Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
42. Perpustakaan


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang terjadi ?" Neil yang baru bangun dari pingsannya langsung ditanya oleh Lian.


"Ehh, dimana ini ?" Ujar Neil dengan setengah kesadarannya.


Paska ditendang oleh Yui, Neil pingsan di tempat. Dikembalikan ke kamarnya, Juan meminta Lian untuk merawat Neil.


"Lian, benarkah itu kau. Apa yang terjadi denganku".


"Apa yang terjadi ?/ Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Masalah apa yang kau buat di laboratorium".


Mendengar kata laboratorium, Neil mulai mengingat rangkaian kejadian yang terjadi sebelumnya. Menggaruk kepalanya yang sedikit pusing, Neil tertunduk malu.


"Sepertinya kepalaku terbentur cukup keras. Dibuat pingsan hanya dengan satu tendangan, benar benar memalukan".


"Beruntung tubuhmu sudah di Level Body III, jika tidak kau pasti sudah mati ditempat". Sindir Lian dengan tak acuh.


"Sepertinya aku harus datang untuk minta maaf".


"Tidak perlu. Master Yosh sudah mengurus semuanya".


"Tapi, aku tetap akan meminta maaf".


"Sudah ku katakan tidak perlu artinya tidak perlu. Kenapa sekarang kau jadi berani membantah !"


"Ehh.." Tidak ingin mendebat Neil mengurungkan niatnya untuk melanjutkan. "Baiklah".


"Ngomong ngomong dimana buku yang kuberikan padamu ?/ Aku harus mengembalikannya ke perpustakaan".


"Itu buku perpustakaan ?". Neil mengatakannya dengan nada khawatir.


"Jangan jangan... Apa kau membuangnya ?"


"Tidak Lian.. Sebenarnya buku buku itu telah rusak. Ada dilemari".


"Rusak..".


"Baguslah.. setidaknya kau tidak membuangnya".


"Ehh, apa tidak apa apa ?"


"Tidak apa apa. Kau hanya perlu membayar denda".


Hari berikutnya di perpustakaan akademi. Neil dan Lian sedang mengembalikan buku buku yang di pinjam dari perpustakaan.


"Dia yang merusaknya paman". Lian menunjuk ke arah Neil.


Neil yang ditunjuk oleh Lian tidak bisa berkata apa apa. Neil hanya menatap Lian dengan ekspresi permusuhan. "Benar benar menyebalkan, dasar tidak bertanggung jawab".

__ADS_1


Lian sebelumnya telah memaksa Neil untuk ikut ke perpustakaan menjelaskan mengenai kerusakan buku bukunya. Lian mengatakan kalau dia yang akan mengurus semuanya, Neil cukup menjelaskannya saja.


"Haishh, kenapa buku buku ini jadi rusak seperti ini. Seperti tidak terawat selama puluhan tahun". Keluh paman penjaga perpustakaan.


"Maaf".


"Apa kau benar benar membaca buku ini. Siapa namamu ?".


Paman penjaga merasa aneh untuk apa orang dewasa membaca buku pelajaran anak anak. Dia menganggap Neil telat mendapatkan pendidikannya.


"Benar paman. Aku yang membacanya. Namaku Neil".


"Neil.. lalu apa margamu".


"Marga... York, margaku York".


"York. Aku belum pernah mendengarnya. Hhmm, sudahlah. Dan untuk buku ini, aku merasa buku ini sudah melewati dimensi sebelumnya. Benarkah begitu".


"Benar paman".


"Pantas saja rusak seperti ini. Kali ini aku memaafkan kalian. Lain kali jaga dengan baik buku yang kalian pinjam".


"Ehh, apakah dia tidak di denda paman ?". Lian protes karena Neil tidak di denda.


"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan !" Seru paman penjaga perpustakaan.


Lian yang sudah membayangkan Neil akan dihukum di koridor karena tidak bisa membayar denda nampak kesal. "Benar benar bocah yang beruntung". Gumam Lian di dalam hatinya.


"Paman, apakah aku boleh meminjam beberapa buku disini ?"


"Tentu saja. Berikan identitasmu, biar aku masukan ke dalam daftar anggota".


Neil yang diperbolehkan untuk meminjam buku di perpustakaan nampak sangat senang. Setidaknya dia memiliki aktivitas lain saat berada di kamarnya. Neil memang belum diperbolehkan berkeliaran oleh Juan untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan.


Laboratorium sihir yang seharusnya bisa dia kunjungi setiap saat, sekarang menjadi tempat angker oleh Neil. Untuk itu Neil perlu menemukan tempat lain untuk mengisi waktunya.


