedikit berpikir, Yuwe melanjutkan perkataannya. "Sepertinya beberapa kelompok dari organisasi sihir gelap itu sendiri juga ikut mengawasi. Walaupun pergerakannya masih pasif. Setidaknya itulah informasi yang aku dapatkan".
Mendengar penjelasan Yuwe, keduanya nampak berpikir keras. Mereka bertiga tidak mengerti apa yang sebenarnya organisasi sihir hitam lakukan di sini.
Neil yang sama sekali tidak mengerti tentang topik bahasan yang Yuwe bahas hanya diam mendengarkan. Dia tidak ingin sok tahu dengan siapa organisasi gelap itu.
"Tidak peduli apa yang mereka lakukan. Jika menghalangi... bunuh !" Seru Geiz yang tidak ingin banyak menerka nerka.
"Ehh, bukankah itu kejam master ?"
"Hukum rimba". Geiz kemudian bangkit dan mengajak keduanya untuk bergegas.
"Apa itu hukum rimba ?" Yuwe yang sudah berdiri bertanya dengan penasaran.
Mendapatkan kode dari Geiz, Neil kemudian bergerak kebelakang Geiz untuk bersiap terbang. Neil kembali digendong oleh Geiz. Sementara Yuwe yang belum mendapatkan jawabannya menjadi semakin penasaran dan mendesak mereka berdua untuk memberitahukannya.
"Hei, apa kalian tidak mendengarkanku. Apa itu hukum rimba.... apakah sejenis rumus geometri ?".
Terbang melintasi hutan Neil memberitahu Yuwe apa itu hukum rimba. Setelah mendapatkan jawabannya, Yuwe kembali bertanya kepada Neil darimana dia mendapatkan kata kata aneh, tetapi Neil tidak menjawabnya.
"Maaf !"
Mendengar Geiz meminta maaf, Yuwe menatapnya. Sedikit senyum tergambar di bibir merahnya.
"Maaf karena aku tidak mempercayai kalian ?"
"Apakah tadi ada sesuatu yang membentur kepalamu ?" Ejek Yuwe.
"Ehh, apakah master ditabrak oleh crimson flame sparrow ?" Neil bertanya dengan lugunya.
Geiz yang mendengar kata kata Neil dan Yuwe sudut bibirnya berkedut. Dia menyesal meminta maaf pada mereka berdua karena meninggalkannya diperjalanannya. Dengan tatapan datar Geiz melirik ke arah Yuwe.
"Darimana kau tahu kalau crimson flame sparrow suka menabrakan dirinya Neil ?" Tanya Yuwe yang menghiraukan lirikan Geiz.
"Aku baru mengingatnya Master Yuwe". Neil teringat dengan apa yang pernah dia baca di buku mengenai burung aneh yang suka menabrakkan dirinya sampai mati saat melihat benda terbang.
__ADS_1
Menjadi bahan candaan Neil dan Yuwe, Geiz yang sedikit kesal mempercepat terbangnya hingga membuat Neil menundukkan kepalanya.
"Sepertinya kau sangat kesal ?" Cakap Yuwe pada Geiz. Tidak menjawab, Yuwe melanjutkan kata katanya. "Itulah yang kami rasakan sebelumnya. Kalau saja surat itu asli, kau mungkin tidak akan kembali !"
Geiz yang membenarkan perkataan Yuwe dihatinya, merasa bertambah bersalah. Dia berpikir mungkin perbuatannya sudah keterlaluan. Bagaimana tidak keterlaluan, masuk kedalam kamar seorang wanita dan mencuri sesuatu darinya.
"Disana.. kita turun disana !" Tunjuk Yuwe ke arah sebuah kota.
Setelah terbang berjam jam, akhirnya mereka sampai di Ibukota Kerajaan Arta. Turun di dekat gerbang kota, mereka bergerak dengan dipimpin oleh Yuwe.
"Perlihatkan identitas kalian !" Seorang penjaga gerbang kota mencegat dan menanyakan identitas mereka bertiga.
"Kami duta dari benua tengah. Kami ingin menemui Raja !" Jawab Yuwe dengan memperlihatkan identitasnya.
"Silahkan ikuti saya". Penjaga gerbang yang telah mengecek identitas mereka bertiga kemudian meminta mereka untuk menemui Raja.
Setelah melewati berbagai prosedur kerajaan, akhirnya Neil Geiz dan Yuwe berhasil menemui Raja Arta. Mereka bertiga disambut di aula kerajaan.
