Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
57. Jangan Sombong


__ADS_3

Merasakan kekuatan yang lemah dari Neil, si rubah merasa tidak percaya dengan kejadian yang sedang berlangsung. Sementara Geiz dan Yuwe dengan ekspresi khawatir berusaha memberitahu Neil untuk lari.


Masih berdiri tegap, Neil menatap silaunya cahaya mana didepannya. Dia bahkan sampai tidak bisa melihat wajah raksasa rubah saat raksasa rubah mendekati dirinya.


Memegang pistolnya, Neil bersiap dengan tembakan keduanya. Dia sudah mengarahkan tembakannya ke arah si rubah. Raksasa rubah yang melihat mainan di depannya sedikit tertawa, dia menatap Neil dengan tak acuh.


"Doorrr !" Kali ini bukan peluru mana yang ditembakkan ke rubah, melainkan sebuah peluru besi panas melesat dengan sangat cepat.


Menggunakan sihirnya, peluru Neil dibalikkan kembali ke arah Neil sebelum mengenai tubuhnya. Melihat peluru yang dibalikkan Neil berhasil menghindarinya, akan tetapi pukulan raksasa rubah yang tiba tiba mengenainya.


Tubuh Neil melayang menabrak pepohonan dan berakhir dengan menabrak sebuah tebing batu disisi kanannya. Geiz dan Yuwe hanya bisa melihatnya tidak berdaya, sepertinya ilusi rubah sudah merembes ke tubuhnya. Jimat anti ilusi bocor oleh tekanan sihir raksasa rubah.


Neil yang berakhir di tebing batu mengeluarkan seteguk darah manis dari mulutnya. Tak lama dia pingsan karena tidak bisa menahan rasa sakit yang di deritanya. Pukulan rubah yang disertai mana terlalu kuat untuk tubuh Neil.


Kini mereka bertiga berada dibawah kaki raksasa rubah. Geiz dan Yuwe sudah berada di dalam kendali ilusinya, sementara Neil sedang berada dalam kondisi kritis dibawah tatapan sang rubah.


......................


Setahun kemudian di kedian Duke Kiel. Duke yang baru kembali dari misinya langsung mencari istrinya untuk menanyakan keberadaan Sam.


"Viana... Viana... Kau dimana ?" Panggil Duke yang membuat seluruh pelayan berjalan ke arahnya.


"Pelayan, apa kau melihat Nona Besar ?"


"Nona Besar ...." Sebelum pelayan menyelesaikan jawaban sebuah suara yang ditunggu tunggu oleh Duke terdengar di telinganya.


"Ada apa suamiku. Kenapa kau mencariku sampai membuat seluruh pelayan berkumpul. Bukankah kau bisa menghubungiku langsung melalui telepati !" Keluh Viana sambil menyuruh pelayan untuk meninggalkan mereka berdua.


"Tidak, aku lupa.. telepati...ahhh !" Menarik nafas panjang Duke melanjutkan perkataannya. "Apakah Sam sudah berangkat ke akademi ?"


"Sam sudah berangkat sejam yang lalu". Mengingat sesuatu Viana mengoreksi kata katanya. "Maaf suamiku, Sam berangkat jalan kaki bersama Lien, aku tidak bisa mencegahnya".


"Kenapa kau tidak memintanya memakai tandu keluarga, bukankah itu sudah menjadi tradisi keluarga kita".

__ADS_1


"Aku sudah memintanya, tapi Sam menolaknya suamiku. Mereka berdua tidak ingin menjadi perhatian banyak orang. Tapi bukankah itu bagus, walaupun putra Duke dia tidak ingin menyombongkan dirinya".


Duke yang mendengar pembelaan istrinya sudut bibirnya berkedut. Tradisi keluarga yang selama ini berjalan di indahkan oleh istri dan anaknya.


"Sebagai istri dan putra seorang bangsawan seharusnya kalian mengikuti jalan seorang bangsawan. Itulah yang membuat kita dihargai dan dihormati". Tegur Duke pada istrinya.


Viana tidak membalas lagi kata kata suaminya. Jika sudah menyangkut tentang keluarga dan reputasinya, Duke cenderung lebih emosional, jadi dia memilih mengalah untuk menghindari perdebatan yang tidak perlu. Mengenai tindakan Sam, biarlah waktu yang menjawabnya.


"Ehh, apakah Lien sudah bisa mengikuti seleksi masuk akademi, bukankah umurnya masih kurang ?" Tanya Duke kembali.


"Ayah sudah membicarakannya dengan pihak akademi, karena usia Lien hanya kurang 1 bulan, mereka mengijinkannya mengikuti seleksi".


