Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
04. Makam Kuno


__ADS_3

Tidak ingin mati sia sia, Neil perlahan membangkitkan tubuhnya. Menggertakkan gigi, Neil membulatkan tekad. "Aku masih ingin bertemu kalian... Setidaknya ayo keluar dari goa..."


Baru berjalan beberapa langkah, Neil melihat obor obor yang menyala. Mendapatkan penerangan bagi jalannya dia kemudian berjalan ke arah obor tersebut.


"Ehh, tunggu... Siapa yang menyalakan obor ini". Sambil bergumam Neil mengambil obor yang menempel di dinding dan berjalan maju. Dia berpikir, mungkin ada seseorang di dalam sana.


2 jam kemudian. "Apa apan ini, aku sudah berjalan sangat jauh tapi belum menemukan apapun. Apakah tertipu lagi".


Neil mengeluh dalam hati, dia tidak menemukan apapun setelah 2 jam berjalan. Kedua kaki dan tubuhnya telah gemetaran dari tadi, memaksakan diri Neil terus bergerak maju.


"Bukankah hanya perlu berjalan. Ini mudah". Neil terus bergumam untuk memecah kesunyian dengan iringan musik dari perutnya.


Hingga akhirnya dia sampai diujung goa dan terkejut. Neil melihat ruangan luas dengan ratusan obor menyala. Dinding goa yang berwarna cokelat tua nampak jelas dari pantulan obor. Jika diperhatikan, ruangannya nyaris bulat seperti lingkaran penuh.


Melihat sekitar, Neil tidak menemukan satu orangpun disana. "Apakah ada orang disana".


"Hallo". Neil mengucapkannya beberapa kali tapi tidak mendapatkan balasan apapun.


Bulu kuduknya tiba tiba berdiri, menghela napas berat, Neil memasuki ruangan dengan menyusuri dinding goa. Merasakan dinding goa yang hangat, Neil bersandar ke dinding. Merasa nyaman, dia mengistirahatkan tubuhnya.


"Dindingnya hangat, apakah karena obor obor ini... Juga teksturnya halus, tidak..sangat halus seperti keramik ubin. Atapnya seperti kubah dengan beberapa batu berwarna. Sangat romantis tapi juga menyeramkan." Hanya melihat ruangannya Neil merasakan kagum kepada perancangnya.


Ruangan seperti ini, pasti menghabiskan banyak waktu dan biaya. Terlihat sederhana tapi sangat rapi dan elegance. Neil terbawa suasana ruangan yang hangat dan nyaman hingga ia tertidur.

__ADS_1


Neil tertidur dengan bersandar pada dinding goa. Padahal dia telah tertidur lama sebelumnya. Mungkin rasa lelah dan lemas membuatnya memerlukan waktu istirahat yang lebih.


Tidak lama terpejam, Neil bangun kembali. Rasa sakit, lapar dan haus yang diderita tidak mengizinkannya untuk lama lama tertidur. Membuka matanya, dia masih melihat ruangan yang nyaris bulat itu.


Padahal Neil berharap kejadian saat ini adalah sebuah mimpi. Dia berharap saat bangun, dia sedang tertidur diatas kasur empuknya. Tapi harapannya salah, dia masih berada di dalam goa sebelumnya.


"Menghela napas berat sambil meringis, Neil kembali mengamati ruangan. Memandang kedepan Neil merasa penasaran dengan batu besar diujung ruangan.


"Apakah batu besar itu meja makannya, tapi nampak seperti peti batu".


"Hhmmm... mungkin itu meja makan dan tempat penyimpanan makanan".


Rasa lapar yang teramat, menstimulan Niel berpikir selalu tentang makanan. Dia bahkan sudah merencanakan akan hanya makan dan tidur selama seminggu jika berhasil keluar hidup hidup dari goa.


Sampai di depan peti mati Neil bingung harus membukanya atau tidak. Dia takut sang pemilik mengetahuinya, hatinya melarang untuk mencuri. Bagaimana kalau itu bukan makanan tapi benda yang sangat berharga. Hati dan pikiran Neil sudah tidak sinkron.


