Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
56. Yang Benar Saja


__ADS_3

"Kita berpisah disini !" Pinta Yuwe kepada Neil dan Geiz.


Setelah berjalan sedikit lama mereka memilih untuk berpisah. Yuwe berjalan sendiri, sementara Neil dan Geiz berjalan bersama. Ini adalah bagian dari rencana Yuwe yang telah disusun.


Neil dan Geiz berjalan ke arah tengah bukit dimana rubah iblis berada. Sementara Yuwe berjalan ke timur dimana merupakan tempat tertinggi di bukit. Yuwe akan memantau keadaan dari atas tempat tertinggi.


Yuwe sudah memberikan alat sinyal bahaya kepada Geiz. Jika terjadi bahaya pada masing masing, mereka dapat menghubungi satu sama lain. Walaupun bisa menggunakan telepati, mereka tetap memilih alat sinyal sebagai prioritas.


Neil juga sudah mengaktifkan kacamatanya. Sementara Geiz, menunggu beberapa waktu lagi sebelum mengaktifkan jimat anti ilusinya. Mereka berjalan beriringan menuju pusat bukit.


"Sepertinya daerah ini terlihat aman master. Aku tidak melihat binatang buas satupun dari tadi ?"


"Hati hati. Ini terlalu sunyi. Biasanya sesuatu yang tidak terlalu wajar menyimpan bahaya yang besar. Ingat itu baik baik". Balas Geiz sambil mengaktifkan jimat anti sihirnya.


Tidak ada bahaya yang datang, mereka berdua terus melangkah ke dalam. Sementara Yuwe yang telah sampai pada bagian bukit tertinggi, mengedarkan mananya untuk memgawasi keadaan bukit.


"Ini tidak pantas disebut sebagai bukit. Luas sekali". Gumam Yuwe lirih.


Tepat ditengah bukit, sepasang mata berwana merah yang tertutup oleh sembilan ekor berwarna putih mulai terbuka. Seperti merasakan kedatangan mangsanya, mata merahnya semakin tajam jika dilihat dari dekat.


"Kekuatan ini ?" Geiz dan Yuwe merasakan kekuatan yang besar secara bersamaan.


"Bersiaplah Neil !"Seru Geiz pada Neil.


'Baik master. Saya sudah siap". Balas Neil yang sudah memegang erat pedangnya menggunakan kedua tangannya.


Geiz yang melihat Neil bertingkah seperti anak kecil yang sedang bermain perang pedang pedangan, menggeleng gelengkan kepalanya.


"Bersikaplah biasa saja. Kita belum bertemu dengan musuh".


"Ba.."


"Bersiap !" Seru Geiz sebelum Neil menyelesaikan kata katanya.

__ADS_1


Sebuah bayangan tiba tiba menutupi cahaya yang menerangi Neil dan Geiz. Neil merasakan merinding yang luar biasa. Bulu kuduknya berdiri tanpa diperintah.


"Rooarrrr". Suara memekikkan telinga menggema di seluruh penjuru bukit bulan.


Neil yang sudah memakai penutup telinganya tidak mendengar apa apa. Sepertinya bekerja dengan baik. Dia bahkan sudah tidak mendengar seruan Geiz untuk mundur kebelakang.


Neil yang tidak terlalu jelas melihat raksasa rubah didepannya, hanya kebingungan. Pasalnya pandangannya benar benar silau oleh cahaya mana yang dihasilkan dari kacamatanya.


"Apa yang kalian lakukan di bukit ini. Pergilah sekarang sebelum aku berubah pikiran !" Seru si rubah dengan suara yang menggelegar.


"Tidak, ada yang harus ku ketahui ..." Balas Geiz tanpa jeda. Tapi sebelum dia menyelsaikan kata katanya, aura membunuh dan seruan si rubah menghentikannya.


"Makhluk rendahan seperti kalian berani mengajakku bicara. Hahaha, kalian lebih pantas menjadi budakku..."


Mengakhiri ucapannya, angin kencang tiba tiba muncul menerpa bukit bulan. Ranting ranting pohon bergoyang goyang mengikuti arah angin. Ekor rubah sembilan mulai bergerak menyerang Geiz dan Neil.


"Menghindar..." Seru Geiz pada Neil.


Beruntung Yuwe muncul dari belakang Neil dan membawanya terbang ke belakang menghindari serangan rubah iblis.


"Jaga jarakmu dari si rubah. Gunakan senjata yang kau miliki untuk menyerangnya. Dengar, jangan pernah mendekatinya !" Yuwe memberi arahan pada Neil.


