
"Cracckk crakck crackk...".
Lapisan pelindung mana yang melindungi gulungan akhirnya berhasil dihancurkan. Pimpinan Dark Eyes, Jet Ma yang kehabisan mana nampak kelelahan.
Walaupun wajahnya terlihat pucat, tapi senyum diwajahnya lebih mendominasi. Wajahnya yang tampan terlihat jelas.
Diruang pribadi, Jet Ma selalu melepas topengnya. Di usianya yang sudah ribuan tahun tapi penampilannya masih seperti pria dewasa di usia 40 tahunan. Rambutnya yang berwarna perak dan bola matanya yang juga berwarna perak membuatnya terlihat lebih tampan.
Mengambil dan menelan beberapa buah pil penyembuh tingkat tinggi, kondisi Jet Ma sedikit lebih baik. Dengan antusias dia membuka gulungan sihir didepannya yang sudah susah payah di dapatkan. Baru membukanya dan melihatnya, ekspresinya nampak murung.
"Ternyata sedekat ini".
Jet Ma yang sudah siap dengan petualangan mencari harta karun, nampak tertekan karena lokasi makam kuno tidak jauh dari markasnya.
Jet Ma hanya mendengar dari keluarganya bahwa makam leluhurnya berada di sebuah hutan terlarang. Ada 9 hutan terlarang di dunianya, dia tidak menyangka bahwa markas kesukaannya berada didekatnya.
Jet Ma memang mendirikan 9 markas di tiap tiap hutan terlarang. Tapi markas di hutan terlarang wilayah kekuasaan kerajaan Eisland adalah markas favoritnya.
"Apakah ini yang dinamakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sama sama menyukai tempat yang sama". Gumam Jet yang masih nampak tertekan.
Mengambil nafas berat, Jet memerintahkan Kun dan pasukannya yang tersisa di markas untuk mempersiapkan diri mencari harta karun esok hari.
Jet tentunya ingin memulihkan diri selama 1 hari ini karena dia tidak tahu rintangan apa yang akan menghadangnya di makam.
Jet bukan orang bodoh yang bertindak tanpa perhitungan. Pengalamannya di organisasi pembunuh bayaran membuatnya lebih bijak dalam mengambil keputusan.
__ADS_1
Kun yang mendengar perintah tuannya melalui telepati, bergegas mengumpulkan semua pasukan yang tersisa di markas untuk bersiap siap termasuk Demia.
Demia adalah yang paling bersemangat ketika mendengar perintah itu, dia sudah bosan beberapa hari di dalam markas bawah tanah yang gelap dan dingin.
Setelah berjalan cukup jauh, Neil akhirnya hampir tiba di mulut goa, dia bertambah semangat ketika ruangan goa semakin terang. Neil pun mempercepat langkahnya untuk cepat cepat keluar dari goa.
Tapi alangkah terkejutnya Neil saat sudah berada di kerongkongan goa, dia dikejutkan oleh seekor harimau hitam yang tiba tiba muncul didepannya.
Harimau yang melihat tingkah Neil yang ketakutan kemudian terkekeh.
"Ma.. maa.. maa.. macan !" Neil berteriak histeris saat mendengar auman harimau yang sebenarnya dia sedang terkekeh.
Tidak tahan menahan rasa takutnya Neil berlari tunggang langgang ke belakang. Harimau yang melihatnya kemudian duduk ala macan dan menatap ke dalam goa dengan ekspresi datar.
Neil yang melihat batu besar didepannya langsung segera bersembunyi di baliknya. Dengan nafas terengah engah Neil terus berdo'a agar bisa selamat dari macan yang di lihatnya.
Neil tidak melihat harimau penjaga di dekatnya, Neil juga merasa kalau harimau tidak mengejarnya.
"Syukurlah macan siluman itu tidak mengejar. Hufft, apakah ini goa siluman, benar benar menakutkan."
"Apakah macan itu penjaganya... Tapi, siapa yang membawaku masuk ke dalam."
"Heeii, siapapun kamu yang mau menolongku...atau mencelakaiku, KELUARLAH".
"TUNJUKKAN DIRIMU....."
__ADS_1
Neil beberapa kali menyeru orang yang menolongnya, tapi sama sekali tidak ada kecuali suaranya yang menggema di dalam goa.
Harimau yang mendengar suara menggema nampak tidak peduli, tapi hatinya penasaran dengan sosok pemuda yang mengenakan jubah tuannya. Tidak ada balasan, Neil nampak sangat tertekan. Dia ingin keluar tapi di depannya ada harimau yang menghadangkan.
Setelah beberapa lama berpikir, Neil akhirnya memberanikan diri untuk kembali ke tempat harimau berada.
"Macannya sedang tidur, ini kesempatan". Neil melihat harimau penjaga sedang tidur. Dia mengendap endap seperti ninja yang bergerak tanpa suara dengan getaran hebat ditubuhnya.
Dalam jarak sekitar 3 meter, Neil berhenti. Dia ragu apakah akan melanjutkan atau kembali. Berpose seperti patung pancoran, Neil mencoba mengamati kesadaran si macan.
"Sst sst sst". Neil menggerak gerakkan telapak tangannya sampai tangannya pegal, tapi si macan benar benar tidak tergerak sama sekali.
Sebenarnya harimau penjaga tersadar dan mengetahui dengan jelas pergerakan si pencuri jubah tuannya, tapi dia berpura pura tertidur agar Neil tidak melarikan diri seperti sebelumnya.
"Pencuri ini benar benar sangat lemah, mana dalam tubuhnya juga tidak ada. Hhm, bagaimana mungkin dia bisa melewatiku, bahkan aku tidak mengetahui keberadaannya di dalam".
Harimau sedang bingung bagaimana mungkin dia tidak mengetahui ada pencuri yang masuk ke dalam makam. Melihat kemampuannya benar benar mustahil dilakukan, apalagi dia bukan keturunan keluarganya tuannya.
Neil yang tidak melihat gerakan sama sekali dari si macan, melangkahkan kakinya kembali kedepan. Semakin dekat dengan mulut goa, Neil sudah bisa melihat pemandangan hutan di depan.
Tidak ingin berlama lama berdekatan dengan macan, Neil lari keluar goa.
"Akhirnya... Aku keluar... Wooaaam".
Neil yang sudah berada diluar goa, dia berputar putar kegirangan hingga akhirnya dia berhenti dan menatap matahari yang dirindukan. Dengan mata terpejam Neil menerima sinar matahari langsung yang menerobos melewati pepohonan.
__ADS_1
Merasa cukup puas, Neil kembali menatap ke mulut goa untuk mengucapkan selamat tinggal. Tapi dia terkejut lagi karena dia tidak menemukan adanya goa disitu.
Dengan rahangnya yang masih jatuh terbuka, Neil berulang kali mengusap matanya. Memastikan tidak ada yang salah dengan penglihatannya.