Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
58. Lelah


__ADS_3

"Cantik sekali". Gumam Lien yang masih didengar oleh Sam dan beberapa orang disekitarnya. Tapi gumaman Lien menjadi biasa karena hampir sebagian besar kerumunan pemuda juga mengucapkannya.


Memegang bahu Sam, Lien bergelayut manja memandangi Putri Teresta. Sam yang merasa risih melepaskan pegangan Lien pada bahunya.


"Jangan berlebihan Lien.. lepaskan !"


Lien yang tidak peduli dengan perlakuan Sam padanya kembali menatap dan memuji bidadarinya hingga membuat Sam merasa jijik.


"Kenapa kau menatapku seperti itu Sam ?"


"Tidak, aku hanya merasa mual".


Kali ini Lien merasa kesal dengan Sam. Dia menggerutu dengan tak acuh. "Lihat mereka. Bukan aku saja yang memuji Putri Teresta".


"Tidak mengapa kalau hanya memuji. Tapi kalau sudah berpikiran kemana kemana itu".


"Itu apa... Kau saja yang tidak wajar. Bagaimana mungkin seorang pria tidak tertarik dengan wanita secantik Puteri Teresta". Sindir Lien yang tidak mau kalah.


"Kau yang tidak wajar. Kita masih berusia 11 tahun. Tidak, kau 10 tahun. Tidak seharusnya berpikir seperti itu !" Balas Sam yang kini menyindir Lien.


"Sebulan lagi aku 11 tahun".


"Tetap aja masih 10 tahun".


"Heiii kalian! Tidak bisakah kalian diam saja. Aku pusing mendengarnya". Seseorang dibelakang Lien mengajukan protres atas keributan yang dibuat oleh Sam dan Lien.


"Dia dulu yang mulai". Lien menunjuk ke arah Sam.


Sam yang lebih tua akhirnya mengalah. Dia meminta maaf kepada orang dibelakang Lien. "Maafkan kami".


Lien yang masih kesal dengan Sam masih berdiri tak acuh. Dia memandang orang dibelakangnya dengan cemberut. Menganggapnya sebagai pengganggu yang menghentikan perdebatannya dengan Lien.


Kembali menatap ke depan, Lien langsung memegang pundak Sam dan bergelayut manja. Kali ini Sam membiarkan Lien memegang pundaknya. Orang dibelakang Lien merasa aneh dengan perubahan sikap dua orang didepannya. Tadi seperti mau berkelahi, sekarang akrab kembali.


"Apa kau mau minum Lien ?" Mengambil sebotol air putih dari cincin dimensinya, Sam menawari Lien minum.

__ADS_1


"Aku bawa sendiri. Hahh, panas sekali ?"


Setelah menunggu antrian berjam jam, akhirnya giliran Sam memulai seleksinya.


"Sam Huosan. Apa kau putra Duke Huosan ?" Petugas pertama seleksi menanyakan identitas Sam.


"Benar. Saya putra Duke Huosan, Sam Huosan".


Melihat putra seorang Duke mengantri bersama barisan rakyat dan putra pedagang, petugas seleksi merasa kagum dengan kepribadian pemuda didepannya.


"Letakkan telapak tanganmu di bola ini !". Pinta petugas seleksi kepada Sam.


Sam kemudian meletakkan telapak tangannya di bola sihir yang telah disediakan. Melihat hasilnya, petugas seleksi menghela nafas panjang.


"Luar biasa. Level 4 diusiamu saat ini. Kau mengingatkanku pada Daniel".


"Apakah kakak dulu juga sudah di level 4 saat mengikuti seleksi ?" Tanya Sam penasaran.


"Benar, dan dia juga menjadi lulusan terbaik pada waktu itu". Melihat Sam termenung, petugas meminta Sam melanjutkan seleksinya. "Nak Sam bisa melanjutkan seleksi kedua disebelah sana".


Melihat Sam melangkah, Lien langsung maju sebelum dipanggil. Petugas seleksi yang melihatnya hanya membiarkannya. Setelah diukur kapasitas mananya, Lien diketahui berada satu level dibawah Sam.


Juan yang sedang duduk dikursi utama, yang juga sedang mengkhawatirkan keadaan Neil Geiz dan Yuwe sedikit teralihkan dengan kemampuan Sam. Melihat ekspresi Juan, Milia merasa sedikit senang. Pasalnya selama setahun ini tanpa kabar dari wilayah bukit bulan, Juan selalu terlihat murung.


