
"Sial... kekuatan yang luar biasa". Neil mendengus dingin merasakan kekuatan raksasa rubah yang luar biasa.
"Apa kau sekarang merasa takut anak manusia ?" Ejek si rubah dengan angkuhnya. Tidak menjawab, si rubah melanjutkan kata katanya. "Jika saja kekuatanku tidak tersegel sebagian, mungkin kau sudah menjadi debu sekarang".
"Sial, bahkan dengan bantuan dari jiwaku yang lain aku masih belum bisa menandinginya !" Gumam Neil dengan lirih.
"Bagaimana kalau menjadi budakku disini ?" Raksasa rubah memberikan tawaran kepada Neil.
"Menjadi budakmu, jangan harap !"
Mengambil pedangnya, Neil langsung menghilang dan muncul diatas raksasa rubah. Berniat menebas kepala si rubah, tapi mulut raksasa rubah terbuka lebih dulu dan 'blaarrr', sebuah energi berwarna kuning keluar dari mulut raksasa rubah dan membakar Neil.
Sekali lagi beruntung jubahnya melindungi Neil dari energi kuning yang membakarnya. Berpura pura terluka parah dan terjatuh, Neil dengan cepat menyerang raksasa rubah yang sedikit lengah.
"Jleebbbb..."
Pedang Neil mengenai dahi raksasa rubah dan terus turun kepelipis matanya. Dengan penuh amarah, raksasa rubah kembali menghempaskan Neil hingga menabrak pepohonan. Kali ini Neil mendapat luka yang cukup serius setelah sebelumnya telah terbakar energi si rubah.
"Aarghhh". Neil mengerang kesakitan.
Raksasa rubah yang mendapatkan luka di dahinya menjadi sangat marah. Dua kali dilukai oleh seorang manusia rendahan, dia terlihat sangat murka.
"Tidak ada cara lain. Inilah kesempatan terakhir kita. Maaf, jika aku tidak bisa melindungi tubuh ini". Gumam Neil pada jiwanya yang lain.
Sebuah lubang hitam tiba tiba tercipta di depan Neil. Mengeluarkan seluruh kekuatannya yang tersisa, lubang hitam semakin besar dan menyerap berbagai benda didepannya dengan target utamanya adalah raksasa rubah.
Raksasa rubah yang mulai terserap kedalam lubang hitam berusaha mempertahankan posisi tubuhnya, dia bahkan membuat perisai pelindung sebagai pegangan. Dia tidak menyangka kalau Neil adalah seseorang yang sudah ditunggunya sejak lama.
"Hentikan !" Raksasa rubah meneriaki Neil untuk menghentikan serangannya.
"Kenapa... apa kau sekarang yang merasa takut ?"
"Ciihhh..." Kali ini raksasa rubah yang mendengus dingin. Dia tahu kalau lubang hitam di depannya akan terus menghisapnya. Sementara dia tidak bisa pergi meninggalkan bukit bulan. Mau tidak mau dia harus mengalah dengan Neil.
"Bukankah kau ingin bertemu dengan gurumu ?" Seru raksasa rubah dibalik dinding perisainya. Melihat Neil tidak menjawab, dia melanjutkan. "Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan ?".
Mendengar tentang kehidupan Geiz dan Yuwe, Neil menjadi bimbang. Sebelum memutuskan, dia ingin melihat kesungguhan raksasa rubah terlebih dulu. "Bagaimana caranya aku percaya padamu ?"
__ADS_1
Raksasa rubah kemudian memperlihatkan Geiz, Yuwe dan orang orang yang berada didalam kendali raksasa rubah. Tak lama, Geiz dan Yuwe muncul di hadapan Neil dengan posisi tidur terlentang.
Melihat Geiz dan Yuwe, Neil kemudian menghampiri dan memeriksa keadaan mereka berdua. Setelah memastikan keadaan keduanya, Neil kemudian menatap ke arah raksasa rubah.
Menarik kekuatannya, lubang hitam perlahan menghilang dari hadapan raksasa rubah. Perisai pelindung rubahpun mulai pudar seiring menghilangnya lubang hitam.
"Hahaha... aku tidak menyangka kalau seseorang yang lama ku tunggu adalah seorang anak manusia". Seru si rubah sambil tertawa.
"Apa maksudmu ?"
"Seseorang memberitahuku tentang sebuah ramalan, dia mengatakan akan datang seorang pengguna sihir dimensi ke bukit ini". Balas raksasa rubah yang mulai sopan.