"Terima kasih paman, ini tanda pengenal saya".


"Baiklah, tunggu sebentar".


Setelah beberapa saat paman penjaga kembali dan menyerahkan identitas Neil kembali. "Sekarang kau sudah terdaftar sebagai anggota. Kau bisa meminjam buku sebanyak yang kau butuhkan. Tapi ingat, kau harus merawat dan mengembalikannya, mengerti ?"


"Baik paman".


Neil dan Lian kemudian memasuki perpustakaan bersama. Alangkah terkejutnya Neil kalau didalam ternyata sudah banyak pengunjung. Banyak pengunjung wanita, Neil benar benar mendapat cobaannya kembali.


"Jangan membuatku malu seperti di laboratorium sihir". Lian membisikkannya ke telinga Neil.

__ADS_1


Neil yang mendengar bisikan Lian berkedut sudut bibirnya. Neil ingin protes kalau dia tidak seburuk itu, perempuan di dunia ini saja yang kelewat cantiknya.


Mengambil nafas panjang Neil kemudian bergumam pelan. "Apakah ini maksudmu membawaku ke perpustakaan".


"Biasakan saja, aku bahkan sudah bosan melihatnya". Tidak menjawab, Lian malah menasehati Neil.


"Bosan..." Neil yang mendengar kata bosan dari Lian tidak bisa tidak percaya. "Bagaimana mungkin memandang wanita cantik membuatnya bosan. Benar benar tidak wajar".


"Aku akan duduk disini untuk mengawasimu. Ingat jangan membuat masalah".


"Kau benar benar.. sudahlah".


Meningggalkan Lian, Neil kemudian berjalan menuju ke salah satu rak buku. Menatap ke beberapa deretan buku di didepannya Neil kehilangan minatnya. Dia kemudian berkeliling ke sisi lainnya.


Melihat ke judul buku yang hampir sama, Neil tidak bisa tidak mengeluh. "Apakah disini hanya ada buku tentang sihir... Tidak berguna".


Pengunjung lain yang mendengar perkataan Neil, seketika menatap tajam ke arah Neil. Neil yang tidak mengerti kenapa orang orang disekitarnya memandangnya dengan intens menjadi salah tingkah. Tidak ingin terlibat masalah, Neil kemudian bergegas pergi ke sisi lainnya.


"Peta Dunia. Nah ini baru pas". Neil menemukan buku peta dunia, dia kemudian mengambilnya.


"Kota Sihir. Misteri Benua yang Hilang. Puncak Menara Sihir. Hmm, sepertinya ini loket geografi".


"Bukit Bulan... Ehh, bukankah itu tempat yang ingin master kunjungi. Aku akan mengambilnya".


"Apakah tidak ada troli disini. Ada banyak yang ingin aku ambil tapi susah bawanya. Haa, mungkin lain waktu. Hari ini aku ambil yang penting saja dulu".


Setelah bicara sendiri, Neil kemudian mencari buku lain untuk dipinjam. Setelah berputar putar mencari buku dan sesekali cuci mata, Neil akhirnya selesai mengumpulkan beberapa tumpuk buku di tangannya.


Neil yang membawa tumpukan buku kembali menjadi pusat perhatian pengunjung. Mereka menganggap Neil bodoh karena tidak menggunakan cincin dimensi.


Sampai di depan meja Lian, Neil menjatuhkan tumpukan buku di tangannya. Neil ingin mengecek kembali buku buku yang akan dipinjamnya. Sementara Lian yang melihatnya hanya menepuk jidatnya sendiri.


"Aku akan membantu membawanya". Lian kemudian memasukkan buku buku Neil ke dalam cincin dimensinya. Neil yang sudah mengerti fungsi cincin dimensi dari gurunya hanya dapat menggigit lidahnya sendiri. Dia ingin memiliki 1 yang bisa dia gunakan.


Teringat dengan laboratorium sihir, Neil berpikir untuk meminta tolong kepada Master Yosh untuk membuatkannya.


"Kalau tidak ada lagi, ayo kembali. Ada sesuatu yang harus aku urus"


"Ini cukup". Balas Neil dengan tak acuh.


Melihat Lian yang akan melangkah keluar begitu saja, Neil memanggilnya. "Lian, bukankah kita harus meregistrasinya terlebih dahulu".


"Tidak perlu. Buku buku ini sudah terhubung dengan tanda pengenalmu".


"Terhubung... jadi untuk buku buku yang rusak tadi kau sudah mengetahuinya dari awal ?"


"Tepat sekali"

__ADS_1


Neil : ????????????


__ADS_2