Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
78. Master PHP


__ADS_3

"Sam... anak itu bernama Sam..."


Neil menjadi tidak berselera makan. Rasa laparnya kalah dengan rasa penasarannya pada Sam. Pandangannya selalu tertuju pada anak kecil yang sedang makan malam bersama dengan teman temannya.


"Kenapa denganmu Sam ?" Tanya Putri Teresta.


"Tidak apa apa !"


"Tapi kau terlihat sedang memikirkan sesuatu. Kau bisa berbagi kepada kami".


Teman teman Sam lainnya mengangguk tanda setuju dengan penawaran Putri Teresta. Mereka sekarang lebih akrab dari semenjak mereka bertemu.


Semenjak kekalahan telak Keyla Eister ditangan Lien. Kelompok Putri Teresta lebih menghormati Sam dan teman temannya. Lambat laun mereka menjadi semakin akrab dan sering makan dan berlatih bersama.


"Tidak apa apa... Tadi aku hanya bertemu dengan seseorang. Entah kenapa aku merasa akrab dengannya".


"Apakah aku juga mengenalnya ?" Tanya Lien penasaran.


"Aku tidak tahu Lien. Tapi aku sama sekali tidak mengenalnya !"


"Aku penasaran dengan orang itu. Setelah ini ajak aku bertemu dengannya ?"


"Tidak perlu. Aku juga tidak tahu dia ada dimana ?"


Sam sedikit melirik ke arah Neil yang sedang melamun. Dia kemudian mengalihkan pembicaraannya dengan memulai topik lainnya.


"Kalau tidak ingin makan jangan memesan makanan !" Neil mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.


"Ehh, Master Ren... Ehmm, makanan ini masih sedikit panas !" Dengan salah tingkah Neil menyentuh nyentuh makanannya yang sudah dingin.


Ren yang mendengar jawaban dari Neil hanya menarik naas beratnya. Merasa tidak penting dia kemudian menanyakan tentang hasil perjalanannya di bukit bulan.


"Kapan kalian kembali ?"


"Sore tadi Master Ren... Master tidak makan ?" Neil berusaha menghindari pertanyaan lanjutan dari Ren.


"Aku sudah makan. Jelaskan padaku bagaimana bukit bulan dihancurkan. Apa itu ulah kalian ?"


Neil yang mendengar pertanyaan Ren yang langsung ke inti membuat selera makan Neil benar benar hilang. Telapak tangannya yang terangkat ke atas seakan akan sedang mengucapkan selamat tinggal pada makanannya.


"Apa maksudmu mengangkat tangan ?"


"Tidak Master Ren, tubuhku hanya sedikit sedikit kaku !"


Melihat Ren yang diam tapi tatapannya masih tajam, Neil menjadi sedikit ngeri. Dia tahu tidak mungkin bisa lari dari manusia didepannya.


"Baik, akan aku ceritakan. Tapi sebagai gantinya aku inginkan sesuatu dari Master Ren ?"

__ADS_1


Melihat anak kemarin sore yang sudah berani bertingkah, Ren merasa sedikit kesal. Tapi dia saat ini sedang membutuhkan informasi darinya, mau tidak mau Ren mengikuti permintaannya.


"Jika itu masih dalam batas kemampuanku ?"


Mendengar jawaban dari Ren yang setuju, Neil kemudian memulai ceritanya saat pertama kali mereka masuk ke dalam bukit bulan dan penyerangan rubah iblis terhadap mereka hingga sampai terdampar di benua utara.


"Apakah rubah iblis sekuat itu ?" Ren sambil mengingat ingat aura yang dirasakannya minggu lalu.


"Kalau tidak kuat, bagaimana dia menghancurkan bukit bulan semudah itu ?"


"Lalu apakah kalian tahu kemana rubah itu pergi ?"


"Mungkin ke tempat asalnya dahulu !" Jawab Neil dengan ragu.


"Heemm, kalau aku tahu rubah itu begitu baik pada kalian, aku akan pergi bersama kalian waktu itu".


Neil tidak sadar kalau Ren sedang menggali informasi dari Neil. Melihat ekspresi Neil yang tidak bersahabat, Ren semakin ingin mengorek informasinya.


Neil sendiri sedang menggerutu di dalam hatinya. Dia tidak terima kalau rubah itu dikatakan baik oleh Ren. Makhluk yang telah menggemparkan dunia dibilang baik, Neil merasa tidak percaya dengan apa yang dipikirkan oleh Ren.