"Tidak usah berbelit belit, sekarang katakan apa kesepakatannya ?"
Memandang anak manusia didepannya yang tidak tahu diri, raksasa rubah kemudian mengaum tepat di depan wajah Neil. "Rooaarrrr..."
Mendapat sambutan hangat dari si rubah, muka Neil benar benar terasa hangat. Bukan hangat karena mendapat sanjungan tapi karena uap air dan lendir yang terciprat ke arah wajahnya.
"Bukan hanya kau berhak membawa mereka berdua, tapi aku akan mengabulkan 1 permintaanmu ?"
"Apa syaratnya. Tidak mungkin kan kau akan memberikannya gratis ?"
"Katakan saja, tidak perlu berbelit belit ?"
"Haahahaa, bagaimana kalau kau gagal !"
"Lepaskan mereka berdua, itu saja yang ku inginkan !"
Neil dan raksasa rubah saling pandang. Setelah beberapa saat, mereka berdua berseru secara bersamaan. "Sepakat"
...*******...
"Selamat datang di taman anggrek bulan". Putri Teresta menyambut kedatangan Sam dan teman temannya.
Sam yang selama seminggu ini terus mendapat teror dari Verzy dan Fahre terpaksa menuruti permintaan mereka untuk berlatih bersama dengan Putri Teresta dan teman temannya.
Sebenarnya tanpa kehadiran Sam pun Putri Teresta masih tetap menerima kehadiran mereka. Hanya saja karena sebelumnya Verzy dan Fahre telah berjanji untuk hadir bersama dengan Sam dan Lien, sebagai lelaki yang harus menepati janjinya, dengan cara apapun mereka harus bisa menghadirkan Sam dan Lien.
__ADS_1
Mendapatkan tatapan tajam dari Keyla Eister, Sam dan Lien hanya mengacuhkan saja. Verzy yang mewakili mereka bertiga kemudian menyambut salam dari Putri Teresta.
"Maaf kami terlambat Putri. Ada sesuatu yang perlu kami lakukan terlebih dulu".
Setelah mengatakan permintaan maafnya, Verzy yang mewakili ketiganya memunculkan sebuah hadiah dari tangannya. Hadiah tersebut langsung diberikan kepada Putri Teresta.
"Terima kasih atas hadiahnya Zy ?" Balas Putri Teresta.
Teman teman Putri Teresta yang berdiri disamping hanya manyun saat hadiah yang diharapkan tidak kunjung mereka terima. Ternyata mereka mengharapkan hadiah dari Verzy dan teman temannya.
"Silahkan duduk terlebih dahulu ?" Pinta Putri Teresta.
"Terima kasih !"
Sam dan teman temannya yang masuk kedalam taman anggrek bulan merasa sedikit terkejut. Mereka tidak menyangka ada fasilitas seperti itu di kawasan asrama.
"Kami tidak menemui ada tempat seperti ini di kawasan asrama putra ?"
"Kalian tidak akan pernah menemuinya, karena asrama ini khusus untuk anggota kerajaan". Jawab salah satu teman Putri Teresta.
"Pantas saja. Tapi apakah di asrama Putra Mahkota juga terdapat hal khusus seperti ini ?"
"Tentu saja !" Jawab Putri Teresta dengan lugas.
Setelah sampai di meja tamu, mereka melihat berbagai aneka makanan dan buah buahan yang masih segar. Melihat ke arah Putri Teresta, mereka menganggapnya wajar karena sebagai Putri kerajaan dia berhak mendapatkan fasilitas yang terbaik.
"Sepertinya kalian terlihat sedikit tidak senang ?" Keyla Eister menunjuk ke arah Sam dan Lien.
"Apa matamu buta. Apakah raut muka kami terlihat tidak senang !" Lien mulai memasang raut muka imutnya.
"Kau.. aku menantangmu untuk bertarung satu lawan satu !"
"Aku tidak melawan wanita !"
"Apa kau takut melawanku...Ternyata kau hanya bermulut besar saja !" Ejek Keyla Eister dengan angkuhnya.
"Ohh, kalau ini rencanamu. Baik, aku menerima tantanganmu. Jangan katakan kalau aku tidak mengingatkan sebelumnya". Balas Lien dengan tak acuh
__ADS_1
Lien dan Key berjalan ke tengah taman anggrek bulan bersamaan. Sesekali Keyla melirik ke arah Lien untuk mengamati perilakunya. Tapi melihat Lien yang masih sangat tenang, Keyla Eister merasa sedikit kesal.