Membaca surat rekomendasi yang ditulis Don, Raja Arta tidak dapat menghiraukannya. Reputasi menara sihir yang didukung oleh para penyihir besar, Raja tidak bisa menganggapnya sebelah mata".
"Benar Raja. Kami mohon ijin untuk memasuki bukit bulan".
"Jika kalian sudah merasa yakin, saya sebagai Raja Kerajaan Arta mempersilahkan kalian bertiga memasukinya. Tapi perlu di ingat bahwa kami tidak akan memberi sumber daya apapun kepada kalian !"
"Terima kasih Raja. Ijin dari Raja sudah cukup untuk kami". Balas Geiz kembali.
"Karena hari sudah mulai gelap, menginaplah satu malam disini ?" Raja menawarkan mereka bertiga untuk menginap.
"Terima kasih sekali lagi Raja. Tapi mohon maaf, kami akan menginap di penginapan saja".
"Baiklah, aku tidak akan memaksa kalian". Raja mengakhiri percakapannya dengan mengingatkan mereka bertiga tentang bahayanya. "Berhati hatilah kalian disana, bukit bulan bukan tempat untuk bermain main !".
"Baik. Sekali lagi terima kasih. Semoga Raja panjang umur".
Geiz Neil dan Yuwe kemudian undur diri setelah mendapat ijin dari Raja. Mereka mencari penginapan untuk beristirahat selama beberapa hari dan menyiapkan berbagai keperluan. Tapi sebelumnya mereka bertiga ke rumah makan untuk mengisi perut.
"Kita sudah mendapatkan ijinnya. Kau bisa meninggalkan kami lagi jika mau". Sindir Yuwe setelah menyelesaikan makannya.
__ADS_1
Geiz yang mendengar perkataan Yuwe sudut bibirnya kembali berkedut. Dia tidak bisa tidak mengeluh. "Sampai kapan kau akan mengejekku !".
"Ohh, jadi kau tidak akan meninggalkan kami. Baguslah kalau begitu". Jawab Yuwe dengan tak acuh.
"Aku harap master percaya kepada kami dan tetap bersama. Kita berangkat bersama dan kita pulang bersama". Neil ikut menambahkan.
Geiz masih diam karena dia tidak tahu harus berkata apa. Sebagai seorang yang kurang peka, dia memang sedikit susah dengan hal hal yang berbau perasaan.
"Lalu apa rencananya ?" Yuwe mengalihkan topik bahasan untuk memecah keheningan.
"Tidak ada rencana". Geiz menjawab dengan tak acuh.
"Hahh, masuk kandang macan tanpa rencana, benar benar cari mati !" Balas Yuwe dengan sedikit penekanan.
"Lalu bagaimana denganmu. Apa kau mempunyai rencana ?"
"Sejak kapan Yu Yuwe bergerak tanpa rencana". Balas Yuwe dengan sedikit menyombongkan diri.
"Wahh, master kepala memang tidak salah memilih Master Yuwe untuk membantu". Sambung Neil dengan mode imutnya.
"Tentu saja. Terima kasih pujiannya Neil". Jawab Yuwe dengan sedikit mengibaskan rambutnya ke belakang.
Geiz yang melihat keakraban Neil dengan Yuwe raut mukanya berubah masam. Kali ini dia merasa mendapatkan 2 pengacau dalam misinya. Pengacau yang susah disingkirkan.
Membayangkan perjalanan berikutnya Geiz merasa sedikit tertekan. Atau mungkin akan lebih bervariasi. Entahlah, hanya dewa yang tahu. Setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Geiz.
"Kenapa kau sekarang sangat akrab dengannya". Ujar Gei pada Neil yang sedang senyam senyum sendiri.
"Memangnya kenapa kalau kami lebih akrab ?" Bela Yuwe.
"Hahh, aku benar benar tidak tahu harus berkata apa apa lagi pada kalian. Lebih baik aku keluar dari sini !"
"Ada yang ngambek nih... Baiklah, kita bahas rencananya besok". Ucap Yuwe mengakhiri obrolannya.
Mereka kemudian meninggalkan rumah makan dan mencari penginapan disekitar istana sambil memikirkan rencana menghadapi binatang iblis yang berada di bukit terutama ilusi dari rubah iblis yang diklaim mampu mengalahkan dewa.
Dua hari berlalu begitu cepat, Neil Geiz dan Yuwe yang sudah menyiapkan rencana dan keperluannya kini sudah berada di pintu masuk bukit bulan Kerajaan Arta. Dengan mengenakan jubah yang sama seperti sebelumnya, mereka memasuki bukit bulan bersamaan.
__ADS_1