Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
61. Tawaran Berlatih Bersama


__ADS_3

Duduk di kursinya Sam mengambil nafas berat. Berbeda dengan Sam, Lien yang dapat duduk bersebelahan dengan Sam terlihat nampak senang.


"Apa kau tidak mau berterima kasih padaku Sam karena kursi yang kupilih untukmu ?" Ucap Lien dengan lugasnya yang masih didengar oleh seluruh murid dikelas.


"Apa kau ingin mengerjaiku bocah menyebalkan. Berterima kasih apanya. Aku bahkan ingin menendangmu saat ini". Gumam Sam di dalam hatinya.


"Teima kasih". Balas Sam dengan malas.


Menjadi banyak perhatian para murid, Sam benar benar ingin meninggalkan ruang kelasnya segera. Melihat ke sudut kanan kelas, Sam melihat seorang pria yang juga nampak bosan. Dia adalah Lou Mong, peserta terbaik kedua yang lulus ujian. Menatap berbeda ke arah Lou, Sam sampai tidak mendengar ucapan Putri Teresta kepadanya.


"Sam... Huosan !!!". Teriak teman salah satu teman Putri Teresta yang tidak terima panggilan Putri diacuhkan.


Sam yang kaget mendengar teriakan yang diarahkan padanya, mencari seseorang yang meneriakinya. Dia menggelengkan kepalanya kanan kiri.


"Berani sekali kau mengacuhkan panggilan Putri". Seru teman Putri sekali lagi.


Sam yang sudah mengetahui siapa yang meneriakinya hanya menatapnya heran. Dia kemudian bertanya kembali. "Kau siapa ?".


Teman Putri Teresta yang malah mendengar pertanyaan Sam menjadi sedikit kesal, dia kemudian mengadu ke Putri Teresta dengan manja. "Putri... kau harus menghukumnya".


Verzy dan Fahre semenjak duduk dikursinya, mereka hanya melihat pertunjukannya saja. Merasa sebagai bagian terlemah baik dari segi politik maupun kekuatan mereka tidak ingin terlibat masalah dikemudian hari.


Lien yang mengetahui kalau Sam disudutkan, dia kemudian bersuara untuk membantunya. "Jaga bicaramu nenek sihir. Apa kau tidak malu meminta seperti itu pada Putri ?"


Teman Putri Teresta yang mendengar perkataan Lien mengedutkan sudut bibirnya. Dia benar benar sangat marah dipanggil sebagai nenek sihir.


"Apa kau bilang. Berani beraninya kau mengataiku nenek sihir. Apa kau tidak tahu kalau aku Putri Duke Eister !" Ancam Keyla Eister pada Lien.


"Apa kau pikir aku peduli !" Lien mengatakannya dengan tak acuh.


"Berhenti... seharusnya kita saling berteman, bukan saling bertengkar". Lerai Putri Teresta.


Lou Mong yang sudah mau tertidur, melek kembali mendengar kata kata Putri Teresta. Sementara Sam yang sudah menarik nafas panjang hendak keluar mencari angin. Tapi sebelum Sam bangkit dari duduknya, guru pembimbing masuk ke dalam kelas.

__ADS_1


"Selamat pagi anak anak !"


Mendengar seruan gurunya, semua murid kembali duduk ke kursinya masing masing.


"Sepertinya kalian perlu dilatih kedisiplinan". Seru guru pembimbing yang melanjutkan kata katanya.


Mendengar seruan gurunya, semua murid menundukkan kepalanya. Putri Teresta yang merasa memiliki kekuasaan kemudian berdiri dan meminta maaf kepada guru pembimbing.


"Mohon guru tidak menghukum kami. Saya mewakili teman teman meminta maaf kepada guru".


Mendengar permintaan maaf dari Putri Teresta, guru pembimbing membalasnya dengan ramah. "Siapa yang berkata akan memberi hukuman. Apakah kau Putri Teresta".


"Benar guru".


"Tidak peduli siapa kalian. Entah kalian putri raja atau rakyat jelata. Selama kalian belajar disini, kalian akan diperlakukan sama. Jika kalian melanggar peraturan, kalian akan dihukum. Dan untukmu Putri, aku menghargai keberanianmu".


"Terima kasih guru. Mohon bimbingannya".


Para murid terutama murid laki laki semakin kagum dengan kepribadian Putri Teresta. Bahkan guru pembimbing juga memujinya.


Ruang kelas seketika berubah menjadi proyeksi 3 dimensi yang sangat canggih. Sam dan teman temannya serasa sedang menikmati film 3 dimensi yang tampak nyata.


