Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
46. Terus Maju


__ADS_3

"Apa master melihat rasa takut dimataku ?". Neil mengucapkan kata kata yang sering dikatakan oleh gurunya.


Geiz yang mendengar jawaban Neil sudut bibirnya berkedut. Merasakan keyakinan pada diri Neil, Geiz berkelakar. "Jangan bilang aku tidak mengingatkan. Jika sampai mati, aku akan membiarkan mayatmu dimakan binatang buas".


"Sebenarnya aku sudah membaca sedikit banyak tentang bukit bulan dari buku di perpustakaan master".


Geiz yang mendengar Neil mengatakan tentang bacaannya mengenai bukit bulan tersentuh hatinya. Dia tidak menyangka muridnya akan mencari tahu hal yang bukan menjadi urusannya.


"Ohh, kalau begitu aku jadi tahu kalau kau sudah siap untuk mati". Sindir Geiz.


"Ehh, aku tidak akan mati. Begitu juga denganmu master. Kita akan menemukan mereka".


"Kalau begitu persiapkan semuanya dengan baik".


Neil dan Geiz kemudian tersenyum dan tertawa bersama. Walaupun mereka tahu bahaya di depannya sangat berat, mereka akan menghadapinya dengan suka cita.


......................


"Mohon bimbingannya master".


Ren yang dimintai tolong oleh Geiz untuk memberi pelajaran kepada Neil mengenai ilusi mengeluh dihatinya. "Hahh, kena juga".


"Baca buku buku ini. Kalau ada yang tidak mengerti tanyakan". Ren melayangkan beberapa buku tentang sihir ilusi kepada Neil.


Sementara Neil yang sudah menerima bukunya hanya menarik nafas berat. Untung saja kemampuan otaknya sudah meningkat, jika tidak dia pasti sudah angkat tangan.


Ren yang melihat raut muka Neil sedikit cemberut kemudian berujar. "Kalau tidak suka dengan caraku mengajar, kembali saja sekarang".


Neil bergegas membuka buku untuk memberikan kesan yang baik pada Ren. Dia mengingat pesan Geiz untuk mengikuti arahan Ren walaupun itu melelahkan dan membosankan.


Neil membaca buku bukunya dengan serius, suasana terasa sunyi karena keduanya tidak mengeluarkan suara sama sekali.


"Maaf master, ada hal yang saya tanyakan".


"Katakan !"


"Disini disebutkan bahwa sihir ilusi masuk melalui mana, sentuhan, mata dan telinga. Bagaimana cara melindungi keempatnya untuk terhindar dari ilusi ?"

__ADS_1


"Pakai saja jimat anti ilusi".


Neil yang mendengar jawaban dari Ren berkedut sudut bibirnya. Dia merasa menyesal telah bertanya kepada Ren.


Sama seperti di pertemuan sebelumnya, pada pertemuan berikutnya, Ren juga menjawab pertanyaan Neil dengan gampangnya.


"Master, bagaimana caranya keluar dari ilusi jika kita sudah terjebak didalamnya ?"


"Tidur.. dan bangun".


Seperti itu seterusnya hingga Neil merasa jenuh dan berpikir kalau Master Ren tidak serius membimbingnya. Neil bahkan pernah protes akan jawaban dari Ren, tapi Ren sama sekali tidak peduli dan meminta Neil kembali jika tidak suka dengan caranya mengajar.


Hingga akhirnya Neil menemukan sebuah kata didalam buku yang tertulis. 'Melakukan sedikit hal belum tentu lebih buruk daripada melakukan banyak hal".


Membaca kembali dan mengaitkannya dengan cara Ren menjawab, Neil menyadari akan sesuatu.


"Jadi seperti itu". Gumam Neil dengan lirih.


"Sekarang aku mengerti kenapa master melakukan ini. Maaf karena sebelumnya aku meragukannya".


"Hhmm, lalu apa yang kau mengerti ?" Ren ingin mengetahui apa yang dipikirkan oleh Neil.


"Lalu.. apa yang harus dilakukan ?"


"Menutup sumber masuknya ilusi master". Neil mengucapkannya sambil menutup mata dan telinganya.


Ren yang melihatnya hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Tapi di dalam hatinya, Ren memuji kecerdasan Neil.


