Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
18. Beradaptasi


__ADS_3

Duduk berhadapan dengan Neil, Lian memandangi Neil yang berbeda dari kebanyakan manusia di dunianya. Dia melihat rambut pendek dan bola mata yang hitam. Tampak aneh untuk Lian.


"Benar benar makhluk asing" Gumam Lian Chu di dalam hatinya.


"Apakah-kau-benar-tidak-bisa-berbahasa-kami".


Neil yang tidak mengerti perkataan Lian hanya menggelengkan kepalanya. Melihat ekspresi jujur dimata Neil, Lian Chu mencukupkan investigasinya.


"Makanlah-ini".


Lian Chu memberikan pil kecerdasan tingkat rendah kepada Neil.


Bukan Lian Chu tidak ingin memberikan pil kecerdasan dengan tingkat yang lebih tinggi, tapi kemampuan Lian Chu baru di tingkat dasar. Jadi pil buatannya juga baru berada di tingkat rendah.


Neil kembali tanpa ragu menerima dan menelan pil pemberian Lian Chu. Walaupun itu pil tingkat rendah, tapi respon tubuh Neil menanggapinya berbeda.


Pil pemberian Lian meningkatkan IQ Neil ke tingkat jenius. Neil juga merasa kepalanya sangat segar dan otaknya menjadi sangat encer.


Melihat perubahan ekspresi Neil, Lian Chu tersenyum karena pilnya berfungsi. Dia sempat ragu untuk memberikannya kepada Neil karena dia tidak yakin pilnya akan akan berefek kepada makhluk asing yang tidak diketahui asal usulnya. Lian kemudian mulai mengajak bicara dan mengajari Neil huruf dan angka di dunianya.


Melihat kecepatan belajar Neil, Lian Chu bertambah semangat karena dengan begitu dia bisa segera pergi mengambil hadiahnya.


Lian memperkirakan tidak sampai setahun Neil sudah mahir membaca, menulis dan berinteraksi dengan sesamanya.


"Kruyuk kruyukkk".


"Ehh... Apa kau-lapar, Neil?" Tanya Lian Chu dengan gerakan isyaratnya.


Melihat anggukan Neil, dia mengajaknya ke kantin akademi.


Untuk menghindari pandangan orang orang, Lian memberikan topeng untuk dipakai Neil.


"Pakai ini-kita-akan makan-di kantin akademi".

__ADS_1


Neil mamakai topeng pemberian Lian dan sedikit menyumpal telinganya, mereka beranjak menuju ke kantin akademi.


Sepanjang perjalanan menuju akademi, Lian memberikan banyak pelajaran nama gerakan tubuh ke Neil. Dia juga mengajarkan setiap nama benda yang dilihat Neil.


Neil yang merasa daya ingatnya menjadi sangat baik dari sebelumnya nampak bangga. Dia mengangkat kepalanya tinggi tinggi.


Setelah sampai dikantin, Neil melihat sedikit banyak murid akademi yang sedang menyantap makanan.


Melihat murid akademi perempuan yang berwajah seperti barbie, Neil tidak bisa tidak menelan salivanya. Tubuhnya mematung dan hatinya bergumam. "... cantik sekali".


Melihat Neil melamun, Lian menyenggol dan meminta Neil agar mengikutinya. Neil yang merasakan senggolan Lian lantas tersadar, dengan nafas panjang menenangkan diri.


Berkat topeng dan jubah curian, Neil dapat menyembunyikan ke udikannya.


Seperti seorang pemandu wisata, Lian benar benar mengajak Neil berkeliling stand makanan di kantin akademi. Neil yang sudah lapar hanya pasrah dengan mengikutinya.


"Apa kau-sudah mengingat-semua-yang kukatakan ?". Tanya Lian penasaran dengan hasil belajar murid barunya.


"Iya, aku mengingat". Balas Neil dengan ekspresi bangga.


Lian kemudian menunjuk nunjuk nama benda yang pernah diajarkan kepada Neil, dan 85% Neil dapat menjawabnya dengan benar.


"Sekarang kau-boleh-memesan makananmu, pakai-tokenmu-seperti yang kuajarkan".


Token pintu kamar Neil ternyata juga bisa digunakan untuk membeli makanan di kantin akademi dengan batasan.


Sebenarnya Neil ingin menanyakan nasi karena dia tidak melihatnya saat berkeliling, tapi dia mengurungkannya khawatir dikira terlalu meminta lebih.


"Ehm. Kau tidak ikut". Tanya Neil penasaran.


"Aku-sudah makan". Jawab Lian singkat dengan menambahkan isyarat.


Neil kemudian berjalan ke stand yang tadi menjual semacam sate dan burger. Saat berkeliling, Neil sudah menandai stand stand yang menjual makanan enak menurutnya.

__ADS_1


"Permisi. Saya mau..ini..2 dan ini...1".


Neil memesan 2 buah sate beast berjenis burung dan 1 minuman perasan lemon dengan terbata bata.


Penjual kemudian membungkus pesanan Neil dan meminta bayaran.


"Ini-pesananmu,-semuanya-30 keping perak".


"Saya pakai ini". Neil menyerahkan token kayunya untuk membayar.


Penjual menerimanya dan kemudian memotong saldo token kayu Neil. Selesai memotong saldo, penjual mengembalikan token kayunya kepada Neil.


"Terima kasih,-ini-token kayunya'.


Setelah mendapatkan sate dan minuman, Neil kemudian ke stand berikutnya yang telah dia tandai. Karena stand ini cukup laris, Neil harus mengantri untuk mendapatkan burgernya.


"Maaf-senior,-sepertinya-aku-baru melihatmu". Tanya orang di depannya yang penasaran dengan keberadaan Neil.


Dia penasaran karena tidak dapat mengukur level sihir Neil. Sebenarnya banyak yang penasaran dengan level Neil yang tidak diketahui, tapi mereka diam karena dia sedang bersama Lian Chu.


Neil yang belum terlalu banyak mengenal kosa kata tidak begitu mengerti maksud ucapan orang didepannya.


Sebagai jawaban, dia hanya menunjuk ke arah Lian Chu yang sedang duduk mengamati pemandangan diluar jendela.


"Ohh, kau-bersama-senior Lian".


"Ehhm, lebih baik-kau-berhati hati dengannya. Aku-mendengar-kalau-dia-suka-melakukan-mall-praktek".


Neil yang tidak paham, hanya mengangguk anggukan kepalanya. Tapi sekarang dia tahu, kalau orang didepannya adalah salah satu murid di akademi.


Melihat Neil yang hanya diam, murid tersebut merasa diacuhkan, dia kemudian berbalik dan menyudahi basa basinya.


Neil yang melihat murid didepannya berbalik nampak lega, dia khawatir kalau akan dihujam banyak pertanyaan yang tidak dimengerti.

__ADS_1


Setelah mendapatkan burgernya, Neil kembali menghampiri Lian Chu yang sedang duduk menghadap keluar jendela.


Merasakan Neil sudah kembali, Lian mempersilahkan untuk duduk dan memakan makanannya. Tapi kemudian Lian terkejut saat melihat makanan yang dipilih Neil.


__ADS_2