"Apa kepala Master Ren baru terjedot sesuatu ?"


"Apa maksudmu ?"


"Bagaimana Master Ren bisa berpikiran kalau makhluk itu sangat baik !"


"Buktinya kalian bisa membujuknya. Kalian juga bisa menyelamatkan ibu kandung Master Geiz ?"


"Kalau aku tidak ..."


Neil menghentikan kata katanya, dia hampir saja membuka rahasianya di depan Ren. Sepertinya taktik Ren hampir berhasil membuat Neil membuka rahasianya.


"Kalau tidak... lanjutkan !"


"Kalau tidak... aku... ehmm..."


Tidak mendapat jawaban dari Neil, Ren kemudian menggunakan sihirnya untuk menerobos kedalam pikiran Neil. Sampai keringat keluar dari dahinya, dia tidak mendapatkan hasil apapun.


Menarik nafas panjang, Ren melanjutkan taktiknya kembali.


"Jika kau tidak mau mengatakannya padaku, kesepakatannya batal". Ujar Ren dengan tak acuh.


Mendengar perkataan Ren, Neil merasa telah dipermainkan. Dia sudah bercerita banyak hal sampai hampir akan membuka rahasianya, tapi diakhir cerita kesepakatannya batal. Menghela nafas panjang Neil hanya bisa mengalah.


"Sebenarnya aku hanya ingin meminta hal kecil pada Master Ren ?"


Mendengar perkataan Neil, Ren sama sekali tidak terpengaruh.

__ADS_1


"Sayangnya kesepakatan kita telah batal karena kau hanya diam... bagaimana kalau kita membuat kesepakatan ulang ?"


"Tidak... aku tidak mau !"


Neil langsung menolak karena tidak mau dipermainkan lagi seperti sebelumnya. Kali ini dia harus lebih berhati hati dengan ucapannya.


"Master, apakah Master Ren mengenal anak itu ?" Neil menunjuk ke arah Sam. Dia ingin mengubah topik pembicaraan.


"Aku tidak tahu". Balas Ren dengan tak acuh.


Mendengar jawaban Ren yang tidak bersahabat, Neil mengeluh dalam hatinya. "Apakah orang ini ingin membalas dendam ?"


"Bukankah Master Ren mengajar di akademi ini. Bagaimana mungkin tidak mengetahuinya ?"


Sudut bibir Ren tidak bisa tidak berkedut mendengar jawaban dari Neil. Beruntung pengendalian emosinya sangat baik.


"Kau pikir berapa banyak murid disini. Apakah aku harus menghafal mereka semua !"


Kali ini Neil tidak berkutik lagi dengan alasan Ren. Dia kalah berdebat untuk kesekian kalinya. Wajahnya tertunduk lesu.


"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan ?" Ren memberikan penawarannya kembali.


Neil semakin lesu mendengar penawaran Ren. Menegapkan kembali posisi duduknya, secara tegas Neil menolaknya kembali.


"Tidak akan pernah !"


Mendengar jawaban Neil, Ren malah semakin tertantang. Dia semakin ingin tahu sampai dimana pemuda didepannya akan tetap bungkam.


"Ngomong ngomong bukankah kau sedang mencari seseorang di dunia ini. Aku bisa membantumu".


"Benarkah Master Ren akan membantu ?"


Raut muka Neil yang sayu tiba tiba berubah ceria. Dia memang ingin sekali mengetahui kabar kedua sahabatnya sebelum meninggal. Neil yakin mereka berdua masuk bersama ke dunia barunya.


"Ehmm, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan ?"


Merasa lelah Neil akhirnya menjatuhkan kepalanya ke meja. Dia merasa diberi harapan palsu oleh Ren. Bangkit dari kursinya Neil pamit kepada Master Ren.


"Saya pamit dulu Master PHP !"


Ren yang melihat Neil pergi hanya tersenyum kecil. Dia bergumam mengenai panggilan baru Neil padanya.


"Master PHP... bocah itu... !"


Neil yang keluar dari kantin merasa sangat kesal. Dia berjalan dengan sangat cepat menuju ke ruang perawatan. Tapi tanpa sadar dia malah berjalan menuju ke kamarnya.


Sampai di depan kamarnya, Neil tertegun sejenak. Dia menepuk jidatnya karena salah jalan. Kepalang tanggung Neil akhirnya masuk kedalam kamarnya. Melepaskan jubahnya, Neil mendapati batu yang dibawanya dari bukit bulan.

__ADS_1


__ADS_2