
Kembali sampai ditempatnya, Geiz kemudian berseru kepada rubah iblis dengan posisi menggendong jasad ayahnya di kedua tangannya.
"Jika kita bertemu lagi, aku pasti akan membunuhmu untuk membalas dendam !"
"Aku menunggumu manusia. Butuh ratusan ribu tahun untukmu mengalahkanku...haahahahaaa.." Sindir rubah iblis dengan tawanya yang khas. Dia kemudian melanjutkan kata katanya.
"Aku akan memindahkan kalian dari tempat ini sebelum tempat ini kuhancurkan !"
Belum sempat Neil Geiz dan Yuwe merespon, mereka berlima sudah diteleportasikan oleh rubah iblis secara acak. Tidak berselang lama, bukit bulan meledak dengan hilangnya rubah iblis.
"Dduuuuuaarrrrr...."
Ledakan bukit bulan terdengar sampai ke perbatasan kerajaan. Kerajaan Arta berguncang hebat akibat getaran yang ditimbulkan. Bukit bulan kini rata dengan tanah.
Para mata mata yang mengintai bukit bulan baik dari organisasi sihir putih dan hitam, sebagian besar dari mereka terluka karena ledakan yang tiba tiba. Tidak lama, berita kehancuran bukit bulan tersebar ke seluruh dunia.
Juan adalah orang yang paling terpukul mendengar berita itu. Dia berpikir telah kehilangan tiga orangnya yang tidak tahu bagaimana kabarnya sampai saat ini.
Sementara Neil Yuwe, Geiz dan 2 orang tuanya saat ini sedang berada di hutan yang tidak mereka ketahui. Tapi mereka masih bersyukur karena tidak diteleportasikan secara terpisah.
"Dasar iblis kep*r*t...." Teriak Geiz yang sudah sangat kesal.
"Kita harus segera keluar dari hutan ini untuk mengurus paman dan bibi. Aku akan mencari tahu tempat ini terlebih dulu".
Selesai mengatakan maksudnya, Yuwe langsung terbang ke atas dan memindai lokasi. Dia menyerahkan penjagaan ibu kandung Geiz kepada Neil.
"Setelah semuanya selesai, kau harus menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi ?" Ucap Geiz tiba tiba.
Neil yang mengerti maksud gurunya hanya diam membisu, tapi tak lama Neil mulai membuka mulutnya. Bukannya menjawab pertanyaan gurunya, dia malah balik bertanya.
"Master, jika suatu saat aku sudah memiliki kekuatan super. Lalu kemudian aku lupa diri dan mungkin mengecewakan master, apakah master masih mau memaafkanku ?"
"Apa maksudmu, kenapa kau bertanya seperti itu ?"
"Apa master masih mau memaafkan aku jika hal itu terjadi ?" Neil malah mengulangi pertanyaannya.
"Jika itu terjadi, aku sendiri yang akan menggantungmu di pintu masuk akademi !" Seru Geiz yang kemudian menatap ke arah Neil dengan instens.
"Terima kasih Neil !"
"Ehh, " Neil terkejut mendengar gurunya berterima kasih padanya.
"Karenamu aku bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuaku". Lanjut Geiz dengan tulus.
__ADS_1
"Tidak master. Ini karena usaha kita bertiga. Ada Master Yuwe juga, kalau tidak ada Master Yuwe mungkin hasilnya tidak seperti ini". Balas Neil sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa kalian sedang membicarakanku ?" Ujar Yuwe tiba tiba yang sudah kembali dari atas.
Mendengar perkataan Yuwe, Neil dan Geiz saling pandang. Tidak menjawab pertanyaanya, Geiz menanyakan tentang hasilnya.
"Bagaimana, apa kau sudah mengetahui kita sekarang ada dimana ?"
"Aku tidak tahu, hutan ini sangat luas dan nampak berbahaya". Setelah menjawab pertanyaan Geiz, Yuwe melanjutkan kata katanya. "Aku melihat pemukiman di selatan, kita sebaiknya bergegas kesana ?"
Neil dan Geiz kemudian bangkit dengan menopang kedua orang tua Geiz.
"Biar aku saja yang membawa bibi". Ucap Yuwe pada Neil.
"Apa kau akan membawa jasad paman sepanjang perjalanan !" Lanjut Yuwe pada Geiz.
Geiz yang mendengar perkataan Yuwe mengedutkan bibirnya. Dia sadar tidak mungkin terus membawa jasad ayahnya di depan umum. Menghela nafas panjang, Geiz memasukkan jasad ayahnya ke dalam cincin dimensi lainnya.
