
"Tidak apa apa". Balas Daniel yang bingung dengan kondisi tubuhnya yang tiba tiba merinding.
"Apakah belum ada kabar dari Zen".
Mengalihkan pembicaraan, Daniel sedikit khawatir dengan rekannya Zen yang sedang membuntuti seorang pembunuh bayaran yang melarikan diri setelah rombongannya digagalkan saat merampas harta seorang saudagar kaya yang melintasi perkampungan.
"Tidak. Semoga bocah itu tidak bertindak gegabah". Balas Fang.
Daniel, Fang dan Zen sedang menjalankan misi dari akademi di wilayah kekuasaan Duke Eister. Daniel dan rekannya ditugaskan untuk menangkap seorang murid akademi yang melarikan diri setelah mencuri sebuah gulungan sihir. Tapi tidak disangka murid tersebut memiliki hubungan dengan pembunuh bayaran paling berbahaya di Kerajaan Eisland.
Kerajaan Eisland adalah salah satu negara yang berada diwilayah benua tengah. Kerajaan ini terbagi menjadi 5 wilayah yang dipimpin oleh seorang Duke, wilayah Huosan dan Eister adalah merupakan wilayah bagiannya.
Wilayah Duke Eister yang berbatasan dengan kerajaan tetangga dan menguasai sebagian besar hutan larangan merupakan wilayah yang paling rawan kriminal. Disana juga konon markas pembunuh bayaran Dark Eyes berada.
"Apa tidak lebih baik kita kembali ke akademi... Misi ini sudah terlalu berbahaya Daniel". Lanjut Fang.
"Hmm... Kita tunggu Zen terlebih dulu. Keputusannya kita ambil nanti".
Mendengar jawaban Daniel, Fang menganggukkan kepala tanda setuju. Bagaimanapun keadaannya, dia harus tetap mengikuti Daniel. Karena Daniel sudah ditunjuk sebagai kapten dalam misi ini.
Daniel nampak sedang berpikir keras. Dia teringat dengan kejadian saat mereka akan menangkap murid itu, tapi tiba tiba segerombolan pembunuh bayaran mendekatinya dan Daniel akhirnya mengurungkan niatnya terlebih dahulu.
Daniel bersama rekannya yang melihat kejadian tersebut dari balik semak tidak bisa tidak terkejut. Nampak tidak percaya bahwa murid itu adalah bagian dari pembunuh bayaran Dark Eyes.
Mereka mengetahui para pembunuh bayaran disana berasal dari organisasi Dark Eyes dilihat dari logo yang tertempel di jubah yang mereka kenakan. Terlihat sebuah gambar mata berwarna gelap yang menjadi ciri khas pembunuh bayaran tersebut.
Pada saat itu juga secara kebetulan seorang saudagar kaya melintas ke arah mereka. Pembunuh bayaran yang melihat seekor mangsa mendekati dirinya maka langsung menyergapnya.
Walaupun sudah membawa pengawal, tapi kekuatannya tidak sebanding, hanya terlihat pembantaian sepihak. Sang murid yang tidak mau berurusan segera melanjutkan perjalanannya ke markas.
__ADS_1
Sedangkan Daniel yang tidak bisa melihat penganiayaan dimatanya, dia bersama rekannya menolong saudagar kaya tersebut. Walaupun dengan kemampuan mereka yang terbatas, dengan bantuan beberapa jimat mereka yakin bisa mengatasi pembunuh bayaran tersebut.
"Hutan terlarang... Apakah markas kelompok Dark Eyes berada di hutan terlarang". Gumam Zen yang masih mengikuti pembunuh bayaran.
Dengan mengendap endap dari balik pohon satu dengan pohon lainnya Zen terus mengikuti pembunuh bayaran yang melarikan diri.
"Ehh, menghilang..." Zen tiba tiba kehilangan jejak pembunuh bayaran sesaat memasuki hutan terlarang lebih dalam.
Zen kemudian mengedarkan mananya dan mengamati sekitar berharap menemukan jejak sihir yang digunakan, tapi anehnya tidak ada jejak sihir yang tertinggal.
Merasa usahanya beberapa kali tidak membuahkan hasil, Zen akhirnya memutuskan kembali kedalam rombongan. Dia juga khawatir pergerakannya diketahui oleh musuh.
Ditempat peristirahatan, Zen muncul dengan sihir teleportasinya. Daniel yang penasaran langsung meminta penjelasan pada Zen. "Bagaimana pengejarannya Zen ?"
