Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
35. Menolak


__ADS_3

"Pertama : Kenapa kau atau si dewa itu menyalahkanku. Apakah itu atas keinginanku?/ Katakan ".


"Kedua : Apa maksudmu mengatakan kalau kau yang seharusnya menggantikanku. Apa kau ingin aku mati".


"Ketiga : Bagaimana kalau aku tidak mau memilih salah 1 dari 4 warna itu ?"


Menyelesaikan perkataannya, Neil menarik nafas dalam. Dia ingin marah dan ingin memukul anak di depannya. Tapi saat melihat wajah imutnya dia tidak tega apalagi dia hanya seorang anak kecil.


"Hei bocah, cepat katakan ?"


Dengan tak acuh si anak menjawab. "Seperti itulah takdirmu, dan soal kematian itu memang seharusnya kau sudah mati saat masuk ke dunia ini".


"Apa kau bilang.." Neil kali ini benar benar sudah tidak bisa menerimanya. Tapi sebelum dia menyelesaikannya, perkataannya sudah dipotong.


"Dan kau tidak punya pilihan untuk tidak memilih 1 dari 4 warna itu". Si anak menekankan kata katanya.


"Tidak akan. Sudah menyumpahiku untuk mati, berani beraninya memintaku untuk menurut. Tidak mau". Mengacuhkan si anak, Neil memilih untuk diam.


Pada saat itu dia teringat bahwa dia sedang menjalani pertapaannya. Pikirinnya mulai berasumsi bahwa mungkin saat ini dia sedang diuji. Menarik nafas berat Neil kembali melanjutkan pertapaannya.


Jika si anak tahu pemikiran Neil, dia pasti tidak akan percaya dengan apa yang didengarnya. Dia telah mengatakan kebenaran pada Neil, tapi malah dianggapnya sebuah ujian.


Si anak yang melihat Neil kemudian tersenyum. Dia ingin menunggu sampai berapa lama Neil bisa bertahan dengan tekadnya. Dalam hatinya dia bergumam. "Tunjukkan seberapa besar tekadmu".


Berbalik ke belakang, si anak berjalan menjauhi Neil hingga tidak terlihat sama sekali. Warna yang semula berjumlah 4, sekarang bertambah 1 warna yaitu warna putih.

__ADS_1


Detik demi detik, bulan demi bulan, dan tahun demi tahunpun berlalu. Baik dipertapaan di domain sihir dan pertapaan di dunia lainnya, Neil masih dalam posisinya. Di benar benar terlihat seperti pertapa sungguhan dengan nyaris tanpa gerakan.


Geiz yang mendampinginya juga nampak terkejut. Semenjak Neil mendapatkan ritme pertapaannya, Geiz tidak lagi terus menerus memberikan mananya. Dia hanya beberapa kali memberikan mana untuk menjaga kondisi kesehatan tubuh Neil dan membersihkan pakaiannya.


Perkiraan Geiz yang akan kekurangan cadangan obat dan makanan ternyata salah. Dia sekarang bahkan memiliki stock berlebih jika pelatihan 7 tahun Neil telah selesai.


Walaupun secara stock aman, tapi Geiz masih mengkhawatirkan pertapaan Neil. Dia masih tidak bisa merasakan tekanan jiwa Neil, Geiz juga tidak mendapati bahwa Neil bisa menyerap mana.


Dengan nafas berat, Geiz hanya bisa berharap semoga Neil bisa mendapatkan kekuatan jiwa seperti superhero superhero yang pernah diceritakan kepadanya. Karena sudah hampir 7 tahun pelatihan Neil di domain sihir akan berakhir dalam beberapa bulan ke depan.


Berbeda dengan Geiz di domain sihir, jiwa si anak yang sedang berdiri menatap tajam kearah jiwa Neil sudah mengerutkan keningnya. Dia mengetahui bahwa dalam beberapa bulan ke depan, dia harus sudah bisa membuat Neil menentukan pilihannya.


Jika sampai Geiz membawa paksa tubuh Neil keluar dari domain sebelum jiwanya kembali, akan sulit bagi jiwa Neil untuk kembali masuk kedalam tubuhnya dikarenakan jalur yang dilalui oleh jiwanya berbeda.


Mengambil keputusan, si anak membangunkan Neil dari pertapaannya. Sebuah air keluar dari atas dan menyiram seluruh tubuh Neil hingga basah kuyub.


"Hujan...." dari duduk bersila menjadi berdiri Neil tidak bisa tidak mengeluh. "Apa ini, aku disiram.. siapa yang berani".


"Jadi menyerah"


"Ohh jadi ini ulahmu... sekarang aku benar benar sudah tidak tahan.. bersiaplah bocah. Pilih tangan kanan atau tangan kiri".


Mengedutkan bibirnya si anak tidak bisa lagi menahan tawanya. "Haa haha haaa hah hhaaaaaaaa"


"Ehh, malah ketawa. Pilih kanan -> kuburan, Pilih kiri -> rumah sakit...Jangan menyesali pilihanmua. Karena tidak memilih aku memberikan keduanya".

__ADS_1


Mengambil gerakan menyerang, Neil berniat menampar pipi kanan dan kiri. Perlahan Neil mendekati si anak hingga tatapan mereka bertemu.


"Ini pilihanku.." dengan berseru Neil mengibaskan kedua tangannya untuk menampar pipi anak didepannya.


Tapi saat tangan Neil sudah hampir menyentuh pipi si anak, Neil menghentikan gerakannya. Dia benar benar tidak tega melakukannya. Mengambil nafas berat Neil kemudian berseru. "AKU MENOLAK"


"Aku tidak akan memilih warna apapun. Aku akan menentukan jalanku sendiri. Aku menemukan teman temanku dan kembali ke bumi". Neil mengatakannya dengan penuh emosi.


Si anak yang mendengar jawaban Neil tidak percaya, memiringkan kepala dia menatap tajam ke arah Neil. Dia sudah tidak bisa berkata apa apa lagi.


"Apa kau ingin menentang kehendak Dewa ?"


"Aku hanya menentukan nasibku sendiri. Dengan usaha dan tekad, semangat dan mimpi". Balas Neil dengan percaya diri.


"Mimpi.. impian.. Menarik !!! Apakah semua manusia bumi seperti ini". Gumam si anak di dalam hatinya.


Setelah Neil mengutarakan tekadnya, kelima warna yang mengelilinginya menghilang. Neil kembali ke tengah lautan seperti awal jiwanya sampai.


"Tunjukkan padaku impianmu, aku ingin melihatnya". Suara yang tidak asing di telinga Neil menggema dilautan.


"Pasti... dan maaf, tapi kau harus bersabar karena aku tidak akan mudah mati begitu saja".


Menyelesaikan perkataannya, jiwa Neil tiba tiba mengeluarkan cahaya kuning keemasan. Si anak yang melihatnya hanya tersenyum. Tapi keluarnya cahaya dari jiwa Neil tidak disadari oleh jiwa Neil sendiri.


Tidak lama, jiwa Neil kembali kedalam raganya yamg berada di domain sihir. Walaupun jiwanya sudah kembali, Neil masih belum membuka matanya. Neil membutuhkan waktu beberapa hari untuk melakukan penyesuaian.

__ADS_1


Geiz yang menunggu penyelesaian pertapaan, sudah tidak sabar dengan perkembangan apa yang diperoleh Neil.


"Bocah ini benar benar menarik. Pencapaian yang luar biasa di tahap ini. Walaupun tidak bisa menyelesaikan target, setidaknya dia telah berusaha keras". Dengan sangat lirih Geiz memuji Neil.


__ADS_2