
"Apa kau yakin akan pergi dengannya ?" Juan bertanya kepada Geiz dengan tak acuh.
"Benar... "
"Apa kau tidak mempertimbangkan Ren ?"
"Justru Master Ren yang merekomendasikan untuk mengajaknya".
"Ohh, begitukah.. Hhmm....bisakah dibatalkan ?"
"Tidak bisa Master Kepala". Geiz menjawab tegas bahwa dia akan tetap berangkat ke bukit bulan bersama dengan Neil.
"Kapan kalian berangkat ?"
"Bulan depan. Bisakah Master Kepala mengurusnya".
"Serahkan padaku"
"Terima kasih master".
Geiz menghadap kepada Juan bahwa dia dan Neil akan segera berangkat ke bukit bulan. Geiz meminta kepada Juan untuk menyiapkan aksesnya. Karena tanpa campur tangan Juan, Geiz tidak bisa masuk kedalamnya.
"Lalu adakah yang lainnya yang bisa kubantu ?"
"Tidak ada Master Kepala".
"Kalau begitu, berjanjilah untuk kembali hidup hidup".
Geiz yang mendengar permintaan Juan tidak bisa berkata apa apa. Dia sebenarnya ragu apakah dia akan selamat atau tidak mengingat bahaya yang ada di depan.
"Aku.. aku..."
"Itu bukan permintaan, tapi perintah !". Juan menegaskan kembali kata katanya.
"Baik. Kami pasti akan kembali dengan selamat".
"Kau bisa kembali dan persiapkan semuanya dengan baik. Sebulan lagi aku akan mengantar kalian".
"Terima kasih master kepala, saya mohon undur diri".
Geiz menghilang dari pandangan Juan. Juan yang melihat Geiz pergi teringat dengan kejadian ratusan tahun yang lalu saat dia menemukan Geiz kecil di pinggiran bukit bulan.
Saat itu Juan menemukan Geiz dalam kondisi yang kritis. Beruntung seorang alchemist berhasil menyelamatkan nyawanya. Sejak saat itu, Juan merawat Geiz seperti anaknya sendiri.
Geiz diasuh dan dirawat oleh keluarga Juan, hingga dia akhirnya memutuskan untuk menjadi salah seorang guru di akademi sihir. Geiz bahkan belum memikirkan untuk mencari seorang kekasih sebelum dia mengetahui informasi keberadaan orang tuanya, hidup atau mati.
Untuk itu, saat Geiz memiliki kesempatan untuk mencari informasi tentang orang tuanya di bukit bulan, dia tidak mungkin menyia nyiakannya. Walaupun Geiz sudah mendapatkan kehidupan barunya di akademi, dia tidak mungkin melupakan jati dirinya.
Sementara Neil yang sedang berada di laboratorium masih menunggu semua peralatan sihirnya diisi ulang. Dia juga sudah meminta bantuan kepada Yosh untuk membuatkan sebuah penutup telinga seperti headphone.
"Master, kalau diperjalanan sumber dayanya sudah habis gimana master. Tidak mungkin kan aku harus kembali kesini dulu".
__ADS_1
Yosh yang mendengar pertanyaan Neil menepuk jidatnya. Dia benar benar bimbang harus menjawabnya atau tidak. Itu adalah konsekuensi penggunaan alat sihir.
"Ehm, kau bisa meminta tolong gurumu untuk mengisinya. Ya, itu jika kalau tidak merasa malu".
"Hahh..." Menarik nafas panjang Neil melanjutkan. "Apakah tidak ada bank daya untuk isi ulang".
"Jangan berlebihan. Ini bukan Er*pa atau Amer*ka seperti yang sering kau ceritakan".
Yosh yang sudah menyelesaikan pembuatan penutup telinga menanyakannya kepada Neil. "Apakah seperti ini ?"
"Cepat sekali".
"Ini hanya sebuah penutup telinga. Tidak butuh lama untuk membuatnya"
Yosh membuat 2 buah penutup telinga yang dihubungkan dengan sebuah karet. Nampak sederhana dengan sebuah kayu yang ditempel busa dan dibungkus dengam sebuah kain elastis.
Mengenakan penutup telinga buatan Yosh Neil merasa nyaman karena busa yang menempel begitu empuk ditelinga. Neil juga tidak mendengar beberapa suara yang dibuat oleh Yosh, tanda bahwa penutup telinganya berfungsi.
"Ini cukup Master Yosh. Apakah ini bisa melindungi dari ilusi master ?"
