
"Apakah wanita yang bersama Yuwe itu ibumu Geiz. Lalu bagaimana dengan ayahmu ?"
Juan yang merasa bersalah pada Neil kemudian mengalihkan pembicaraannya kepada Geiz.
"Beliau... tidak terselematkan". Jawab Geiz dengan terbata bata.
Mengingat kembali perkataan rubah iblis, tangan kanan Geiz mengepal erat. Melihat kekuatannya saat ini, mustakhil baginya untuk berhadapan dengan rubah iblis tersebut.
Menatap ke arah Juan dengan instens, Geiz kemudian berlutut dihadapan Juan. Dia ingin membalas dendam atas kematian ayahnya.
"Tolong jadikan aku lebih kuat !"
Juan yang melihat Geiz berlutut didepannya menjadi salah tingkah. Dia menyesal mengatakan hal itu padanya. Juan meminta Geiz untuk berdiri, tapi sebelum kata katanya keluar, dia terkejut dengan berlututnya Neil.
"Saya juga ingin lebih kuat master kepala. Tolong latih saya !"
Sudut bibir Juan terkejut melihat dua orang berlutut didepannya. Disatu sisi dia senang karena semangat berlatih keduanya, disatu sisi lagi dia merasa akan direpotkan oleh keduanya.
"Apa kalian ingin mematahkan tulang tua ini ?"
Tidak menjawab Geiz masih tertunduk. Sedangkan Neil, dia sedang memberikan ekspresi melasnya pada Juan yang membuatnya ingin muntah.
"Baiklah... setelah kembali ke akademi aku akan melatih kalian. Terkecuali kau Geiz... hanya setelah kau mendapat ijin dari ibumu !"
"Terima kasih master kepala" Balas Geiz dan Neil serentak.
Setelah menyelesaikan obrolannya, mereka menuju ke ruang perawatan menyusul Yuwe dan ibu kandung Geiz.
"Bagaimana kondisinya, apakah terjadi sesuatu setelah melakukan perjalanan antar benua ?" Tanya Juan pada Yuwe yang sedang menjaga ibu kandung Geiz.
"Tidak.. semua baik baik saja master kepala ?"
Geiz yang memandangi raut wajah ibunya kemudian meminta agar beliau dirawat di akademi sihir saja mengingat ruang perawatan di akademi sihir juga tidak kalah dengan menara sihir.
Juan yang mendengar permintaan Geiz sudah pasti menyetujuinya. Dia berpikir jika di akademi, keadaannya bisa dikontrol setiap saat oleh mereka.
"Apakah ibumu belum terbangun sejak kalian menemukannya ?"
Mendengar pertanyaan Juan, Yuwe kemudian menarik Juan untuk memberikan penjelasannya. Dia juga menceritakan tentang perilaku Neil yang menyembunyikan sesuatu.
*****
"Apakah kalian akan kembali secepat ini ?" Tanya Don pada Juan dan rombongannya.
Setelah melihat kondisi ibu kandung Geiz yang baik baik saja, Juan memutuskan untuk kembali ke akademi sihir segera. Mereka menemui Don untuk pamit dan berterima kasih.
__ADS_1
"Kami akan kembali sekarang. Terima kasih banyak untuk semua bantuanmu Don. Sekali lagi aku berhutang budi padamu ?"
"Baiklah... kapan kapan aku akan berkunjung ke akademi".
"Pintu akademi selalu terbuka untukmu sahabatku".
Juan dan Don saling berpelukan. Neil yang melihatnya juga kemudian berusaha untuk ikut memeluk Don. Sementara Geiz dan Yuwe hanya memberi salam hormatnya.
Don yang dipeluk oleh Neil hanya tertawa kecil dan menerima pelukan Neil. Dia merasa aneh tapi juga bahagia.
"Sampai jumpa paman Don ?"
Don yang mendengar dirinya dipanggil paman oleh Neil tertegun. Sekali lagi dia merasa aneh tapi juga bahagia. Sementara Geiz menepuk jidatnya melihat polah muridnya.
"Jaga ucapanmu Neil ?"
"Maaf master..."
"Tidak apa apa. Semua murid akademi adalah keluargaku !" Sahut Don yang sedang tersipu.
"Murid bodoh itu bukan murid akademi". Geiz mengumpat dalam hatinya. Dia tidak mungkin mengatakannya kepada orang luar mengenai asal usul Neil tanpa seijin Juan.
Juan dan rombongannya kemudian meninggalkan menara sihir dan kembali ke akademi dengan menggunakan teleportasi.