"Baik master".


Akar akar berukuran besar mulai bermunculan dari udara dan menyerang si rubah. Tapi dengan mudah rubah iblis menghancurkan akar akar yang mengarah padanya.


Geiz juga menggunakan elemen tanahnya untuk menyerang si rubah. Ratusan tombak tanah mengarah langsung ke tubuh si rubah. Tapi lagi lagi tombak tanah Geiz juga dapat di tahannya dengan mudah.


Melihat serangannya tidak berguna, Geiz mengeluarkan pedangnya. Melapisi pedangnya dengan mana, Geiz menyerang si rubah secara brutal. Kilatan sapuan pedang menghantam ke arah si rubah. Tapi dengan perlindungan sihirnya, seluruh serangan Geiz mental tanpa bekas.


Merasakan Geiz dalam jangkauannya, salah satu ekor rubah iblis menyerang Geiz. Sebelum ekor rubah mengenai Geiz, puluhan akar melilit ekor si rubah dan memberikan kesempatan bagi Geiz untuk mundur.


Satu persatu ekor raksasa rubah terlilit oleh akar akar Master Yuwe. Tapi masih mudah untuk rubah melepaskan dirinya.

__ADS_1


Sraatt... Akar Master Yuwe hampir mengenai wajah raksasa iblis. Merasakan geram dengan serangan yang dilancarkan oleh Master Yuwe, raksasa rubah bergerak menyerang Yuwe.


"Rooarrrr.." Cakar rubah mengarah ke Yuwe dengan sangat cepat.


"Wood Layer Shield". Dinding kayu berlapis terbentuk melindungi Yuwe dari terkaman rubah iblis.


"Ground Shield". Geiz bergerak ke arah Yuwe dan melapisi dinding kayu dengan elemen tanahnya.


Raksasa rubah menghancurkan satu persatu lapisan dinding yang dibuat oleh Geiz dan Yuwe. Merasakan kritis serangan dari raksasa rubah, Yuwe meminta Geiz untuk mundur.


Slaashhh.... Setelah angin mulai mereda, Neil melemparkan belati sihirnya ke arah raksasa rubah. Belati Neil yang sudah dirancang secara khusus berhasil melukai salah satu ekor rubah sembilan. Tapi sebagai konsekuensinya, tali sihir yang menggerakkan belati terputus oleh cakar si rubah.


Melihat belati sihir Neil dapat melukai tubuh raksasa rubah, Geiz berpikir mungkin senjata biasa malah bisa melukai raksasa rubah. Mengeluarkan pedangnya kembali Geiz bersiap menyerang si rubah.


"Lindungi aku". Geiz menyeru kepada Yuwe.


Raksasa rubah yang mendapatkan luka di salah satu ekornya bertambah marah. Meningkatkan aura membunuhnya membuat Geiz dan Yuwe merasa ketakutan.


Geiz yang hendak menyerang berhenti seketika. Kedua kakinya tidak dapat digerakkan. Begitu juga dengan Yuwe, tubuhnya menjadi kaku dan serangannya berhenti.


"Berani sekali manusia rendahan seperti kalian melukaiku. Seharusnya aku sudah membunuh kalian dari tadi".


Menghancurkan seluruh dinding pelindung seperti rempeyek, raksasa rubah mendekati Neil dan Yuwe. Tidak bisa bergerak sama sekali, Geiz dan Yuwe sudah siap untuk mati.


"Rooaarrrr". Dua ekor raksasa rubah siap menghancurkan tubuh mereka berdua.


"Doorrr". Suara yang tidak asing di telinga Yuwe terdengar.


Peluru mana pistol Neil mengenai wajah si rubah. Tidak seperti serangan belati Neil yang memberikan luka pada si rubah. Peluru mana Neil tidak memberikan dampak apa apa pada si rubah.


"Hentikan !" Neil bergerak kedepan melindungi Geiz dan Yuwe. "Jangan sakiti mereka".


Raksasa rubah yang mendapatkan serangan tidak berguna dari Neil menghentikan serangannya pada Geiz dan Yuwe. Melihat manusia didepannya yang tidak terpengaruh dengan aura membunuhnya, si rubah sedikit tidak percaya. "Yang benar saja"

__ADS_1


Penasaran dengan auranya sendiri, si rubah terus meningkatkan aura membunuhnya hingga membuat Geiz dan Yuwe terjatuh ke tanah. Akan tetapi si rubah tetap tidak mendapatinya pada Neil. Manusia didepannya masih dapat berdiri dengan baik.


__ADS_2