"Apa kau meminta ini untuk melindungi dari ilusi. Berikan kembali". Yosh meminta kembali penutup telinganya.
"Bukankah ini sudah cukup baik master".
"Aku perlu menambahkan beberapa benda sihir ke dalamnya untuk menahan ilusinya".
"Jadi begitu.."
"Sebenarnya apa yang sedang kalian rencanakan ?" Yosh menanyakan kepentingan Neil dan Geiz.
"Maksud master seperti apa ?"
"Apa yang akan kau dan Master Geiz rencanakan. Maksudku apa hubungannya dengan ilusi itu ?"
"Ohh, aku dan master akan pergi ke bukit bulan".
"Bukit bulan..." Yosh yang mendengar kata bukit bulan dari Neil sedikit terkejut. Dia penasaran untuk apa mereka akan pergi ke bukit yang berbahaya seperti itu.
"Benar master, kita akan pergi ke bukit bulan".
"Ehm, untuk apa kalian kesana ?" Tanya Yosh penasaran.
"Rahasia master".
"Kau..."
"Bercanda master. Kami hanya ingin menanyakan sesuatu kepada si rubah itu".
"Ehh, rubah. Ehm, itu tidak mudah. Itu bukan rubah biasa".
"Untuk itulah aku meminta tolong master membuatkan penutup telinganya master".
__ADS_1
"Berhati hatilah dengan mata rubah iblis itu. Aku dengar itu bisa menyihir bahkan dewa sekalipun".
"Wahh, gawat dong master. Lalu apakah kacamata ini bisa melindungi dari sihir mata itu master".
"Aku juga tidak tahu. Tapi mungkin itu bisa mengurangi efeknya. Jangan lupa untuk mengaktifkannya".
"Harus diaktifkan".
"Ya harus diaktifkan. Cahaya mana yang menyilaukan akan menghalangi ilusinya".
Neil yang mengetahui bahwa kacamatanya harus diaktifkan untuk menghindari ilusi menarik nafas berat, dia mendengar bahwa rubah iblis berada di level yang sangat tinggi, yang tentunya akan sangat silau dimata Neil.
"Sepertinya aku akan mengalami hal yang buruk". Gumam Neil lirih yang masih bisa didengar oleh Yosh.
"Aku yakin kalau gurumu saat ini sedang frustasi memikirkannya".
"Frustasi... memangnya kenapa master". Yosh yang tidak ingin terjadi apa apa dengan gurunya bertanya dengan serius.
"Itu karena dia tidak memiliki kacamata atau penutup telinga sepertimu".
"Aku sedang tidak bercanda master".
"Ilusi adalah salah satu yang ditakuti oleh para penyihir. Kekuatannya yang mampu menguasai pikiran, hati bahkan jiwa. Benar benar berbahaya".
"Tapi kenapa Master Ren tidak mamberitahuku".
"Itu karena kau bukan penyihir".
Neil termenung mendengar penjelasan Yosh. Dia memikirkan tentang gurunya yang mungkin saat ini sedang dilanda dilema.
"Sudah.. ini penutup telingamu. Ini akan melindungimu".
"Terima kasih master".
Tanpa Neil sadari, seseorang sedang mengintip dengar pembicaraannya dengan Yosh. Sejak sedikit tertarik dengan Neil, dia sesekali mencuri dengar pembiraan Neil ketika di laboratorium. Ya dia adalah Yui. Yui sepertinya sudah tertarik dengan Neil.
Sebulan kemudian akhirnya berlalu. Geiz yang sedang menunggu Neil berkemas mengedutkan sudut bibirnya. Dia tidak menyangka Neil akan membawa banyak barang bawaan.
"Untuk apa kau membawa barang sebanyak itu, kita bukan akan liburan".
"Kalau begitu ijinkan aku menyimpannya di cincin dimensi master".
"Tidak, cincinku bukan tempat penyimpanan barang tidak berharga seperti itu".
"Kalau begitu biarkan aku membawanya. Lagi pula barang barangku tidak akan menyusahkan master".
"Lebih baik tinggalkan saja. Untuk apa kau membawa bahan bahan dapur dan serbuk serbuk aneh apa itu ?"
"Aku sudah susah susah memintanya kepada penjual kantin. Aku janji ini tidak akan menyusahkan perjalanannya master".
"Jangan bilang aku tidak mengingatkan. Kalau sampai menyusahkan, aku sendiri yang akan membuangnya". Seru Geiz dengan sedikit memberikan tekanan.
__ADS_1