"Aku merasa waktu berjalan begitu cepat !". Kini emosi Duke sudah mulai mereda. Dia hanya berharap Sam tidak membuatnya kecewa di ujian seleksi masuk akademi.


"Bagaimana dengan perundingannya suamiku, apakah semua berjalan seperti yang diharapkan ?"


"Aku benar benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Ini adalah perundingan ke sepuluh selama 6 tahun ini. Mereka benar benar sulit diajak bicara".


"Tenanglah suamiku. Semua masalah pasti ada solusinya. Mungkin pada perundingan berikutnya, semua akan selesai".


Akibat dari penyelidikan Raja perihal serangan hama serangga di area persawahan dan perkebunan kerajaan 6 tahun lalu adalah ulah dari kakak kandung Raja sendiri. Dia merasa kesal karena tidak diangkat sebagai penerus ayahnya sebagai Raja Eisland.


Awalnya kakak kandung Raja mengumpulkan beberapa orang alchemist untuk membantu mengembangkan wilayah yang diberikan Raja kepadanya. Selama bertahun tahun penelitian akhirnya dia berhasil menciptakan sebuah ramuan penyubur tanaman.


Dengan ramuan tersebut, wilayahnya menjadi lebih makmur dengan panen yang melimpah. Karena kesal, dia juga membuat sebuah ramuan yang dapat menarik serangga. Dengan bantuan sihir angin, ramuan tersebut terbawa terbang ke area persawahan dan perkebunan Kerajaan Eisland. Itulah sebab kenapa 8 tahun lalu kerajaan mulai mengalami gagal panen.


Diujian seleksi masuk akademi, Sam dan Lien sedang antri bersama dengan rombongan rakyat. Sama seperti pada ujian seleksi masuk sebelumnya. Para putra pejabat mendapatkan kesempatan seleksi lebih cepat dengan dukungan nama keluarganya.


"Seharusnya tadi kita naik tandu Sam !" Keluh Lien yang antri dibelakang Sam.


"Kalau seperti itu, kita sama saja seperti mereka. Tenanglah, pada akhirnya akan tiba giliran kita".


"Kau benar. Tapi disini panas sekali dan.. sedikit bau... Seharusnya tadi aku mamakai penutup kepala".

__ADS_1


"Anggap saja ini latihan". Bisik Sam pada Lien.


"Putri Teresta telah tiba". Suara prajurit menggema di kerumunan. Para peserta secara otomatis ujian memberi jalan kepada tandu Putri Teresta.


"Tandunya saja begitu mewah, aku rasa Putri Teresta akan sangat cantik". Terdengar percakapan di kerumunan antrian.


"Kau benar, Putri Teresta pasti sangat cantik !".


"Aku dengar dia juga tidak kalah berbakat dengan Putra Mahkota".


"Wahh, benar benar Putri yang sempurna. Andai saja aku bisa bersamanya".


"Jangan mimpi. Bagaimana orang seperti kita bisa bersanding dengan seorang Putri. Hahaha".


"Kau benar... tapi apakah Putri juga mendapatkan kehormatan seperti Putra Mahkota ?"


"Apa maksudmu ?"


"Putri tidak perlu mengikuti seleksi".


"Semua anggota kerajaan mendapatkan kehormatan itu. Lihatlah kursi disana, itu adalah kursi yang akan diduduki oleh Putri Teresta". Jawab seorang peserta ujian dengan menunjuk ke arah kursi kehormatan kerajaan.


Obrolan tentang Putri Teresta terus berlangsung hingga membuat Sam menutup indra pendengarannya. Dia malas untuk mendengarkan hal hal yang tidak perlu. Sampai sampai Lien yang berbicara kepadanya juga tidak didengarnya.


"Sam, apa kau tidak mendengarkanku !" Lien berseru dan menepuk punggung Sam.


"Ehh, apa kau bertanya padaku Lien ?"


"Apa kau tidak mendengarkanku ?"


"Maaf, aku hanya malas mendengarkan obrolan mereka".


Lien yang mendengar jawaban dari Sam menarik nafas panjangnya kemudian melanjutkan dengan antusias. "Apa kau pernah melihat Putri Teresta. Apakah dia sangat cantik ?"

__ADS_1


"Aku belum pernah melihatnya. Tapi sebentar lagi aku akan melihatnya ?"


Tak lama setelah Sam menyelesaikan perkataannya, dengan dibantu oleh dua orang pelayan, Putri Teresta keluar dari tandu kehormatannya. Mengenakan hanfu berwarna putih, Putri Teresta terlihat sangat cantik dan anggun.


__ADS_2