Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
76. Sambutan Hangat


__ADS_3

"Akhirnya kita pulang... Benar kan master, kita akan berangkat dan pulang bersama... Misi berhasil !" Neil sedikit mengangkat bahunya sambil meloncat loncat kecil.


"Setelah sampai di akademi, aku akan mentraktirmu makan sampai sebulan Neil ?" Sahut Yuwe yang sedang menggendong ibunya Geiz.


"Hmm, tidak perlu ditraktir, kalau di akademi mah aku udah makan gratis Master Yuwe !" Balas Neil dengan tak acuh.


"Ehmm, sebagai gantinya lalu apa yang ingin kau minta dariku ?"


"Tidak perlu Master Yuwe. Master sudah pasti memenuhi keinginanku !"


"Memangnya apa yang Master Geiz janjikan padamu ?"


Geiz yang mendengar percakapan Neil dan Yuwe menepok jidatnya. Dia menyesal telah menjanjikan sesuatu pada muridnya yang sembrono.


"Master berjanji akan memenuhi satu keinginanku, heheehee..."


"Lalu apa yang ingin kau minta padanya ?"


"Rahasia..."


Yuwe yang mendengar jawaban dari Neil mengedutkan sudut bibirnya. Dia merasa mengobrol dengan Neil menyenangkan tapi juga menyebalkan.


"Aku menarik kembali janjiku !" Celetuk Geiz tiba tiba yang membuat Neil tertegun.


"Ehh, mana bisa. Janji adalah janji. Master tidak boleh memutuskannya sepihak !"


"Kalau begitu, jawablah pertanyaan Master Yuwe !"


Yuwe yang mendengar perkataan Geiz langsung menyunggingkan senyumnya pada Neil. Tapi Geiz segera melanjutkan kata katanya yang membuat Yuwe salah paham.


"Pertanyaan Master Yuwe sebelumnya. Apa kau mengetahui sesuatu yang terjadi dengan rubah itu ?"


"Bukankah aku sudah mengatakan yang sebenarnya pada master ?" Balas Neil tanpa jeda.


"Kalau begitu bersumpahlah atas nama kedua orang tuamu !"


Neil seketika langsung diam dan menghentikan langkahnya. Berbohong dengan melibatkan nama kedua orang tuanya itu tidak mungkin dilakukan olehnya.


"Kenapa... apa kau tidak berani ?" Lanjut Geiz yang sedikit mengerti dengan kepribadian Neil.


Yuwe yang melihat bagaimana Geiz memojokkan Neil menarik nafasnya dalam. Dia sampai harus melakukan pemaksaan kepada Neil untuk mendapatkan informasinya, tapi Geiz hanya dengan satu kalimatnya sudah membuat Neil terpaku.


Masih melihat Neil terdiam, Geiz kemudian melanjutkan kembali kata katanya. "Jadi tidak masalah kan kalau aku menarik kembali janjiku ?"

__ADS_1


Dengan tak acuh Geiz kemudian berjalan kembali kedepan yang diikuti oleh Yuwe dan Neil. Dengan diamnya, Neil tahu kalau Yuwe dan gurunya menaruh curiga padanya.


"Akhirnya kalian tiba juga". Sambut Kwen pada Geiz dan rombongannya.


"Maaf membuat anda menunggu tuan Kwen. Ehh, tuan Don juga ada disini ?" Balas Geiz yang melihat Don bersama Kwen.


"Kita akan pulang bersama". Balas Don sambil tersenyum.


"Apakah tuan Don dari kemarin masih disini ?"


"Tidak... aku baru kembali menghubungi Juan. Orang tua itu sangat khawatir dengan kalian ?"


"Aku juga merindukan master kepala". Sahut Neil dengan ekspresi datar.


"Setelah sampai ke benua tengah, kami akan merawat ibumu Geiz. Kami memiliki master alchemist hebat dan fasilitas yang lengkap".


"Terima kasih tuan Don. Tapi saya akan merawat ibunda di akademi".


"Baiklah. Terserah kau saja. Kalau begitu mari kita pulang !"


Don Geiz dan rombongannya akhirnya kembali ke menara sihir benua tengah setelah pamitan dengan Kwen. Tanpa disadari oleh mereka, Lier yang melihat dari kejauhan entah kenapa air matanya menetes ke kedua pipinya.


Melihat kacamata pemberian Neil ditangannya, dia kemudian memakainya sendiri. Masih berderai air mata sebuah kalimat terucap dari mulutnya. "Selamat Tinggal".


