Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
80. Api Dendam


__ADS_3

"Apa hanya ini kemampuanmu ?" Juan meledek Neil yang tidak mampu merobek daun yang terbang dengan pukulannya.


Neil yang mendengar ejekan dari Juan menarik nafas berat. Dia sudah ribuan kali memukul daun sampai tangannya pegal tapi tidak ada satupun yang sobek.


"Jika hanya mengandalkan kekuatan fisik, mustakhil bagimu melakukannya !" Juan melanjutkan kata katanya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan master kepala ?"


Juan juga bingung menjawab pertanyaan Neil. Jika Neil bisa mengendalikan mana, hal itu sangat mudah dilakukan. Sekarang kasusnya berbeda, Neil benar benar tidak bisa mengeluarkan mana.


"Hanya kau yang tahu caranya".


"Aku... tapi bagaimana. Aku benar benar tidak mengerti". Keluh Neil.


"Dapatkan pencerahan. Itulah yang kami butuhkan jika sudah macet tidak bisa maju lagi".


"Pencerahan... untuk itulah aku meminta bantuan master kepala untuk mendapatkan pencerahan ?" Balas Neil yang semakin ngawur.


"Pencerahan itu dapat muncul dari potensi diri dan campur tangan dewa. Kau harus lebih banyak bermeditasi".


Mendengar kata meditasi raut muka Neil berubah masam. Dia malas bertemu dengan jiwanya yang lain karena dominasinya.


"Bagaimana caranya mendapatkan campur tangan dari dewa master kepalanya ?"


"Kau bisa memintanya. Atau dengan bantuan perantara para titisan dewa !"


"Titisan dewa... dimana kita bisa menemukan mereka ?"


"Gunakan kemampuanmu terlebih dahulu, jika tidak bisa baru minta bantuan pada orang luar". Juan memberikan nasehatnya.


"Baik master. Tapi sampai kapan aku harus melakukan hal ini".


"Setidaknya kau memiliki insting yang bagus. Berlatihlah lagi dengan daun daun ini".


"Bisakah master kepala memberiku sedikit pencerahan ?"


"Menyatulah dengan alam". Balas Juan yang kemudian menarik nafas panjangnya karena Neil belum mengerti maksud pencerahan yang sebenarnya.


"Mengingat sebuah film dibumi tentang sebuah legenda kelinci, Neil kemudian menutup matanya dan mencoba merasakan kehadiran alam di dalam dirinya".


Mendengar kicauan burung dan angin sepoi sepoi yang menerpa, bukannya menyatu Neil malah meninggalkan alam. Rasa kantuk yang teramat tidak bisa ditahannya lagi.

__ADS_1


Sementara diluar ruang perawatan, tidak hanya Yuwe yang sudah datang. Para master terdekat juga sudah datang memberikan dukungannya pada Geiz. Walaupun Geiz heran dengan sikap mereka yang selalu ada disampingnya, dia tidak ingin mempertanyakannya.


"Terima kasih atas dukungan kalian selama ini ?"


"Jangan pikirkan hal itu Master Geiz, jangan lupakan kalau disini kita sudah seperti saudara".


"Benar kata Master Yuwe, jangan ragu untuk berbagi dengan kami jika kau punya masalah. Kami akan selalu ada disisimu". Ucap Milia yang diangguki oleh yang lainnya.


"Terima kasih... kalian sangat baik padaku".


Setelah mengatakannya, Geiz kembali memandang ibunya kandungnya yang sedang tidur diranjangnya setelah mendapatkan perawatan dari alchemist.


"Ibu... maafkan aku karena terlalu lama menemukanmu". Gumam Geiz dalam hatinya.


Hari berlalu begitu cepat, walaupun tidak ada ada perkembangan pada latihan Neil, tapi kemampuannya sudah mulai meningkat. Sementara ibu kandung Geiz yang sudah menerima kehadiran Geiz sudah membuatnya sangat bahagia.


Akademi juga sudah memberikan paviliun untuk Geiz dan ibu kandungnya. Walaupun hubungan mer masih canggung, wajar karena mereka sudah lama tidak bertemu.


Geiz benar benar sabar dalam menghadapi ibunya. Dia menceritakan kejadian perpisahan dan pertemuannya kembali. Geiz juga memberikan bukti bahwa dia benar benar adalah seorang Sander. Geiz juga telah membawa ibunya ke makam suaminya.


"Anakku Geiz, ada yang ingin ibu sampaikan kepadamu ?"


"Iya ibu. Aku akan mendengarkannya dengan baik".


Melihat ekspresi Geiz yang sudah siap untuk menerima informasi apapun dari mulutnya, sang ibu mulai melanjutkan perkataannya.