Hanya dengan duduk saja, mereka semua dibawa berkeliling akademi oleh guru pembimbing. Melihat luas dan megahnya akademi, Sam dan temannya temannya menjadi lebih bangga bisa belajar di akademi.


Tidak hanya memperlihatkan denah dan jalanan akademi, tapi proyeksi juga menampilkan proses kegiatan seperti diruang jimat, laboratorium, ruang alchemist dan sebagainya, kecuali ruang pribadi.


Melihat lokasi saat Sam dan Lien tersesat, mereka berdua saling pandang dan kemudian tertawa kecil bersama. Mengingat kejadian memalukan yang menimpa mereka sebelumnya.


"Ini adalah stadion kebanggaan akademi". Terang guru pembimbing yang telah membawa mereka ke stadion.


"Disinilah para murid terbaik akademi di bentuk. Mereka berjuang untuk menjadi yang terbaik. Peserta terbaik yang terpilih setiap tahun akan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti perlombaan sihir antar benua". Terang guru pembimbing lebih lanjut.


Sam dan teman temannya yang mendengar tentang perlombaan sihir antar benua menjadi sangat antusias. Sam sendiri sudah pernah mendengar tentang keikutsertaan kakaknya saat mewakili benua tengah mengikuti perlombaan sihir antar benua.

__ADS_1


Saat itu Daniel bersama dengan 4 rekannya mengikuti perlombaan sihir tersebut. Sayangnya mereka hanya berhasil menjadi peringkat 3 pada perlombaan sihir tersebut.


"Jika kalian bisa mengikuti perlombaan sihir antar benua, kalian memiliki kesempatan untuk masuk ke domain sihir semesta. Di domain tersebut terdapat banyak berbagai harta berharga yang bisa kalian dapatkan !" Lanjut guru pembimbing dengan antusias.


"Sebagai peserta ujian terbaik tahun ini kita memiliki kesempatan lebih besar untuk bisa mengikuti perlombaan sihir antar benua". Celetuk seorang murid laki laki.


"Itu belum tentu. Walaupun saat ini kalian berada di kelas terbaik tahun ini, jika kalian tidak rajin belajar, kalian bisa ditinggal oleh mereka".


Guru pembimbing kemudian menampilkan kegiatan belajar mengajar di kelas B dan C. Guru pembimbing kemudian melanjutkan perkataannya. "Lihatlah mereka berlatih. Lihat semangat mereka. Mereka bahkan memiliki jam berlatih yang lebih lama dari kalian".


Melihat proses pelatihan di kelas B dan C, Sam dan teman temannya nampak bersemangat, mereka terlihat tidak mau kalah dengan bakat seseorang yang berada dibawahnya.


Setelah menjelaskan tentang pelatihan di kelas sebelah, guru pembimbing kembali mengajak mereka berkeliling di dunia virtual yang tampak nyata itu.


Setelah berkeliling diseluruh sudut akademi, mereka dikembalikan ke kondisi ruang kelas sebelumnya yang nampak putih bersih. Raut muka para murid juga sudah berubah, mereka terlihat nampak lebih segar dan bersemangat.


Mengakhiri pelajarannya, guru pembimbing kembali mengingatkan kepada Sam dan teman temannya untuk disiplin mematuhi aturan yang ditetapkan oleh akademi. Setelah kelas selesai, para murid berhamburan keluar menjalani aktivitasnya masing masing


Sebelum Sam bangkit dari kursinya, Putri Teresta mengingatkan kembali tentang tawarannya kepada Sam teman temannya. "Aku harap kau menerima tawaranku untuk berlatih bersama minggu depan Sam ?"


"Maaf Putri, tapi sepertinya saya tidak bisa".


"Kenapa kau menghindariku Sam, apakah aku memiliki kesalahan padamu ?" Sela Putri Teresta tanpa jeda.


"Tidak, bukan seperti itu maksudku".


"Lalu kenapa kau menolaknya ?"


"Aku..."


Belum selesai Sam menyampaikan maksudnya, Lien sudah mengagetkannya. "Apa yang kalian bicarakan ?"


Teman teman Putri Teresta juga menghampirinya. Begitu juga dengan Verzy dan Fahre. Mereka penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Sam dan Putri Teresta.

__ADS_1


"Aku keluar kelas duluan Putri. Dan maaf untuk kejadian sebelumnya". Sam meninggalkan Putri Teresta dan teman temannya yang kemudian diikuti oleh Lien Verzy dan Fahre.


Putri Teresta yang mendapat penolakan dari Sam nampak sedikit kesal. Selama ini belum pernah ada pemuda yang mengacuhkannya. Penolakkan Sam malah menambah hasrat Putri Teresta untuk semakin mendekatinya.


__ADS_2