"Misi kalian di bukit bulan adalah melawan ilusi yang diciptakan oleh seekor rubah iblis. Banyak penyihir yang hilang karena ilusi tersebut. Geiz memang tidak salah mengajakmu bersamanya". -


"Sumber masuk ilusimu adalah sentuhan, mata dan telinga karena mana tidak berpengaruh sama sekali padamu. Untuk itu, peluangmu lebih besar untuk terhindar dari ilusi".-


"Kacamata itu akan melindungi matamu. Jubah dan sarung tangan itu akan melindungimu dari sentuhan ilusi. Yang terakhir kau hanya perlu menutup telingamu saja".


Neil yang mendengar penjelasan panjang kali lebar dari Ren sedikit tertegun. Pasalnya, dari kemaren kemaren Ren terlihat mengacuhkan Neil.


"Kalau seperti itu, untuk apa aku membaca buku sebanyak ini". Gumam Neil didalam hatinya.

__ADS_1


Dia tidak mungkin mengatakan kalau buku buku itu tidak berguna kan. Bisa bisa dia langsung ditendang keluar oleh Ren.


"Apakah semudah itu master".


"Mudah.." Ren yang mendengar perkataan Neil memicingkan matanya. Beruntung hanya dia yang mendengarnya. Jika seluruh dunia mendengar apa yang Neil katakan, mereka semua pasti akan mengutuknya saat itu juga.


Mengambil nafas panjangnya, Ren kemudian tertawa sendiri. "ha ha ha haha ha.."


"Lalu apa rencanamu ?". Selesai tertawa, Ren menanyakan apa yang akan dilakukan untuk membantu gurunya.


"Maju terus. Bukankah hanya perlu menutup telinga saja. Aku akan meminta Master Yosh untuk membuat alat penutup telinga".


"Kalau begitu pelajaran denganku selesai disini. Kembalikan buku bukunya".


Neil yang mendengar perkataan Ren berkedut sudut bibirnya. Pelajarannya selama beberapa minggu seperti tidak ada gunanya. Seperti mengerti apa yang dipikirkan oleh Neil, Ren kemudian berujar.


"Kalau tidak suka, mintalah kompensasi pada Geiz sialan itu. Aku juga tidak mengerti apa yang dipikirkannya". Dengan tak acuh Ren melanjutkan. "Apakah dia tidak bisa melakukannya sendiri hingga melibatkanku sejauh ini".


Geiz sebenarnya hanya meminta Ren untuk memberikan pengalaman kepada Neil agar memorinya reflek saat mengalami kejadian yang sebenarnya. Jika langsung dikasih tahu, itu akan kurang berbekas di memori Neil.


Sedangkan kenapa Geiz memilih Ren yang melakukannya, karena dia yang paling pas untuk pekerjaan membosankan seperti itu.


Neil yang mendengar keluhan Ren tidak bisa berkata apa apa. Dia hanya dapat mengeluh kembali di dalam hatinya. "Bukankah kalian sama saja. Kenapa tidak mengatakannya sedari awal saja. Benar benar keterlaluan".


"Ini untuk master". Neil memberikan sebuah kacamata kepada Ren.


Setelah Juan membuat kacamata dengan prototype yang diberikan oleh Neil, Juan menjadi buah bibir di kalangan murid dan guru di akademi. Juan lebih cepat terkenal karena dia bebas berkeliaran di seluruh sudut akademi. Berbeda dengan Neil yang seperti terkurung didalam lapas.


Neil yang mengetahui dari Lian bahwa Juan menyalahgunakan prototype buatannya awalnya merasa kesal, tapi Neil yang sadar bahwa dia juga hanya menjiplak karya orang lain dibumi akhirnya merelakannya saja. Lagipula itu juga tidak merugikannya.


"Ini. kau sengaja menyiapkannya untukku". Ren merasa senang mendapatkan kacamata dari Neil. Ren sebenarnya sudah berniat menghubungi Yosh untuk meminta membuatkan sebuah kacamata untuknya, tapi dia malah mendapatkannya lebih dulu dari Neil.


"Hanya ini yang dapat aku berikan sebagai tanda terima kasihku kepada master".


"Baiklah, aku menerimanya... Dan berikan benda ini pada Geiz sialan itu". Ren memberikan sebuah jimat kepada Geiz melalui Neil.


"Sepertinya aku pernah melihat benda seperti ini".

__ADS_1


"Itu adalah jimat anti ilusi. Tapi tidak bertahan selamanya. Hanya gunakan jika sudah memasuki bukit ilusi. Itu akan memberi waktu buat kalian". Terang Ren pada Neil.


__ADS_2