Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
54. Keterlaluan


__ADS_3

Neil yang merasakan sebuah tarikan kuat mundur kebelakang. Melihat pusaran angin yang terus mengarah padanya, Neil mengaktifkan elemen angin pada sarung tangannya dan menyarungkan pedangnya.


"Tadi apa yang orang itu katakan". Neil bergumam tentang mantra sihir yang diucapkan oleh pria bertopeng, dia berniat menirukannya. "Kalau seperti itu, aku juga bisa... hurricane.."


Sebuah pusaran angin keluar dari sarung tangan Neil dan semakin besar. Setelah dirasa cukup Neil menabrakkan anginnya dengan angin pria bertopeng.


"Ngung..wuung..ngung..wung.." Angin terus bertabrakan dan menghasilkan badai angin yang dahsyat. Beruntung Neil memakai kacamata, sehingga matanya terlindung dari angin yang menerpanya.


Setelah beberapa saat bertabrakan, kedua pusaran angin lenyap dan menyisakan Neil, Yuwe dan pria bertopeng di tempat itu. Pria bertopeng yang merasakan kalau rekannya telah mati kemudian menatap tajam ke arah Yuwe.


Melihat Yuwe tidak bergerak, dia ingin melarikan diri. Tapi saat merasakan semangat bertarung dengan Neil, pria bertopeng mengurungkan niatnya. Dia ingin menunjukkan bahwa kelompoknya bukan seorang pengecut.


"Sepertinya kau memilliki peralatan sihir yang menarik !" Seru pria bertopeng pada Neil.


"Terima kasih kalau kau menyukainya. Tapi maaf ini tidak dijual !" Balas Neil tanpa jeda.


"Hanya seorang pengguna jimat. Matilah kau.." Mengakhiri percakapannya, pria bertopeng menghilang dan muncul dibelakang Neil dengan mengayunkan pedangnya.


Neil yang telat menghindar, terpaksa menahan serangan pedang musuhnya dengan tangan kanannya. Yuwe yang sudah siap menyelamatkan Neil menghentikan pergerakannya karena ternyata Neil tidak terluka sama sekali.


"Aduh.. rasanya sakit sekali". Neil mengerang kesakitan walaupun dia tidak terluka. Lagi lagi jubah curiannya menyelamatkan dirinya. Lengannya selamat dan utuh.


"Apa.. tidak mungkin.. bahkan dia juga memiliki jubah pelindung.. siapa sebenarnya orang itu.. mungkin tadi dia hanya beruntung. Bagaimana kalau kita coba lagi". Pria bertopeng yang masih tidak percaya mencoba menyerang Neil kembali.


Tidak ingin menjadi bulan bulanan musuhnya, Neil mengaktifkan kacamatanya agar dapat melihat pergerakan musuh melalui mananya. Dan benar, Neil melihat mana yang bergerak ke arahnya, dia lalu mengeluarkan pedangnya kembali.


"Klang.." Suara benturan pedang terdengar ditelinga Neil kembali.


"Klang.. klang.. klang .. klang.." Neil terus menerus dapat menangkis serangan musuhnya. Merasa terbiasa, Neil bahkan mulai mampu menekan musuhnya.


"Apa... benar benar keterlaluan.." Merasa terkejut, pria bertopeng mundur ke belakang dan bersiap menyerang kembali.


"Doorrr... "


Belum sempat pria bertopeng menyerang, sebuah peluru mana menembus dadanya. Neil yang melihat sebuah lubang hampir sebesar bola kasti tepat dijantung musuhnya tertegun sejenak. Merasa jijik dia berbalik.


Pria bertopeng yang sudah sekarat berusaha melemparkan pedangnya ke arah Neil. Belum sempat bereaksi, sebuah akar kayu muncul dari udara dan merobek robek tubuhnya.


"Jangan lengah, habisi musuhnya sampai mati !" Sebuah suara yang tidak asing terdengar di telinga Neil.

__ADS_1


Neil yang masih gemetaran menghiraukan seruan Yuwe. Tidak berselang lama bau amis tercium di hidungnya. Neil muntah di udara dengan ketakutan.


"Apa kau tidak apa apa ?" Yuwe mendekati Neil.


"Ini adalah pengalaman pertamanya membunuh manusia". Sebuah suara yang juga tidak asing terdengar di telinga Neil dan Yuwe.


"Master..!" Neil berlutut diatas skateboardnya.


"Akhirnya kau muncul juga !" Kicau Yuwe dengan tak acuh.


"Apa ini ?" Tidak menjawab, Geiz malah melempar surat rekomendasi palsu yang dicurinya kepada Yuwe.


Setelah menghabisi beberapa pria bertopeng yang mencegatnya, Geiz sedikit berpikir kenapa Yuwe sangat ceroboh dengan meletakkan surat penting begitu saja di meja kamarnya. Setelah membuka isinya ternyata itu bukan surat rekomendasi yang asli.