Neil yang melihat sesosok manusia masuk ke dalam sebuah cincin sedikit terkejut. Dia kemudian bergumam yang masih bisa didengar oleh Geiz dan Yuwe.
"Bisa seperti itu.. apakah tidak apa apa".
"Apa yang kau lihat, ayo naik ke punggungku !" Seru Geiz pada Neil yang sedang melamun.
Sampai dihutan perbatasan pemukiman, mereka turun kembali untuk menghindari kontra dengan penduduk setempat. Dan benar saja saat mereka masuk ke pemukiman, mereka di hadang oleh beberapa penduduk disana.
"Siapa kalian. bagaimana kalian bisa tiba tiba muncul dari hutan ?" Tanya salah satu penduduk.
"Kami tersesat... dan membutuhkan pertolongan !" Balas Yuwe yang sedang menggendong ibu Geiz.
Penduduk setempat menatap curiga kepada orang asing di depannya. Tidak ingin menimbulkan keributan, Yuwe kemudian menyerahkan identitasnya.
"Ini identitas kami. Kami berasal dari benua tengah".
Penduduk yang mendengar kalau orang yang berada didepannya berasal dari benua tengah terkejut. Mereka kemudian meminta Geiz dan rombongannya untuk menemui kepala suku.
Menerima identitas dari anak sukunya, kepala suku mempersilahkan Geiz dan rombongannya untuk masuk menemuinya.
"Dari identitas kalian, kalian seharusnya berada di benua selatan. Bagaimana mungkin kalian saat ini berada disini". Tanya kepala suku.
"Maaf kami tidak mengerti. Apa maksud kepala suku. Bukankah kami masih di benua selatan ?" Balas Yuwe mewakili yang lain.
"Kalian berada di ujung benua utara". Balas kepala suku dengan tatapan curiga.
__ADS_1
"Apa....!" Ucap Neil Geiz dan Yuwe serempak yang mengagetkan kepala suku.
Geiz dan Yuwe saling pandang. Tubuh mereka tiba tiba bergetar. Sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama. Mereka memikirkan tentang berapa besarnya kekuatan rubah iblis hingga bisa memindahkan mereka berlima ke ujung dunia.
Jika bisa mengatakannya sekarang, Yuwe ingin mengatakan kepada Geiz untuk melupakan dendamnya saja. Karena mustakhil untuk melawan makhluk seperti itu bagi manusia.
Sementara Neil yang berpikir bahwa dunia itu bulat lebih mudah untuk mencerna informasinya. Hanya saja dia berpikir kenapa suhu di tempat ini tidak membuatnya menggigil.
"Apakah wanita itu terluka ?" Kepala suku menanyakan tentang kondisi ibu kandung Geiz yang membuat lamunan mereka berhenti.
"Benar... dia sudah lama pingsan !"
"Kruuyukkk kruuyuuukkkkk..." Tanpa disengaja sebuah suara memecah obrolan yang yang sedang terjadi.
"Maaf.... !" Tutur Neil sambil mengelus elus perutnya.
"Sebaiknya kalian istirahat dahulu. Kami akan membantu merawat wanita itu !"
"Terima kasih kepala suku". Balas Yuwe dengan ekspresi malu atas kelakuan Neil.
Mereka berempat kemudian istirahat di dua tenda terpisah. Neil bersama Geiz dan Yuwe bersama ibu kandung Geiz. Setelah makan Neil pura pura tidur untuk menghindari pertanyaan dari gurunya. Sebenarnya dia mencoba bermeditasi dengan posisi tidur.
"Jiwaku lain, dimana kau ?" Panggil jiwa Neil dengan memutar mutar kepalanya.
Tak lama sesonok anak kecik muncul dihadapan Neil. Dengan tatapan acuh, jiwa lain Neil berujar. " Sepertinya sekarang kau sudah tahu caranya menemuiku. Ada apa ?"
"Memenuhi janji !"
"Ehh, apa kau siap ?"
"Dengan syarat jangan pernah menyakiti orang orang terdekatku !"
"Baik... tapi sayangnya aku berubah pikiran !"
"Apa maksudmu ?"
"Aku masih ingin berada disini untuk meningkatkan ilmu sihirku. Di luar terlalu merepotkan".
"Apa kau yakin. Bukankah ini yang kau inginkan ?"
"Sebagai gantinya, cari tahu bagaimana caranya ke Interloka". Teringat sesuatu, jiwa lain Neil kemudian melanjutkan kata katanya. "Dan 1 hal. Kau boleh berhubungan dengan wanita siapapun, tapi jangan pernah menikah !"
"Apa! Apa kau ingin aku membujang selamanya !"
__ADS_1