"Selamat datang kembali ke akademi". Milia menyambut kadatangan Juan dan rombongannya.
"Senang bertemu kembali dengan anda nona Milia ?" Yuwe menjawab sambutan Milia.
Yuwe kemudian menghampiri Milia untuk membawa bibinya ke ruang perawatan. Geiz dan Neil mengikutinya dari belakang. Sementara Juan menatap kepergian mereka dengan meninggalkan banyak pertanyaan di otaknya.
"Apakah dia benar ibu kandung Geiz ?" Milia berbisik kepada Yuwe setelah menempatkan bibinya ke dalam ruang perawatan.
"Benar... tidak diragukan lagi".
"Jika begitu, aku turut senang dengan pertemuan Master Geiz dan ibunya".
"Apakah aku bisa minta tolong kepadamu nona Milia".
"Tentu... katakan ?"
Tidak mengatakan apa apa Yuwe memberikan secarik kertas kepada Milia. Dia kemudian menjelaskan mengenai isi kertas tersebut.
"Itu adalah keinginan Master Geiz. Bisakah nona Milia mengaturnya ?"
"Hanya menyediakan tempat pemakaman dan alchemist, tentu saja. Tapi untuk yang ketiga, kitab terlarang... apa kalian..."
__ADS_1
"Hanya nona Milia yang bisa membujuk master kepala !" Yuwe memotong perkataan Milia.
"Kalian... " Tidak bisa melanjutkan kata katanya, Milia hanya menarik nafas panjang.
Setelah memikirkan sejenak, Milia akhirnya berjanji akan membicarakannya dengan Juan. Tapi dia tidak bisa memaksakan hasilnya. Yuwe yang mewakili Geiz menyatakan kalau hal itu sudah cukup untuk Geiz.
Sementara di dalam ruang perawatan Geiz yang ditemani oleh Neil tidak bergerak sedikitpun dari sisi ibunya. Sementara cacing didalam perut Neil sudah mulai gelisah.
"Master, aku ingin ke kantin. Apakah master ingin dibelikan sesuatu ?"
"Tidak Neil. Aku masih ingin disini".
"Baik master. Master jangan terlalu khawatir, bibi pasti akan segera pulih".
Tersenyum kepada Neil, Geiz memberikan isyarat kepada Neil untuk tidak perlu khawatir. Karena tidak menemukan Master Yuwe, Neil kemudian pergi menuju ke kantin sendirian.
"Aku kira tidak akan melihat lorong sepi ini lagi". Gumam Neil dalam perjalanannya ke kantin.
Sampai dikantin, Neil melihat banyak murid akademi yang sedang makan. Neil jarang menemukan suasana seperti itu karena biasanya dia lebih dulu merasa lapar.
Masih dengan mengenakan jubahnya Neil menuju ke stand penjual makanan favoritnya. Karena tidak memakai topeng atau kacamata, kali ini penjual dapat melihat wajah Neil seutuhnya.
"Pesen seperti biasa bang ?"
"Sudah kuduga kalau tuan masih muda". Balas penjual sambil menyerahkan makanan pesanan Neil.
Mendengar perkataan penjual, Neil baru sadar kalau dia tidak memakai penutup wajah. Beruntung gurunya telah merubah tampilan rambutnya saat berada di dimensi sihir kerajaan yang membuatnya tidak terlalu mencolok.
Dengan sedikit salah tingkah Neil menerima pesanannya. Dia kemudian mencari meja kosong untuk menikmati makanannya.
"Maaf..." Neil yang sedang mencari meja kosong menabrak seorang murid akademi yang sedang berjalan.
"Tidak apa apa Kak Senior. Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak melihat Kak Senior".
Melihat anak kecil seusia jiwa lain di dalam dirinya, Neil merasakan sesuatu yang berbeda. Dia merasa tidak asing dengan anak kecil didepannya.
"Kak Senior... ?"
Kaget mendengar panggilan didepannya, Neil tertawa kecil. Sebelum mulutnya terbuka untuk berucap, seseorang sudah mendahuluinya.
"Sam, disini.... !" Seru Lien yang juga di dengar oleh Neil.
"Maaf Kak Senior, teman saya sudah memanggil".
"Baiklah...Sam !"
__ADS_1
Sam kemudian berjalan ke meja Lien dan teman temannya. Sementara Neil dengan perasaan anehnya terus memandangi punggung Sam sebelum akhirnya dia menemukan meja makannya.