
"Ada 2 kelompok master. Superhero lokal dan superhero internasional. Dan tentu saja superhero internasional lebih kuat dan terkenal. Ehem, ".
"Superhero lokal siapa ya...oh ya, ada superhero petir, superhero kucing dan superhero gat*t kaca. Ehhm, ada lagi si tapi aku lupa".
"Ketiganya penolong bumi dan orang orang. Seperti namanya superhero petir memiliki kekuatan petir di tubuhnya. Dia mendapatkan kekuatannya setelah tersambar petir. Kostumnya khusus dan memakai topeng kepala dengan telinga panjang".
"Kalau superhero kucing sama juga memiliki kekuatan kucing, bedanya dia perempuan. Musuhnya bernama mr. hitam yang punya alat alat canggih. Tapi namanya penjahat ya tetap kalah terus". Neil semakin antusias menceritakannya.
"Ketiga gat*t kaca, dia bisa terbang. Tubuhnya sangat kuat terkenal dengan julukannya otot kawat balung wesi. Walaupun kuat, tapi dia mati juga si akhirnya".
Melihat gurunya dengan ekspresi datar, Neil berniat mencukupkan ceritanya. Dia khawatir kalau ceritanya mungkin membosankan.
"Apakah master ingin mendengarkan ceritanya lagi". Neil menawarkan ceritanya barangkali tidak disukai oleh gurunya.
"Ceritakan,, sambil menunggu beast mendekat".
"Baik... Selanjutnya superhero internasional. Kalau ini banyak master".
"Ehmm, tapi ngomong ngomong master... Jika aku berhasil menembus Level III dan Level IV, apakah kepalaku akan menjadi botak... atau badanku benar benar bisa menjadi logam hitam".
Mendengar pertanyaan Neil yang aneh, sudut bibir Geiz berkejut. Dengan sedikit kesal Geiz berujar. "Jangan berpikir yang aneh aneh. Itu tidak akan terjadi".
"Oo syukurlah. Setidaknya tidak akan terlalu memalukan".
Neil berpikir jika dapat menembus batas manusianya dia akan menjadi botak seperti superhero di tv bumi. Jika dipikir lagi padahal Neil sudah menembus batas manusianya.
"Superhero selanjutnya, manusia super. manusia kelewar, manusia laba laba, terus.."
"Tunggu.."
__ADS_1
Geiz yang mendengar macam macam pahlawan bumi terpikir sesuatu, dia menghentikan Neil berbicara.
"Apakah mereka benar benar kuat".
"Tentu saja master. Ada yang bisa terbang, berlari seperti cahaya, mengulang waktu dan kekuatan super lainnya". Neil menjelaskan dengan antusias.
"Nah, apa yang mereka lakukan hingga memiliki kekuatan super seperti yang kau tadi katakan". Cecar Geiz.
"Maksud master". Neil mulai tertekan.
"Bagaimana mereka mendapat kekuatan super. Kalau mereka yang dibumi bisa memiliki kekuatan super seperti itu, bukankah harusnya kau juga bisa memilikinya".
"Tidak.. tidak tahu master".
Neil yang sudah terlanjur basah tidak mungkin mengatakan kalau superhero yang diceritakannya hanyalah hasil imajinasi manusia semata. Hanya sebuah adegan dan trik kamera.
"Hmm". Geiz yang mendengar jawaban muridnya hanya dehem. Padahal dia sudah berharap Neil bisa seperti superhero yang diceritakannya. Mengingat perkataan Neil sebelumnya Geiz sedikit curiga.
"Si Botak". Sudut bibir Neil berkedut mendengar si botak.
Sekarang dia merasa menyesal menceritakan superheronya. Tidak menyangka mereka akan menimbulkan masalah pada dirinya. Mendapat tekanan wajah Neil terlihat sedikit pucat.
"Ehm, si botak latihan keras". Neil mengatakannya sangat lirih, tapi masih terdengar oleh Geiz.
"Latihan keras.. hmm, apakah latihanmu kurang keras Neil. Bagaimana kalau ditingkatkan 2 kali lipat ?"
Seperti dugaan Neil, Geiz pasti akan meningkatkan kualitas dan kuantitas latihannya. Tidak ingin mati konyol Neil berpikir keras. Neil berjalan kekanan kekiri dan kedepan ke belakang.
"Master, bukankah master sebelumnya mengatakan kalau latihannya tidak berkembang. Bagaimana kalau .."
__ADS_1
Sebelum Neil menyelesaikan perkataannya, Geiz menyelanya. "Aku berubah pikiran, sepertinya kalau ditingkatkan 4 - 5 kali lipat masih bisa dikejar".
"Apa.."
Neil benar benar tidak bisa berkata kata lagi. Dia sudah membayangkan memukul mukul batu gunung siang dan malam tanpa henti. Semprit sana semprit sini. Mengacak acak rambutnya Neil nampak sangat tertekan. Neil mencoba bernegosiasi dengan gurunya.
Masih mondar mandir Neil memikirkan berbagai macam alternatif untuk menghindari latihan yang lebih berat.
"Master, sebenarnya apa yang kurang dalam diriku, kenapa aku berbeda dengan kalian. Maksudku 'mana' ".
Dengan tertatih Neil melanjutkan "Bukankah dengan mana kita tidak perlu repot repot untuk berlatih sekeras ini. Dari yang aku lihat sebelumnya, mana bisa melapisi tubuh untuk menyerang dan melindungi. Dari berbagai elemen juga bisa diciptakan dari mana. Jujur master, aku merasa sedang berlatih seperti anak kecil".
Geiz yang mendengar curhatan dari muridnya terkejut. Jika dibandingkan dengan orang orang didunianya, latihan Neil memang seperti latihan anak kecil. Dan yang lebih menyesakkan hati, latihannya yang seperti anak kecil telah membuatnya dirinya bangkrut.
"Apa kau ingin menyerah disaat gurumu sudah memberikan segalanya. Hmm, masalahmu adalah jiwamu. Tidak tahu mengapa, jiwamu berbeda. Aku tidak bisa merasakan tekanannya". Geiz akhirnya mengungkapkan kekurangan Neil dalam hal latihannya.
"Jiwa..... Batin".
Mendengar kata jiwa tiba tiba Neil teringat dengan salah satu tokoh wali di bumi. Dari cerita yang didengarnya, seorang wali mendapatkan kekuatan batinnya setelah berdiam diri di tepi sungai selama bertahun tahun.
"Master, sebenarnya aku tidak yakin. Tapi apakah bertapa bisa meningkatkan jiwa".
"Bertapa... Apa itu". Tanya Geiz penasaran.
"Berdiam diri disuatu tempat tanpa makan dan minum dengan tujuan ingin memperoleh sesuatu". Neil berkata dengan membuat gerakan orang bertapa
"Ehh, maksudmu kultivasi". Geiz seakan akan mendapatkan titik terang.
"Setiap hari aku berkultivasi. Kenapa aku tidak memintanya untuk berkultivasi. Tapi..." Gumam Geiz dalam hati.
__ADS_1
Ingin meyakinkan diri dia bertanya pada muridnya. "Ceritakan padaku tentang kultivasi, maksudku..tapa yang kau maksud itu".