Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
34. Jiwa Yang Lain


__ADS_3

"Ehmm...ehmm.... Apakah tidak ada pil yang bisa memudahkan konsentrasi master".


"Apa kau akan bergantung dengan pil terus menerus. Lagi pula tidak ada pil seperti itu".


"Kalau begitu bagaimana dengan tempat yang lebih.. tapi bukankah ini lokasi yang terbaik disini".


Mengayunkan tangannya, Geiz membuat sihir ilusi. Padang rumput berubah menjadi padang bunga berwarna warni. Cahaya malam menambah indahnya suasana. Angin sepoi sepoi juga menerpa rambut Neil.


"Kalau seperti ini aku bisa tertidur master".


Mengedutkan bibirnya, Geiz lantas berkata. "Lalu.. cukup! Kembali bertapa".


Dengan menarik nafas berat Geiz menghilangkan sihir ilusinya.


"Ehmm... Master... Yang master lakukan saat membantu pengobatanku.. itu terasa nyaman".


Geiz yang melihat raut muka Neil yang penuh harap menjawabnya dengan tak acuh. "Mari kita coba".


Sebenarnya dalam hatinya dia sedang mengumpat Neil. "Sudah menghabiskan hartaku, sekarang menginginkan energiku juga. Benar benar perampok tak tahu malu".


Neil yang mendapatkan jawaban dari gurunya kemudian mengambil kembali posisi pertapaannya. Menarik nafas dalam perlahan mata Neil terpejam. Dengan suntikan mana dari gurunya, Neil merasa lebih nyaman. Entah kenapa tubuhnya tidak terasa pegal lagi.


Hingga waktu menjelang pagi Neil masih dalam posisi bertapanya, Geiz melihatnya nampak senang tapi tidak dengan raut mukanya. Geiz nampak sedikit kelelahan dengan tugasnya mengalirkan mana sepanjang malam ketubuh Neil.


"Apakah harus terulang lagi... Aku yang harus makan dan minum pil gizi.. benar benar keterlaluan". Gumam Geiz dalam hatinya.


Tetapi walaupun melelahkan, Geiz tetap bersemangat karena inilah kesempatannya agar bisa masuk ke bukit bulan. Sementara Neil yang sudah menemukan ritmenya, merasakan bahwa dirinya sudah berada di dunia lain.


Dalam pertapaannya Neil saat ini sedang berdiri diatas lautan yang sangat luas. Telapak kakinya terasa dingin oleh sentuhan air. Tetapi Neil tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada di atas air.

__ADS_1


"Dimana ini... Lautan..di tengah laut".


"Apakah ini lautan tenggara. Apakah aku sudah kembali ke bumi".


Berpikir dengan pemikirannya sendiri, Neil merasakan suatu kebahagiaan. Hatinya berbunga bunga dan senyum dibibirnya mulai melebar.


"Jadi sudah disini". Sebuah suara anak anak terdengar di telinga Neil.


"Ehh, siapa itu ?"


Membalikkan badan Neil melihat seorang anak anak dengan rambut merah bercampur biru dan dua buah bola mata berwarna biru dengan wajah yang imut.


"Hei adik kecil, kenapa kau ada disini. Apa kau tersesat". Dengan ekspresi datarnya Neil mendekati si anak.


Si anak yang mendengar pertanyaan Neil hanya menatapnya tak acuh. Mengedipkan matanya, seketika lautan yang luas menghilang. Neil yang merasakan tumpuan kakinya menghilang seakan akan langsung jatuh dari udara.


"Apa yang terjadi.. tolong....."


"Sebenarnya apa yang terjadi.. dimana ini.. ehh, dimana anak tadi. Apa dia baik baik saja".


Neil saat ini berada ditempat yang memiliki 4 warna tanpa ada satu bendapun. Menghadap kedepan dilihatnya warna hijau. Disisi kanan warna kuning dan disisi kiri berwarna biru. Sedangkan di belakangnya warna hitam.


Masih dengan wajah bingungnya Neil berputar putar ditempatnya. Tidak lama, suara yang dikenalnya kembali terdengar.


"Pilihlah salah 1 dari 4 warna itu. Pilihanmu menentukan takdirmu".


"Ehh, adik kecil kau selamat. Syukurlah".


"Jangan memanggilku adik kecil".

__ADS_1


"Bukankah usiamu masih anak anak. Apa salahnya dengan panggilan adik kecil".


Si anak yang kembali mendengar celotehan Neil kali ini tidak bisa tidak berkedut sudut bibirnya. Dia memang tidak menyangkal kalau usianya masih anak anak.


"Kau... sudahlah... pilih saja salah 1 warna tersebut".


"Apa konsekuensinya dengan itu". Neil ingin memastikan terlebih dulu apa akibat dari pilihannya.


"Tidak buruk.. baiklah, aku ingin menceritakan sesuatu.. hanya sekali dan tidak ada tayangan ulang.. jadi dengarkan baik baik dan jangan menyela".


Neil yang merasa anak didepannya bukan seorang anak biasa menjadi lebih serius. Menarik nafas dalam, Neil siap mendengarkannya. "Ceritakan".


"Bermula dari kedatanganmu ke dunia ini yang tidak normal telah merusak lingkaran takdir yang ada. Garis takdir telah bercabang".


Neil yang ingin protes bahwa dia datang kedunia barunya bukan atas keinginnya sendiri, malah sekarang seperti disalahkan. Mengingat janjinya Neil bersiap mengumpulkan kata katanya dan menumpahkan setelahnya.


"Jika saja kau tidak datang dengan tubuh dan jiwa utuh seperti saat ini, aku adalah seharusnya jiwa yang menggantikanmu di dunia ini. Aku mengetahui semua ini karena dewa memberikan pengetahuan kepadaku".


"Seharusnya dirimu terlahir kembali dan usiamu saat ini seusiaku".


"Dewa yang tidak menyangka kejadian tidak normal ini menyiapkan diriku untuk menggantikanmu dimasa depan".


"Adapun maksud memintamu untuk memilih 1 dari ke 4 warna tersebut adalah sebagai pilihan cabang takdir yang akan kau pilih. Agar takdir tetap berada di garisnya".


Setelah beberapa saat si anak tidak meneruskan ceritanya, Neil menanyakan apakah sekarang dia sudah bisa bertanya atau menanggapi.


"Apa sekarang aku sudah bisa berbicara".


"Karena aku akan menjadi penggantimu, apa yang terjadi denganmu, apa yang dirimu pelajari, apa yang dirimu miliki, siapa musuhmu dan apapun itu, aku juga akan mendapatkannya. Jadi kau harus menjaga diri dengan baik... sekarang kau katakan apa yang ingin kau katakan".

__ADS_1


Neil sebenarnya kagum dengan sikap, perilaku dan pemikiran si anak kecil didepannya. Diusianya saat ini, dia sudah memiliki perilaku dan pemikiran orang dewasa yang sudah banyak makan asam garam. Ya walaupun pengetahuan itu diberikan oleh dewa secara langsung.


__ADS_2