"Menghilang... Aku sudah berhasil membuntutinya tanpa ketahuan karena tidak memakai mana, tetapi dia menghilang sesaat memasuki hutan terlarang." Zen merasa kesal karena dia tidak dapat mengetahui markas Dark Eyes.
"Hutan terlarang...". Mata Daniel menyempit ketika mendengar tentang hutan terlarang, nampak sedikit rumit.
"Tidak... Sepertinya ada array teleportasi khusus yang tersembunyi. Tapi aku tidak yakin". Tepis Zen.
"Baiklah, sudah diputuskan". Daniel berdiri dan berseru.
"Kita kembali dan laporkan ke akademi. Ini sudah diluar kemampuan kita teman teman".
Setelah saling pandang, akhirnya mereka bertiga sepakat dan menganggukkan kepala tanda setuju. Mengemasi kembali barang barang bawaan yang tersisa, mereka siap kembali ke akademi.
Selain karena sudah diluar kemampuannya, Daniel juga merasakan ada seseorang yang mengawasi mereka semenjak keluar dari akademi. Walaupun tidak yakin, tapi instuisinya biasanya benar.
Tidak mau mengambil resiko, Daniel memutuskan untuk kembali. Mereka bertiga akhirnya kembali ke akademi dan melaporkan penemuan mereka ke pihak akademi untuk selanjutnya diserahkan kasusnya kepada kerajaan.
__ADS_1
Pihak akademi hanya bertugas untuk melatih dan membimbing generasi muda, urusan kriminal biarlah kerajaan yang mengurusnya. Setidaknya itulah saat ini yang ada dipikiran Daniel dan rekan rekannya.
Sementara dimarkas bawah tanah Dark Eyes, sang murid yang sudah sampai dimarkas langsung bertemu dengan pimpinan Dark Eyes.
"Bagus Demia... Dengan gulungan sihir ini kita akan dapat menemukan makam si tua itu".
Seorang pria bertopeng mengenakan jubah hitam dengan sebuah logo mata merah darah memberikan pujian kepada Demia karena telah berhasil mencuri gulungan sihir dari akademi.
"Keinginan anda adalah perintah bagiku, tuan". Balas Demia dengan sedikit senyumnya.
Demia adalah murid akademi yang dicari oleh Daniel dalam misinya. Demia mencuri gulungan sihir yang berisi tentang sebuah rahasia makam kuno di hutan terlarang.
Pihak akademi sampai saat ini hanya menyimpannya karena tidak tahu bagaimana cara membukanya. Puluhan ribu tahun lalu seseorang meninggalkan sebuah gulungan sihir di aula akademi. Entah sengaja atau tidak, hingga kini tidak ada yang tahu siapa yang menaruhnya.
Anehnya, untuk apa gulungan itu ditinggal di akademi kalau nyatanya gulungan itu disegel khusus yang kuat. Karena tidak tahu apa isinya dan seberapa berbahayanya, pihak akademi menyimpannya secara khusus diruang rahasia.
Demia sendiri adalah teman sekelas Daniel. Walau tidak dekat, tapi waktu kebersamaan mereka beberapa tahun ini memiliki makna tersendiri. Demia terkenal sebagai pribadi yang pendiam dan tidak terlalu berbakat, itulah sebabnya dia tidak memiliki teman dekat.
Saat mendengar bahwa Demia meninggalkan akademi setelah mencuri sebuah gulungan sihir dari akademi, teman temannya terkejut. Daniel sebagai ketua kelas merasa bertanggungjawab atas insiden ini dan mengajukan diri untuk mengejar Demia.
"Maaf tuan, beberapa anggota kita telah mati. Sekelompok pemuda tiba tiba menyerang kami diperjalanan". Pembunuh bayaran yang dikejar Zen tiba dimarkas Dark Eyes dan langsung berlutut dengan wajah tertunduk.
"Dasar tidak berguna...."
"Dduuaarrr..."
hanya dengan lambaian tangan, tubuh pembunuh bayaran terpental menabrak dinding dan mati seketika dengan tatapan mengarah ke Demia.
Demia telah menceritakan kejadian sebelumnya kepada tuannya yang membuatnya geram karena tugas mereka sebenarnya adalah untuk menjemput Demia.
__ADS_1
Demia yang menyaksikannya hanya bisa menelan ludahnya sendiri, tuan yang telah menyelamatkannya dari kemiskinan ekstrem benar benar sangat kejam dan berhati dingin.