
"Aku hanya ingin lebih kuat saja master, biar tidak dipandang sebagai anak kecil, hee". Dengan tertawa kecil Neil menutupi kerapuhan hatinya.
Juan yang sudah hidup lama dengan banyak pengalaman sebenarnya mengetahui ada yang sesuatu yang disembunyikan oleh Neil, tapi dia tidak ingin membahasnya karena mungkin itu adalah privasinya.
"Maka berlatihlah lebih keras. Hanya dengan itu kau bisa menjadi kuat, bahkan lebih kuat dariku".
"Baik master, terima kasih nasehatnya".
"Ngomong ngomong, Master Geiz akan kembali dalam beberapa minggu ini. Jadi mulai bereskan kekacauan yang kau buat". Juan melihat beberapa pakaian Neil yang berserakan dan beberapa alat sihir yang tidak berada pada tempatnya.
"Hehee... siap master kepala".
Selama sisa beberapa minggunya, Neil benar benar memaksimalkan pelatihannya. Sesuai dengan ijin yang didapat, dia hanya boleh memakai tempat pelatihan tersebut sampai Geiz kembali.
Kekurangan yang dialami Neil adalah kapasitas energi batu sihirnya yang terbatas. Seperti baterai di bumi, batu sihir yang menjadi sumber tenaga perlu diisi ulang agar bisa berfungsi. Neil sering berkunjung ke laboratorium hanya untuk melakukan pengisian.
Yui yang dulunya galak juga sekarang sudah mulai bersahabat dengan Neil, mungkin karena Neil yang sudah bisa mengendalikan dirinya sedikit membuat Yui merasa tenang.
Sayangnya permintaan Neil kepada Master Yosh untuk membuat cincin dimensi yang sesuai tidak bisa dilakukan karena lemahnya mana di dalam diri Neil. Setidaknya Neil memiliki banyak kantong pada jubahnya yang bisa dia pakai untuk menyimpan sesuatu.
Merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, Neil ingin mengistirahatkan badannya. Karena keasyikan menyelesaikan latihannya Neil lupa untuk makan malam. Baru saja mau memejamkan matanya, cacing dalam perutnya kembali bersiul siul.
"Udah tengah malam begini mana perut laper banget. Kantin masih buka apa ngga ya ?" Neil berbicara dengan dirinya sendiri.
Tidak kuat menahan lapar, Neil akhirnya bangkit menuju ke kantin. "Daripada tidak bisa tidur, lebih baik berkunjung ke kantin. Barangkali ada pedagang yang masih mangkal".
Mengunci pintunya, Neil berjalan ke arah kantin akademi dengan santainya. Diterangi banyak lampu, lorong jalan akademi tidak terasa seperti di malam hari.
"Siapa disana ?" Di persimpangan lorong, Neil melihat sekelebat bayangan manusia.
"Kejar, biarkan, kejar, biarkan, kejar..." Setelah menimbang nimbang Neil akhirnya memilih mengecek bayangan yang dilihatnya. Walaupun takut, tapi rasa penasarannya lebih kuat.
"Wuushhh..." Menggunakan skateboard terbangnya Neil mencari jejak bayangan.
Sampai diujung koridor Neil tidak mendapati apa apa. Jangankan manusia, satu ekor binatangpun tidak terlihat.
"Aneh, bukankah tadi bayangannya bergerak kesini. Tidak ada jalan lain disini. Apa itu hanya perasaanku saja". Neil mulai meragukan intuisinya.
"Sudahlah, mungkin aku salah lihat. Lebih baik aku segera menuju ke kantin". Tidak menemukan apa apa, Neil melanjutkan perjalanannya ke kantin. Tapi setelah dia pergi muncul sesosok wanita yang jika Neil melihatnya dia akan mengetahuinya.
"Siapa sebenarnya pemuda itu. Kenapa master kepala begitu ingin melindunginya. Sepertinya akan semakin menarik". Menampilkan smirknya, wanita itu terlihat semakin cantik.
"Akhirnya sampai juga.. Ehh, masih rame".
__ADS_1
Neil yang melihat kantin masih buka dan rame, bergegas memesan makanan dengan token pemberian Geiz.
Melihat jenis makanan yang sama, Neil sedikit mengeluh. "Apa mereka tidak bisa memasak makanan yang berbeda setiap harinya".
Neil kembali memesan makanan yang dianggapnya aman. Dia tidak ingin kejadian memalukan sebelumnya terulang kembali. Karena tidak berani mengeksplor makanannya, Neil selalu berkutat dengan jenis makanan yang sama setiap harinya.
