
Didalam goa, Niel mulai membuka matanya perlahan. Merasakan sakit diseluruh tubuhnya, Neill tidak bisa tidak mengerang. "Dimana ini...apakah aku sudah mati...tapi kenapa sakit sekali, apakah aku masuk ke neraka dan sedang menjalani siksaan".
Neil bangun dan bersandar di dinding goa kemudian mengamati sekitar dan dirinya. "Tidak, aku sepertinya berada di sebuah goa dan tubuh ini juga masih sama...dan aku masih mengingat jelas semuanya...Aku masih hidup".
"Dimana Kent dan Deila..apakah mereka masih hidup". Neill ingin mencari kedua temannya, tapi tubuhnya benar benar dalam kondisi yang buruk, kalaupun dipaksa berjalan ia hanya akan sempoyongan dan jatuh tersungkur.
Mengingat kejadian yang sebelumnya dia masih tidak percaya dengan arus laut yang membawanya berada di dalam gua. Dia melihat disekitar goa yang tidak ada air, bagaimana mungkin dia sekarang berada di dalam goa yang kering dengan banyaknya batuan.
Sesuatu yang terlintas dipikirannya adalah mungkin ada seseorang yang telah menyelamatkannya dan memindahkannya ke dalam goa. Tapi meninggalkannya sendirian di dalam goa, bukankah itu tidak bertanggung jawab. Seperti itulah yang sekarang sedang dipikirkan oleh Neil.
Dengan napas berat, Neil memutuskan untuk istirahat dan memulihkan kondisinya tanpa makanan dan minuman. "Beruntung cahaya mentari sedikit menembus kedalam, kalau tidak aku benar benar tidak dapat melihat apapun."
2 jam kemudian. Merasa cukup beristirahat, Neil mulai berjalan mengamati sekitar. Cacing diperutnya juga sudah berteriak teriak meminta jatah makannya.
"Kruuyuuk..kruuyukk.." suasana goa yang sunyi kini menjadi berisik dengan suara perut Niel. "Benar benar batu semua, kalau tidak menemukan makanan aku akan mati. Aku harus keluar dari goa ini."
Memegang perutnya yang mulai terasa perih, Neil berhenti sebentar mengatur nafas. Luka lukanya yang belum sembuh juga memaksanya tidak dapat berjalan dengan cepat.
Setelah dirasa cukup beristirahat, Neil terus berjalan ke arah cahaya dengan sempoyongan dengan sesekali berdoa mendapatkan makanan dan minuman diluar.
...----------------...
Dikediaman Duke Huosan, Kiel Huosan sedang mondar mandir di depan kamarnya. Kiel sedang menantikan kelahiran anak keduanya. "Kenapa lama sekali, apa ada masalah dengan persalinannya". Gumam Duke dengan perasaan cemas.
Setelah menunggu cemas beberapa menit, "Eeaa...eaa.." mendengar tangisan bayi, Duke Kiel merasa lega. Mengatur napas dia langsung menerobos masuk ke dalam kamar persalinan istrinya tanpa mengetuk pintu. "Viana...".
__ADS_1
Baru berjalan 2 langkah Duke langsung dihentikan oleh pelayan. "Maaf Tuan, tuan belum boleh menemui mereka. Kondisi Nona masih berantakan dan bayinya juga belum dibersihkan. Kami ingin kabarkan bahwa kondisi bayi dan Nona baik baik saja, tuan tidak perlu khawatir...serahkan saja semuanya pada kami".
Mendengar penjelasan dari kepala pelayan, Duke hanya bisa mengambil napas berat. Ia harus menunggu sebentar lagi untuk dapat menemui istri dan anaknya. "Aku akan menunggu diluar". Balas Duke.
"Selamat Nona, putra anda laki laki. Dia terlihat gagah seperti ayahnya." Tabib menggendong bayi Sam dan memberikannya kepada Viana yang duduk terbaring.
Melihat wajah Sam yang mirip dengan ayahnya, Viana memikirkan tentang tentang suaminya. Viana merasa bahagia memiliki seorang suami seperti Duke Kiel. Walaupun dia sedikit kurang suka dengan cara berpikirnya, tapi Duke memiliki hati yang baik. Itu yang membuat Viana bahagia.