Neil dari kecil memang diajarkan untuk jangan pernah mencuri. Sempat waktu kecil dia ketahuan mencuri mainan tradisional milik anak pelayannya, ayahnya memarahi Neil sampai beberapa hari tidak mengizinkannya keluar rumah. Sejak saat itu, Neil takut untuk mencuri. Tapi sekarang kondisinya berbeda, Neil sedang dihadapkan antara hidup dan mati.


Setelah mengambil beberapa makanan, Neil akan menunggu pemilik goa dan meminta maaf. Dia berpikir kalau dia tidak makan sesuatu, dia akan mati. Neil masih yakin kalau di dalam peti setidaknya terdapat makanan mengingat kondisi ruangan yang terawat dan obor obor yang masih menyala.


Jika dia mencuri sedikit, dia masih memiliki kemungkinan untuk hidup jika dia mendapatkan maaf dari pemilik goa. Dia mungkin juga bisa keluar dari goa itu dengan bantuan pemilik goa.


Membulatkan tekad, Neil menarik tutup peti mati tersebut hingga terbuka seluruhnya. Alangkah terkejutnya saat matanya menatap kedalam peti. Seketika Neil mematung ditempatnya, tubuhnya benar benar mengeras seperti batu dan tanpa diperintah mulutnya terbuka. "Mayat...."

__ADS_1


Dengan tatapan terkejut bercampur takut, Neil memperhatikan kondisi mayat dari atas kepala sampai kaki. Dengan jasadnya yang masih utuh dan tidak bau, Neil berasumsi bahwa mayat didepannya masih baru.


Mendengar teriakan cacing cacingnya, dengan nafas berat Neil menyesali tindakane. Dia telah membuka makam orang tanpa ijin yang dikira tempat penyimpanan makanan.


"Apakah dia orang yang telah menyelamatkanku ?" Gumam Neil lirih.


Menyadari tindakannya yang tidak benar, Neil langsung bersujud memohon maaf kepada si mayat. Namun tiba tiba sebuah cahaya terang keluar dari peti mati. Neil yang sedang bersujud terkejut dengan fenomena yang baru pertama dilihatnya.


Dia sangat ketakutan karena dia berpikir telah mengganggu makam seorang tokoh ternama. Dia pernah mendengar bahwa makam orang orang terpilih itu dilindungi. Tapi dia juga merasa bingung, kenapa dia harus dipindahkan ke goa makam orang terpilih. Saat ini pikiran Neil benar benar tidak karuan.


Sebelum pikirannya kembali, Neil dikejutkan lagi dengan sosok makhluk didepannya. Cahaya yang keluar dari peti mati berkumpul dan berubah menjadi sebuah proyeksi manusia yang mirip dengan jasad mati yang berada didalam peti mati. Proyeksi tersebut mulai menjelaskan siapa dirinya dan akan memberikan warisannya kepada anggota keluarga siapapun yang berhasil menemukan makamnya.


Setelah menyelesaikan maksudnya, proyeksi yang merupakan sebuah sihir jiwa itu menghilang dari hadapan Neil. Neil yang tidak mengerti apapun apa yang dikatakan oleh proyeksi tersebut hanya dapat menjatuhkan rahangnya.


"Sebuah rekaman tanpa layar... apakah dunia sudah secanggih ini.. lagipula bahasa apa itu, aku benar benar tidak pernah mendengarnya".


Neil yang tambah penasaran, mulai melihat kembali kedalam peti mati. Neil melihat jasad yang terbaring didepannya sama persis dengan proyeksi sebelumnya. Jasadnya tidak dibungkus dengan kain kafan tapi masih terjaga. Neil yang melihat itu hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Menganggap semuanya tidak masuk akal karena tidak ada apapun sebagai pengawet.


Mengalihkan pandangan ke kotak kayu kecil yang menjadi bantalan kepala, Neil kemudian mengambilnya. Neil berani mengambilnya karena proyeksi sebelumnya yang menampilkan kotak tersebut beserta isinya.


Walaupun tidak yakin, tapi Neil mengartikannya sebagai hadiah bagi si penemu. "Sepertinya tadi ada beberapa botol air".


Neil mulai membuka kotaknya hanya untuk menemukan air. Jika para ahli sihir mengetahui pikiran Neil, mereka pasti akan mengutuk pemuda lugu tersebut. Bagaimana mungkin sebuah ramuan tingkat tinggi dibandingkan dengan air biasa.

__ADS_1


__ADS_2