Baru hendak akan menyantap makanannya, Neil dikejutkan dengan suara gurunya yang dirindukan.
"Apakah aku boleh bergabung ?".
"Master.. aku merindukanmu master". Meletakkan kembali makanannya di piring Neil bangkit dan hendak memeluk Geiz.
"Berhenti !" Seru Geiz kepada Neil.
Neil yang mendegar seruan Geiz lantas menghentikan langkahnya. Melihat sekeliling Neil sadar akan sikapnya yang berlebihan. Neil kemudian menyiapkan kursi untuk gurunya dan kembali ke tempat duduknya .
"Silahkan master.
"Begitu lebih baik".
"Sejak kapan master kembali ke akademi".
"Kemarin".
"Itu karena aku baru melapor tadi siang".
"Begitu.. ngomong ngomong master terlihat sedikit gemukan".
"Tentu saja aku gemukan, karena Raja dan putra mahkota memberiku banyak harta dan makanan. Tidak sepertimu yang malah membuatku bangkrut". Gumam Geiz di dalam hatinya.
"Benarkah... aku merasa biasa saja".
"Apapun itu, aku senang karena master baik baik saja".
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Ngomong ngomong kau terlihat lebih tampan dengan kacamata itu?/ Tapi bagaimana latihanmu, apa ada kemajuan ?".
"Aku... aku jadi malu. Mengenai kemajuan..ehhmm, aku masih belum bisa menembus Level IV master".
"Kalau itu aku sudah tahu tanpa kau jelaskan. Maksudku latihanmu dengan master kepala".
"Latihan dengan master kepala". Neil kaget karena gurunya tahu tentang latihannya dengan Juan. Tidak ingin membahas darimana gurunya tahu, Neil melanjutkan. "Kata master kepala masih kaku dan lemah".
"Itu masih lebih baik daripada kata 'payah'".
__ADS_1
Neil yang mendengar kelakar gurunya hanya dapat tersenyum kecil. Melihat makanannya, dia menawarkannya kepada Geiz. "Makan master. Atau aku pesankan sekarang".
"Tidak perlu, aku sudah makan barusan. Tadi aku melihatmu, jadi aku kesini".
"Jadi kalau master tidak melihatku, master tidak menemuiku". Neil sedikit cemberut.
"Tentu saja aku akan menemuimu. Aku hanya tidak ingin mengganggu latihanmu saja".
Neil yang mendengar jawaban dari Geiz menyunggingkan senyumnya. Merasa bahagia karena diingat oleh gurunya.
"Apa kau masih belum mengantuk. Tidak, sepertinya kau sudah mengantuk. Cepat habiskan makananmu dan istirahatlah".
"Ehh, apa ada yang ingin master katakan".
"Besok saja. Aku akan menemuimu besok pagi".
Neil yang tidak ingin membantah gurunya hanya menganggukkan kepalanya. Menarik nafas panjang, dia memulai makan malamnya dengan ditemani oleh Geiz.
"Apa yang ingin master katakan". Pagi hari di kamarnya, Neil kedatangan Geiz.
"Kenapa kau begitu tak sabar".
Mendapat jawaban dari gurunya Neil mengambil nafas berat. Mengetuk ngetuk meja perlahan, Neil menunggu gurunya siap bercerita.
"Kita berangkat ke bukit bulan 2 bulan lagi".
"Kita... master mengajakku ke bukit bulan". Neil memastikan kembali apa yang didengarnya.
"Apa kau tidak mau..?"
"Mau master. Aku sangat bersedia master".
"Kita akan berangkat setelah penerimaan murid baru bulan depan".
"Penerimaan murid ?".
"Setelah Putra Mahkota resmi masuk ke akademi, maka tugasku selesai. Setelahnya kita bersiap berangkat ke bukit bulan. Aku sudah mengatur semuanya".
"Baik master. Tapi kenapa master terlihat khawatir".
Geiz yang menganggap Neil belum mengetahui tentang bukit bulan kemudian menceritakan sedikit tentang keanehan yang ada didalamnya.
"Sebenarnya aku mengkhawatirkanmu. Aku sendiri tidak yakin dengan keselamatanku sendiri. Bukit bulan adalah bukit yang dipenuhi dengan ilusi. Ilusi disana sangat kuat dan berbahaya karena terdapat banyak binatang iblis didalamnya".
__ADS_1
Melanjutkan ceritanya, Geiz menguji tekad Neil. "Setelah mengetahuinya, apa kau sekarang merasa takut ?"