
Meninggalkan pandangannya dari isi kotak yang tidak berguna, Neil kembali menatap ke dalam makam. Neil penasaran dengan beberapa keajaiban yang terjadi dari mulai proyeksi pemilik makam hingga cairan ajaib.
Juga yang tidak dimasuk akal adalah kondisi jasad yang masih utuh dan baik padahal kondisi peti yang berdebu mengisyaratkan bahwa makam itu bukan makam baru.
"Jasadnya, pakaiannya, benda benda di dalamnya seperti terpelihara. Bagaimana mungkin".
"Ehh, pakaian". Melihat pakaiannya yang robek robek, dan pakaian pemilik makam yang tampak elegan, niat jahat Neil naik ke permukaan.
"Maaf tuan pemilik makam, kali ini aku benar benar terpaksa mengambilnya".
Neil mengambil jubah pemilik makam dari jasadnya dan mengenakannya dengan rasa bersalah.
"Hanya jubah, seharusnya tidak apa apa kan".
Neil telah memeriksa bahwa jasad pemilik makam mengenakan pakaian panjang di dalam jubahnya, sehingga ia berani mengambil jubahnya. Dan meminta maaf 3x dengan bersujud.
"Jubah ini sedikit kebesaran, tapi masih lebih baik. Bahannya juga adem nyaman dipakai".
Setelah merasa lebih baik, Neil kemudian menutup peti mati seperti sebelumnya. Tapi saat menutupnya, Neil terkejut karena tutup peti terasa lebih ringan dari sebelumnya.
"Hmm, bukannya sebelumnya sangat berat.. tapi ini sangat ringan.. apa karena aku sudah sembuh ?" Neil kembali penasaran.
Tidak ingin berpikir banyak, Neil berusaha melupakan kejadian yang diluar nalar dan kasus pencurian makamnya. Neil kembali berpikir bagaimana caranya keluar dari goa terkutuk itu dan segera mencari Ken dan Deila.
Neil berpikir untuk kembali ke tempat pertama kali dia pingsan dan berjalan menuju ke arah lain goa.
"Sebaiknya aku kembali ke tempat pertama".
__ADS_1
Baru akan melangkah Neil tidak sengaja melihat kembali isi kotak yang tidak berguna itu.
"Hmm, mungkin benda itu akan berguna nanti, jadi tidak masalah aku membawanya, juga jubah ini memiliki banyak kantong kantong".
Neil sengaja memakai terbalik jubahnya karena khawatir jubahnya dikenali dan dianggap maling. Tentunya kantong kantong yang seharusnya berada di lapisan dalam jubah, sekarang terdisplay sempurna diluar.
Setelah meletakkan buku sihir, cincin dimensi dan tongkat sihir naga ke dalam kantong, Neil berjalan kembali ke tempat semula. Dengan mengenakan jubah baru curiannya, Neil nampak seperti assasin yang siap membunuh targetnya.
Neil yang sedang mencari pintu keluar merasakan keanehan pada tubuhnya. Goa yang seharusnya gelap nampak seperti terang. Neil bahkan tidak membawa obor seperti sebelumnya.
Hidungnya juga lebih tajam, bau seperti belerang yang sebelumnya tidak begitu terasa sekarang terasa menyengat. Kelembaban goa juga lebih terasa disentuhan Niel.
"Hhm, aku merasa kalau panca indraku meningkat tajam. Aku sudah beberapa kali masuk kedalam goa sebelumnya, rasanya tidak seperti ini."
"Aku bisa melihat di kegelapan, telingaku bisa... Ehh, perutku tidak berbunyi". Neil baru sadar bahwa dirinya sudah tidak merasakan lapar dan haus.
"Hanya tinggal lidahku yang belum dicoba"
"Lontong sayur, baso, soto, rendang, burger, pizza, jus alpukat kesukaanku... Dimana kalian".
Melihat sekitar hanya berupa bebatuan, sudut bibir Neil berkedut. Neil terus menyelusuri goa hingga akhirnya sampai di tempat pertama dia pingsan. Melihat kembali ke sisi lain jalan, Neil masih dapat melihatnya dengan jelas.
Ingin segera keluar Neil terus berjalam maju. Setelah berjalan cukup jauh keluar, disisi kanan jalan terdapat sebuah ruangan luas yang ditumbuhi banyak tanaman herbal berusia ribuan tahun yang sangat berharga.
Neil yang melihatnya nampak sedikit bersemangat. Akhirnya dia menemukan makanan.
"Wahh, ini kan goa, kok banyak tanaman. Ubi atau singkong ada ngga ya". Neil berkeliling di kebun herbal cabut sana cabut sini.
__ADS_1
30 menit kemudian. "Apa apaan ini, kenapa rasanya tajam sekali..huek..." Neil sudah mencoba peningkatan indra perasanya dan hasilnya rasa dari makanan yang dia makan lebih terasa di mulutnya.
"Kenapa ginseng rasanya jadi pedes gini".
"Ini apa si, lebih pahit dari brantawali".
"Ciplukan asem".
"Hanya daun ini yang rasanya enak".
Memakannya, raut muka Neil tampak suram. Dirinya sekarang seperti herbivora yang hanya bisa makan dedaunan.
"Sepertinya ini kebun herbal, beberapa tanaman yang aku makan hasilnya menyehatkan. Aku merasa hangat dan lebih bersemangat. Hehe, nampaknya aku menemukan banyak harta. Kalau dijual ke pabrik jamu pasti untung besar". Gumam Neil sambil mengunyah daun bermotif es yang dingin dan manis.
Merasa membutuhkan banyak cadangan makanan, Neil mengumpulkan banyak herbal dan memasukkan kedalam kantongnya. Seandainya dia tahu fungsi cincin dimensi, Neil pasti akan mengambil semua herbal dan memasukkannya ke dalam cincin dimensi.
Neil yang sudah merasa kenyang memutuskan untuk istirahat melepas lelah. Dengan melihat ke celah cahaya, Neil mengira bahwa diluar sekarang sedang waktu malam.
Neil yang sebenarnya belum ngantuk karena telah pingsan selama 4 hari, berpikir rasional bahwa besok dia harus berjuang kembali.
Sebelum tidur, Neil merenungkan nasibnya paska terbawa arus aneh di laut tenggara. Neil sangat mengkhawatirkan nyawa teman dekatnya. Kalau tahu kejadiannya bakal seperti ini, dia akan membatalkan pesenan paket wisatanya sejak awal.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Keesokkan harinya Neil kembali melanjutkan perjalanannya keluar goa setelah sarapan dengan daun daun yang manis dan meminum air perasan ginseng yang ditumbuk tumbuk.
Dengan kepekaan indra penciumannya, Neil sekarang berkebutuhan untuk mandi. Jika ditunda, dia mungkin akan muntah muntah oleh baunya sendiri.
"Aku harus bergegas keluar dan mencari air. Ini sudah cukup lama sejak tubuhku tersentuh air. Beruntung ramuan ajaib itu juga membersihkan kulit kulitku. Setidaknya saat ini masih bisa tertahan".
__ADS_1