Duke Kiel adalah seorang ksatria bangsawan yang pilih tanding dengan postur tubuh yang gagah lagi kekar. Dia diberkati kekuatan fisik diatas manusia normal. Komandan pasukan dan pengguna elemen api dan angin. Bakatnya secara turun temurun berasal dari leluhurnya.
Kekuatan militer di Negaranya berada dalam komandonya. Dari kisah para pasukannya, Duke Kiel adalah komandan yang bertangan dingin. Dia membunuh musuh musuhnya dengan tanpa berkedip.
Jika negara sedang berselisih atau sedang menghadapi peperangan, dialah yang menjadi tombak utama penyerang sekaligus bertahan. Musuh musuhnya dibuat gentar terlebih dahulu sebelum bertarung.
"Erra, panggil tuan kemari". Perintah Viana kepada kepala pelayan.
Belum sempat Erra menyelesaikan perkataannya, Duke menerobos kedalam kamar sekali lagi. Kali ini tidak ada yang menghentikannya menemui istri dan anaknya. Melihat suaminya didepannya, Viana memberikan isyarat kepada seluruh pelayan dan tabib untuk meninggalkan mereka berdua di kamar.
Mengetahui istri dan anaknya yang dalam keadaan baik, Kiel tersenyum dan bersyukur kepada dewa. Dia kemudian menghampiri istri dan anaknya. "Bagaimana kondisimu dan anak kita". Tanya Duke cemas.
"Aku sedikit lelah, tapi tabib sudah memberiku pil pemulih jadi sudah lebih baik... Lihatlah anak kita, dia gagah sepertimu".
"Dia akan menjadi laki laki yang kuat seperti ayahnya...aku akan melatihnya setiap hari". Tutur Duke dengan antusias.
"Ehh, " Viana yang mendengar kata kata suaminya langsung mengeluh. "Dia masih kecil, kau jangan menakutinya".
__ADS_1
Mengabaikan perkataan istrinya, Duke melanjutkan kata katanya "Aku menamainya Sam... Sam Huosan".
Mendengar nama Sam, Viana memandang ke arah Duke. Dengan senyum senang, dia mengangguk tanda setuju dengan pemberian nama Sam pada bayinya.
Setelah memberi nama bayinya, Duke lalu menciumnya. Duke mencium kening Sam untuk memberikan berkat, tapi seketika dia dikejutkan dengan tubuh Sam yang memancarkan cahaya.
Duke dan Viana saling memandang, mereka tidak mengatakan sepatah katapun hingga rengekan Sam membuyarkan pemikiran mereka.
...----------------...
Sementara di dalam goa hutan terlarang, Neil yang sedang sempoyongan tiba tiba berhenti, ekspresinya tampak rumit.
"Jadi dari tadi aku berjalan ke dalam. Aku telah ditipu". Neil yang menganggap cahaya terang tadi adalah cahaya mentari, ternyata hanyalah cahaya api obor yang menyala.
Menjatuhkan tubuhnya dengan berlutut, Neil tertunduk lesu. "Apakah aku akan mati di goa batu ini. Ini bercanda kan".
Neil semakin putus asa. Rasa sakit, lapar dan haus yang silih berganti menjatuhkan seluruh tubuhnya ke tanah. Menutup matanya Neil teringat tentang kedua orang tuanya, adiknya yang imut dan kedua temannya.
Mengingat kebersamaan mereka menjalani hari hari sebelumnya. "Ayah, Ibu maafkan Neil yang belum bisa membahagiakan kalian. Neil hanya bisa merepotkan ayah dan ibu selalu".
"Adikku Steilla, maafkan kakak. Kakak ngga bisa tepatin janji beliin boneka plankton di ulang tahunmu bulan depan".
"Kent, Deilla..." Sebelum selesai mengatakannya, Neil teringat dengan janji yang mereka bertiga ucapkan.
"Kami 3 kawan berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain tanpa alasan, kami berjanji akan selalu berbagi suka maupun duka, kami berjanji akan saling nasehat menasehati dalam kebenaran".
__ADS_1
Neil, Kent dan Deila melafalkan janji 3 sekawan mereka bersama. Mereka tertawa bersama, Kent yang selalu bertingkah pemberani dan Deila yang sering melupakan sesuatu. Memori tentang Kent dan Deila silih berganti tergambar di mata Neil. Tanpa sadar air mata pun jatuh ketanah.