"Ayahmu Bill Sander. Sebelum dia terpisah denganmu, dia berkata kepada ibu. Ayahmu sangat berharap kamu dapat mengembalikan nama baik keluarga kita".


"Iya ibu, aku berjanji akan memenuhi permintaan ayah untuk mengembalikan nama baik keluarga kita".


"Kita berasal dari selatan. Kalau kamu kembali lalu bagaimana dengan kehidupanmu disini nak, ibu melihat kamu sangat bahagia disini".


"Kebahagiaan ibu adalah kebahagiaanku. Lagipula aku yakin mereka pasti akan mendukung kita bu".


"Kau memang anak yang baik Geiz.... Ibu belum menemui pak kepala, bisakah kau mengantar ibu untuk mengucapkan terima kasih ?"


"Master kepala sedang melakukan latihan dengan salah seorang murid disini bu. Jika beliau sudah kembali aku akan segera membawa ibu untuk menemuinya". Balas Geiz yang kemudian melanjutkan kata katanya.


"Selagi menunggu beliau kembali, aku akan menyusun rencana kepulangan kita bu. Aku juga perlu mengetahui situasi disana terlebih dahulu".


"Baik nak. Maafkan ibu, karena kami kau jadi menanggung beban yang berat seperti ini".

__ADS_1


"Tidak ibu. Itu sudah menjadi tanggungjawabku sebagai putra ibu. Aku akan membalas orang orang yang telah membuat keluarga kita seperti ini".


"Iya nak, mereka harus merasakan apa yang keluarga kita rasakan !"


Geiz yang melihat ibunya mengepalkan tangan merasakan marah kepada orang orang yang telah menghancurkan keluarganya. Hatinya mulai dipenuhi dengan api dendam.


Sementara di laboratorium sihir, Yosh yang telah mendapatkan benda berharga dari Neil hampir setiap hari menghabiskan waktunya untuk meneliti bukit bulan. Saking asyiknya dia sampai lupa untuk mengupgrade alat alat sihir Neil.


Yosh sedang meneliti struktur dari batu bulan. Dia ingin membuat replika batu bulan untuk mengembangkan kemampuan alat alat sihir yang dikeluarkan dari laboratoriumnya.


"Maaf master, sebenarnya apa yang sedang master kerjakan sampai lupa waktu seperti ini ?"


Yui yang sedang meminta surat persetujuan dari Yosh untuk memproduksi pesanan alat alat sihir dari luar menanyakan tentang aktifitas yang sedang dikerjakan oleh masternya.


"Jika aku bisa mengembangkan ini, revolusi alat sihir akan benar benar terjadi. Ini adalah mega proyek yang sedang aku kerjakan". Balas Yosh dengan antusias.


"Maaf, tapi sebaiknya master bisa lebih mengatur waktu. Permintaan jimat dari luar sangat banyak. Kita mulai kewalahan untuk menanganinya". Yui memberanikan diri menyampaikan masalah yang sedang terjadi.


"Ehmm, kenapa kau tidak mengatakannya padaku lebih awal ?"


"Bukankah master yang meminta sendiri untuk jangan di ganggu !"


"Benarkah... aku benar benar lupa. Untuk pesanan pesanan itu, sampaikan saja kemampuan kita dalam memproduksi. Jangan memaksakan diri".


"Baik Master Yosh".


Melihat Yui yang juga belum undur diri padahal surat persetujuannya sudah ditanda tangani, Yosh kemudian menanyakan kembali kepada Yui.


"Apakah ada yang ingin kau tanyakan lagi ?"


"Aku hanya sudah lama tidak melihat Neil. Apakah dia baik baik saja ?"


"Hahahhha, apakah kau mulai merindukannya ?"


"Tidak... mana mungkin aku merindukan bocah bodoh itu. Aku hanya merasa kasihan saja dengannya !" Balas Yui dengan terbata bata.


"Ekspresimu memberikan jawaban yang berbeda". Yosh menggoda Yui dengan sedikit tertawa kecil.


"Ahh, aku jadi ingat kalau harus mengganti batu sihir itu. Terima kasih Yui karena kau telah mengingatkanku !" Membicarakan tentang Neil, Yosh jadi ingat tentang janjinya untuk mengupgrade alat sihir Neil.


Yui yang mendengar masternya berterima kasih hanya tertegun dan bingung dengan maksud perkataan Yosh. Dengan rasa yang campur aduk dia menjawabnya dengan lemah.

__ADS_1


"Sama sama master".


# Note : Episode berikutnya akan memasuki babak baru dalam novel ini. Perjalanan pertemuan Neil, Sam dan Neila akan dimulai. Author akan berusaha memberikan cerita yang lebih menarik lagi. Terima kasih atas dukungannya.


__ADS_2