
Mendengar pertanyaan dari tuannya, seluruh prajurit saling pandang. Tidak ada satu orangpun dari mereka yang mengaku sebagai pemilik teko.
Tidak mendapatkan jawaban, Duke mengulangi pertanyaannya dan kali ini disertai dengan ancaman berat.
Tapi sampai diujung waktu masih tidak ada satu orang prajuritpun yang mengaku. Melihat raut kejujuran di wajah prajuritnya, Duke Jo menarik nafas panjang dan mengakhiri interogasinya.
"Baiklah.. jika tidak ada diantara kalian sebagai pemilik teko emas ini, aku sendiri yang akan menyelidikinya. Jika ada diantara kalian yang memiliki hubungan dengan keberadaan teko ini, maka terimalah akibatnya sendiri".
Barisan prajurit dibubarkan. Duke kembali ke kamarnya untuk bertemu istri dan anaknya.
...----------------...
"Suami, ayah memberi kabar kalau dia akan kemari besok". Viana menyampaikan pesan ayahnya kepada Kiel setelah makan malam keluarga.
Duke lalu mengonfirmasinya. "Apakah ini sudah 5 tahun Viana. Sepertinya waktu berlalu begitu cepat".
Viana yang sudah mengetahui kedatangan ayahnya untuk membawa Sam hanya menganggukan kepalanya sambil tangannya mengelus kepala Sam.
"Aku tidak bisa jauh dari Sam. Bisakah ayah melatih Sam disini saja".
Duke yang mendengar pertanyaan istrinya terkejut. "Bukankah dulu kau yang mengijinkannya".
Jawaban Duke seketika langsung membuat mata istrinya menatap tajam ke arahnya. Merasa salah tingkah Duke melanjutkan.
"Baiklah... Jika ayah bersedia dia bisa tinggal disini".
Duke sebenarnya enggan bila mertuanya tinggal di kediamannya. Dia selalu merasa terintimidasi apabila berada bersama Tetua Guo.
Tetua Guo memang terkenal dengan kecerdasan dan bakatnya. Ditambah dengan pengalaman hidup ribuan tahunnya membuat dia sangat dihormati di kalangan para tetua di benua tengah.
Sedangkan Kiel, walaupun dia terkenal sangat kuat, tapi kecerdasannya sedikit kurang.
__ADS_1
"Terima kasih suami, akan kupastikan ayah tidak akan menolaknya".
Sebagai anak dia tahu persis apa kelemahan ayahnya. Viana kemudian pergi meninggalkan meja makannya dengan menuntun Sam.
Sam sebenarnya mengetahui pembicaraan kedua orang tuanya, tapi dia hanya tidak mau berkomentar saja.
"Ibu, apakah Lien juga boleh ikut berlatih".
Lien adalah saudara ipar Sam, anak dari adik ayahnya. Keluarga Lien tinggal di mansion sebelah kediaman Duke. Lien berusia beberapa bulan lebih muda dari Sam.
Viana yang mendengar pertanyaan anaknya langsung mengiyakannya. Dia tahu persis bagaimana kebersamaan Sam dan Lien. Sam yang mendengar jawaban dari ibunya langsung berteriak kegirangan.
Keesokan harinya di kediaman keluarga Huosan, sebuah siluet manusia terbang memasuki pintu gerbang pintu Duke. Penjaga gerbang yang sudah tidak asing lagi dengan cara berkunjung Tetua Guo hanya membiarkannya saja.
Memakai jubah berwarna hijau dengan motif angin dan sedikit bunga, Tetua Guo turun di taman bunga anggrek keluarga Huosan. Tetua Guo senang melihat keindahan bunga anggrek yang mengingatkannya kepada almarhum istrinya.
Duke dan istrinya yang mengetahui kehadiran Tetua Guo dari pancaran mananya bergeges menuju ke taman anggrek dan menyapanya.
" Bagaimana keadaan ayah". Tanya Viana lembut.
"Seperti yang kau lihat. Aku masih bisa mengalahkan suamimu ini dengan 1 pukulan".
Duke yang mendengar perkataan Tetua Guo hanya mengangkat alisnya.
"Bagaimana keadaan Sam".
"Sam baik baik saja ayah. Tapi... Kurang lebih 3 tahun yang lalu tubuh Sam memancarkan cahaya kembali. Kami tidak memberitahumu karena kami merasa itu bukan sesuatu yang buruk".
"Hhm, tanpa kalian beritahu aku juga mengetahuinya dari kalung yang aku berikan. Ngomong ngomong apakah kalian sudah memberitahu Sam bahwa dia akan berlatih dengan kakeknya di Perguruan Lima Langit ?"
Mendengar pertanyaan ayahnya, Viana menatap suaminya. Melihat suaminya mengangguk Viana mulai mengutarakan maksudnya.
__ADS_1
"Iya ayah, aku sudah memberitahu Sam bahwa dia akan berlatih dengan ayah..tapi..." Mendengar kata tapi, Tetua Guo sudah memicingkan matanya.
"Bisakah ayah melatih Sam disini saja". Viana mengatakannya dengan mata berkaca kaca.
Benar seperti dugaannya, Tetua Guo hanya berdehem panjang sebagai tanggapan. Dia kemudian menatap Duke dengan wajah permusuhannya. Melihat tatapan tajam dari ayah mertuanya Duke memalingkan wajahnya berpura pura tidak terlibat.
Tetua Guo yang menghadapinya berseru didalam hatinya. "Bukannya aku tidak mau, tapi didekat suamimu aku merasa otakku bergerak lambat".
"Tidak..ak..u.."
"Aayahh".
Belum selesai Tetua Guo memberikan jawabannya, Viana dengan mata berkaca kaca dan sedikit berlinang air mata menyelanya.
Tetua Guo yang tidak bisa melihat putrinya menangis hanya dapat menghela nafas berat. Walaupun kejadiannya tidak sedramatis saat Viana meminta persetujuan untuk pernikahannya dengan Kiel, Tetua Guo tetap tidak tega melihatnya.
"Baiklah akan aku pikirkan".
"Kalau begitu aku akan meminta pelayanan menyiapkan keperluan ayah selama tinggal disini". Duke kemudian undur diri untuk menyiapkan keperluan ayah mertuanya.
Tetua Guo yang mendengarnya hanya dapat mengeluh. "Bukankah aku belum bersedia untuk tinggal".
"Ayah.. sudahlah. Suami hanya senang karena ayah bersedia tinggal disini untuk melatih Sam". Sela Viana lagi.
Tetua Guo yang melihat ulah anak dan menantunya kembali mengeluh. "Kalian berdua sama saja...sama sama merepotkan".
Dihari berikutnya, utusan dari Perguruan Lima Langit datang untuk memberikan kebutuhan sehari hari Tetua Guo. Walaupun sebenarnya Viana telah menyiapkan keperluannya, tapi ada beberapa benda yang dibutuhkan oleh ayahnya sehari hari.
Tetua Guo dengan terpaksa menyetujui keinginan anaknya untuk melatih Sam di kediamannya dengan syarat Duke Kiel tidak boleh mencampuri cara mengajar dan melatih Tetua Guo.
Duke yang tidak ingin kena marah istrinya tentu menerima syarat yang diberikan. Karena sekalipun ada masalah dalam pelatihan Sam, Duke Kiel percaya bahwa istrinya bisa membantunya.
__ADS_1