"Padahal aku sudah mengkhayal kalau kau akan ditangkap oleh penjaga istana. Menunggu kami datang untuk menyelamatkan". Yuwe mengejek Geiz dengan tak acuh.


"Kau... benar benar keterlaluan. Kalau saja bukan perempuan, aku pastikan..."


"Apa....?" Belum selesai Geiz menyelesaikan kalimatnya, Yuwe sudah menyelanya.


Mendengus dingin, Geiz merasa tampak kesal dengan Yuwe. Wanita didepannya selalu saja bisa membalas perkataannya.


"Itulah balasan karena kau tidak mempercayai kami". Mendekati Neil, Yuwe kemudian mencoba menenangkan Neil yang masih gemetaran. "Tenanglah Neil, kau memang harus membunuhnya. Jika tidak, dia yang akan membunuhmu".


"Bersikaplah seperti pria Neil. Kalau hanya seperti itu kau sudah ketakutan, bagaimana kalau kau melihat kepala yang meledak !" Seru Geiz pada Neil.


Tidak menjawab pertanyaan gurunya, Neil malah balik bertanya pada Yuwe. "Master Yuwe, master sudah kembali. Apakah semuanya sudah baik baik saja ?".


Yuwe yang mendengar pertanyaan Neil merasa tersentuh hatinya. Dia merasa bersalah karena tidak memberitahukan informasi yang didapatnya dari Yien.


"Iya, kau tidak perlu khawatir lagi".


"Syukurlah.." Gumam Neil yang masih bisa di dengar oleh Yuwe.


'Kita istirahat disana dulu. Ada yang ingin aku sampaikan !" Yuwe menunjuk sebuah bukit yang tidak jauh dari tempatnya.


Neil, Geiz dan Yuwe kemudian turun kebukit yang ditunjuknya tadi. Sampai dibawah Yuwe meminta Neil untuk istirahat dan minum air putih. Yuwe kemudian menghampiri Geiz untuk membahas sesuatu.


"Sebenarnya Neil berasal darimana. Aku merasa dia begitu berbeda ?" Yuwe mengawali pertanyaannya.

__ADS_1


Tidak menjawab, Geiz malah menatap Yuwe dengan tak acuh. Tak lama Geiz kemudian menatap ke arah Neil.


"Dasar baperan" Yuwe melanjutkan perkataannya.


"Apa maksudmu. Apa kau mengajak kami untuk membahas hal itu ?'.


"Sebenarnya aku ingin membahas tentang pria bertopeng tadi, tapi sepertinya aku sudah kehilangan mood" Balas Yuwe kembali.


"Dasar wanita..." Belum selesai mengatakannya, Neil mencoba melerai keduanya.


"Tidak bisakah kalian lebih akur. Aku seperti melihat sepasang kekasih yang sedang bertengkar !"


"Apa... kekasih ?" Seru Yuwe tanda jeda.


"Jaga perkataanmu Neil !" Seru Geiz kemudian.


"Jangan dekat dekat". Yuwe meminta Geiz untuk menjauh.


"Bukankah kau yang menghampiriku !" Balas Geiz kemudian dengan sedikit penanganan.


"Iihhhhh". Yuwe bergerak menjauhi Geiz.


Geiz yang melihat Yuwe bergerak menjauhinya sudut bibirnya berkedut. Dia tidak menyangka ada wanita seperti itu di dekatnya.


Neil yang melihat tingkah Geis dan Yuwe kemudian tertawa. "Hahaha..."


"Apa yang kau tertawakan ?" Geiz menyeru kepada Neil.


"Tidak apa apa master".


Memberikan jawaban kepada gurunya, tiba tiba suasanya berubah menjadi sunyi. Dan lucunya, kesunyiannya terus berlangsung sedikit lama sampai Yuwe bersuara.


"Baiklah, sekarang waktunya serius. Aku lihat kau sudah baikan Neil !"


Geiz dan Neil kemudian mendekati Yuwe dan duduk bersebrangan dengannya. Yuwe kemudian mengeluarkan minuman dan beberapa camilan dari dalam cincin dimensinya.


"Ini adalah informasi yang aku dapat dari pemilik rumah makan 'enak banget' dari kota Twinder". Menatap ke arah Neil kemudian Geiz, Yuwe melanjutkannya. "Orang orang organisasi sihir hitam sudah lama mengawasi perkembangan bukit bulan. Mereka bahkan mendirikan markasnya disini".


"Apakah kelompok bertopeng itu bagian dari organisasi sihir hitam ?" Geiz menerka asal usul kelompok bertopeng.

__ADS_1


"Kemungkinan terbesarnya benar". Balas Yuwe dengan cepat.


"Apa yang mereka cari di bukit bulan ?" Tanya Geiz yang sudah mulai penasaran.


__ADS_2