Putri Teresta yang melihat dan mendengar kemampuan Sam nampak tertarik dengan Sam. Apalagi saat mengetahui bahwa Sam adalah putra Duke Huosan, Putri Teresta semakin kagum dan pandangannya selalu mengarah ke Sam.


Lien yang melihat pandangan Putri Teresta ke arah Sam sedikit cemberut. Tapi sebagai saudara dia turut senang jika Sam bahagia. Dalam hatinya Lien bergumam. "Sam memang pantas mendapatkan yang terbaik".


Di seleksi ketiganya, Sam juga mendapatkan hasil yang sangat baik. Keluarga Huosan yang terkenal kuat memang bukan isapan jempol belaka. Sam membuat angka tertinggi.


Seleksi seperti itu tentu mudah bagi Sam dan Lien yang sudah mendapatkan pelatihan secara langsung dari Tetua Guo. Sebenarnya Sam malas mengikuti seleksinya, tapi karena itu sudah menjadi keharusan saat akan masuk akademi, Sam dengan senang hati mengikutinya.


Diakhir seleksi, Sam menjadi peserta seleksi terbaik di tahun ini. Selanjutnya diikuti oleh seorang pemuda dari keluarga penyihir gelap. Pemuda tersebut juga berada di level 4, dan hanya kalah dari segi kekuatan dibandingkan dengan Sam.


Juan yang mendapatkan anak didiknya memiliki bakat istimewa merasa sangat bahagia. Mengakhiri proses seleksi Juan memberikan semangat kepada seluruh peserta yang terpilih. Juan mengingatkan kepada mereka untuk mematuhi peraturan akademi. Tidak peduli itu bangsawan atau rakyat biasa, jika melanggar peraturan akan dihukum.

__ADS_1


Sementara Duke Kiel yang mendengar prestasi Sam sangat senang. Dia sebenarnya ingin menyusul Sam ke akademi, akan tetapi Viana melarangnya. Viana khawatir kalau suaminya hanya akan merepotkan akademi.


Duke juga mendapat sanjungan dari akademi bahwa putranya sangat rendah hati. Dia antri bersama dengan rakyat dan tidak menyombongkan dirinya saat menjadi peserta yang terbaik.


Masuk ke asrama, Sam mendapatkan kamar yang berbeda dengan Lien. Sebenarnya Lien sudah meminta tukar tempat dengan pemuda yang sekamar dengan Sam, tapi pemuda itu menolaknya. Akhirnya Lien kembali sekamar dengan pemuda yang dipilih oleh akademi.


"Perkenalkan, Sam". Sam memperkenalkan diri kepada teman sekamarnya.


"Verzy... panggil saja Zy".


"Senang bertemu denganmu Zy".


"Senang juga sekamar denganmu Sam. Tadi kau sangat hebat. Terus terang aku sedikit minder denganmu".


"Kenapa, bukankah kita sama sama makan gandum".


"Aku hanya putra seorang Viscount".


"Sama sekali bukan masalah. Lagipula bukankah status kita disini sama. Jadi, mari berjuang bersama !"


"Terima kasih Sam. Ehmm, maaf untuk temanmu tadi ?"


"Ohh Lien. Tidak usah dipikirkan. Aku lebih tenang tidak sekamar dengannya".


"Ehh, begitu !"


Baru membaringkan tubuhnya diatas kasur, Sam yang sudah sedikit kelelahan diajak makan ke kantin oleh Verzy.


"Apa kau sudah makan malam Sam, bagaimana kalau kita ke kantin. Aku dengar jam segini kantin sangat ramai. Mungkin kita bisa melihat Putri Teresta disana ?".


"Aku lelah Zy, mungkin besok saja. Saat ini aku ingin tidur dahulu". Sam menolak makan di kantin bersama Zy, dia lelah seharian antri berdiri di bawah terik matahari.


"Baiklah. Apa kau ingin makan sesuatu. Aku akan membelikannya untukmu ?".


"Terima kasih Zy, tapi tidak perlu".

__ADS_1


"Baiklah". Verzy meninggalkan kamarnya dan menuju ke kantin.


Lien juga sudah terlelap. Lien yang masuk lebih dulu ke kamarnya bahkan belum sempat berkenalan dengan teman sekamarnya. Sepertinya mereka berdua tidak terbiasa lama lama berjemur dibawah terik matahari.


__ADS_2