"Bruuaakkk..." Suara benturan terdengar di portal menara sihir benua tengah.


"Itulah akibatnya kalau membuat orang tua sepertiku merasa khawatir... lega rasanya". Ujar Juan sambil merenggangkan otot lengannya.


Yuwe dan Don yang melihat penyambutan dari Juan hanya tertegun. Mereka sama sekali tidak menyangka Juan akan melakukan hal seperti itu pada Geiz dan Neil.


"Kau terlalu berlebihan kawan ?" Ucap Don yang menghampiri Juan.


"Hahahaahaaa... jika tidak terima mereka bisa membalasnya".


"Mereka sudah babak belur, apa kau akan membuatnya lebih parah lagi !" Sahut Yuwe pada obrolan Juan dan Don.


"Hahahaahhaa, apa kau ingin merasakannya juga Master Yuwe ?"


Yuwe yang mendengar balasan dari Juan hanya menggembungkan kedua pipinya. Sambil menggendong ibu kandung Geiz, dia berjalan ke ruang perawatan menara sihir.


Neil dan Geiz yang sudah kembali ke hadapan Juan kemudian mengeluhkan perbuatannya. Mereka protes dengan sambutan hangat dari Juan.


"Apakah ini caramu dalam menyambut ?"

__ADS_1


"Sakit sekali master kepala. Kali ini aku minta kompensasi !"


"Kompensasi..." Gertak Juan dengan meniup niup tangannya yang sudah terkepal.


"Tidak... tidak jadi master kepala..."


"Hhmm... kalian berdua ikut aku !"


Melihat Yuwe yang sudah tidak ada, Geiz lalu menganggukkan kepalanya yang diikuti oleh anggukan Neil. Mereka berdua mengikuti Juan dari belakang.


"Kenapa kau juga mengikutiku ?" Seru Juan pada Don.


"Ini tempatku, aku bebas kemanapun di tempat ini !" Balas Don sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Aku hanya bercanda Don. Kau bisa mengikuti kami kalau kau mau !"


"Aku rasa aku akan istirahat saja".


"Terima kasih kawan untuk semuanya. Aku berhutang budi padamu...!"


Don yang merasa sikap temannya yang mudah berubah kemudian menarik nafas panjang. Dengan lirih dia menjawab rasa terima kasih Juan.


"Jangan pikirkan hal itu. Tidak ada hutang budi diantara teman !"


"Kau memang teman terbaikku Don !"


Di sudut ruang menara sihir Juan yang sedang menginterogasi Geiz dan Neil nampak sangat dengan jawaban yang didapat dari Neil. Sama seperti pertanyaan yang dilontarkan oleh para ketua menara sihir, Juan juga mendapatkan jawaban yang sama dari Geiz dan Neil.


Memukul tembok didepannya sampai retak, Juan membuat Neil bergetar ketakutan. Ini adalah pertama kalinya dia melihat master kepala sangat kesal. Berbeda dengan Neil, Geiz masih terlihat tenang.


"Kau membuatnya ketakutan !" Ujar Geiz pada Juan.


Melihat Neil yang gemetar ketakutan Juan menarik berat nafasnya. Merasa telah berlebihan, dia kemudian menenangkan Neil.


"Katakutanmu semakin menunjukkan kebohonganmu Neil. Dimana keberanianmu saat menghadapi rubah itu..?"


"Itu... maaf sudah mengecewakanmu master kepala ?" Neil bersujud dihadapan Juan.


"Berdiri... ayo berdiri... apa kau menginginkanku terus merasa kesal !"


Mendengar perintah Juan, Neil kemudian berdiri dan menatap ke arah Juan dengan instent. Dengan berkaca kaca, Neil menusuk perasaan Juan dan Geiz.


"Master, Master Ren dan anda master kepala. Kalian telah menyelamatkan dan merawatku hingga kini. Kalian adalah orang yang paling aku hormati di dunia ini. Seperti seorang anak yang ketakutan saat melihat orang tuanya marah, itulah yang saat ini aku rasakan".

__ADS_1


Mendengar kata kata Neil, Juan dan Geiz menarik nafas beratnya. Kali ini hati mereka seperti di sayat sayat oleh perkataan Neil. Saling pandang, Geiz meminta Juan untuk lebih bersabar.


Neil yang melihat emosi Juan mereda sedikit menyunggingkan senyumnya. Hatinya merasa lega karena rahasianya saat ini masih aman. Merasa bersalah, Neil meminta maaf kepada mereka di dalam hatinya.


__ADS_2