Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
33. Bertapa


__ADS_3

"Aku mendengar di bumi pernah ada wali yang mendapatkan kekuatan jiwa setelah bertapa, maksudnya kultivasi..selama bertahun tahun master".


Geiz yang mendengar jawaban dari muridnya mendapatkan alternatif latihan Neil. Dengan tegas dia meminta Neil untuk memilih.


"Sekarang pilih. Latihan lebih keras berkali kali lipat atau bertapa seperti yang kau katakan".


Neil yang mendapat tawaran dari gurunya tambah tertekan. Jika tawarannya harta atau tahta dia tidak akan pusing pusing memilihnya. Semuanya menguntungkan dan menyenangkan.


"Latihan, tapa, latihan, tapa". Neil menimbang nimbang pilihan dihatinya. Dia bahkan menghitung hitung dengan jarinya. Tidak cukup dia juga menghitung dengan jari kakiknya.


Melihat api unggun yang masih menyala, Neil memejamkan matanya. Membayangkan kehidupannya, membayangkan teman temannya dan membayangkan latihannya.


Neil merasa sudah sejauh ini melangkah, latihan yang sangat berat telah dilalui. Membulatkan tekad Neil memilih pertapaan.


"Bukankah tadi master bilang kalau kekuranganku adalah pada jiwaku. Kalau begitu aku memilih bertapa.. hanya.."


Belum selesai mengatakannya, Geiz sudah menyelanya. "Baiklah, kita bersiap untuk bertapa. Tidak ada tapi tapi". Geiz memaksa Neil untuk bertapa.


Karena level sihir Geiz sudah di kunci saat masuk ke domain dan tidak akan naik level, Geiz hanya akan memantau kultivasi Neil.


"Apakah saat bertapa aku boleh makan dan minum master".


Melanjutkan perkataannya, Neil mengkhawatirkan perutnya. Walaupun di dunia barunya Neil sudah terbiasa makan 1 x sehari, tapi jika harus berbulan bulan atau bertahun tahun tidak mengisi perut, Neil khawatir dia tidak akan sanggup.


Geiz yang mendengarkan permintaan Neil, sudut bibirnya berkedut. "Tidak ada makan dan minum. Aku akan menjaga kondisi tubuhmu".

__ADS_1


Menarik nafas dalam Geiz melanjutkan. "Lakukan sekarang".


"Ehh, sekarang. Disini".


"Tidak ada orang lain disini. Lagian ini tempat terbaik yang bisa dijelajah".


Neil dengan enggan berjalan keatas batu di belakangnya dan bersila ala pertapa. Mengatur nafas, Neil menaik turunkan telapak tangannya ala pendekar.


Melihat Neil sudah melakukan kultivasinya, Geiz melihat kesekitar, dia heran kenapa tidak ada seekor beast pun yang menghampirinya. Geiz membutuhkan cadangan makanan lebih untuk sisa waktu di domain sihir.


Mengedarkan mananya kehutan, Geiz tidak menemukan satu ekor beast pun. Mengambil nafas berat Geiz tidak bisa tidak mengeluh.


"Selain membatasi area dan mengunci level sihir, raja benar benar tidak menyediakan makanan".


Membiarkan api unggun menari nari, Geiz menyusul Neil berkultivasi. Walaupun kultivasinya tidak akan meningkatkan levelnya, setidaknya itu akan mengisi cadangan mananya.


"Apakah master akan mengawasiku setiap waktu, benar benar melelahkan. Sekarang saja aku sudah merasa sedikit pegal". Gumam Neil di dalam hatinya.


Setelah lebih dari setengah jam bertapa Neil membuka matanya, dia merasakan kakinya kesemutan dan punggungnya pegal pegal. Dengan sangat lirih Neil mengeluhkan pertapaannya, dia benar benar tidak terbiasa melakukannya dan belum bisa berkonsentrasi.


Melihat kearah gurunya yang masih sangat tenang berkultivasi, Neil memperhatikan posisi Geiz berkultivasi. Dari gerakannya tidak berbeda dengan gerakan bertapa yang Neil lakukan.


"Dunia ini benar benar aneh, bagaimana bisa seseorang dapat bertapa setenang ini. Benar benar tidak ada gerakan. Apakah seperti yang di tv kalau jiwa mereka keluar saat bertapa. Tapi... Ah sudahlah... Apa yang harus aku lakukan. Benar benar sulit seperti patung".


Neil sudah berpikir ini itu tentang pertapaannya yang belum bisa dijalaninya. Tubuhnya yang sangat kuat sudah membara bara minta digerakkan. Setiap hari memukul membuatnya terbiasa, dan kali ini malah disuruh istirahat.

__ADS_1


Neil merasakan ada sesuatu yang hilang di dalam dirinya. Seperti anak sekolah yang sudah nyaman dengan proses belajarnya dikelas, tiba tiba diliburkan beberapa waktu dikarenakan keadaan yang memaksanya untuk belajar dirumah. Keinginan untuk dapat belajar bersama lagi dengan teman teman sekelasnya pasti mendominasi.


Melihat kearah gurunya yang sangat tenang, Neil mengayun ayunkan tangannya di depan wajah Geiz, persis seperti yang dia lakukan pada harimau Tao.


Tidak seperti Tao yang membiarkannya, Geiz yang merasakan tingkah Neil kemudian membuka mata dan mengagetkan Neil.


"Apa yang sedang kau lakukan".


Awalnya Geiz ingin marah, tapi mengingat pelatihan Neil membutuhkan ketenangan, dia berpikir kembali bahwa harus mengajari Neil ketenangan. Bagaimana dia akan mengajarkan ketenangan kalau dia sendiri marah marah. Itulah yang Geiz pikirkan.


"Ehh, tidak master, tidak apa apa". Neil menjawabnya dengan salah tingkah.


Masih melihat gurunya dengan tenang melihatnya, Neil menjadi lebih salah tingkah. Tangannya berkali kali menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Apa kau tidak bisa tenang dan melanjutkan pertapaanmu".


"Ehhm... Maaf master, kakiku kesemutan dan punggung..pegal pegal". Jawab Neil dengan malu malu.


Geiz yang mendengar jawaban Neil hanya dapat menarik nafasnya dalam dalam. Geiz menyadari bahwa tanpa melakukan pengolahan mana, tubuh hanya akan merasakan pegal pegal dan kesemutan jika tidak digerakkan sama sekali.


"Lalu apa kau ingin menyerah. Dan melupakan tekadmu".


"Tentu saja tidak master. Hanya saja rasanya benar benar membosankan. Tadi saja aku hampir tertidur".


Melihat gurunya tidak marah, Neil berani menyatakan perasaannya. Neil telah berpuluh puluh tahun bersama dengan gurunya, jadi dia telah banyak memahami karakter gurunya. Dia tahu bahwa gurunya saat ini sedang tidak ingin berdebat dengannya.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana sebaiknya. Apa kau membutuhkan tempat yang lebih baik untuk bertapa atau bagaimana".


Mendengar pertanyaan gurunya yang tidak seperti biasa membuat Neil sedikit tertekan. Dia berpikir apa yang sebenarnya telah terjadi dengan gurunya. Apakah gurunya salah makan atau apakah ada sesuatu yang merasukinya. Neil tidak tahu harus menjawab apa.


__ADS_2