Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
23. Berlatih V


__ADS_3

"Minum ini". Geiz memberikan ramuan penguat jiwa sebelum Neil tidur.


Sebelumnya Geiz telah berhasil menghubungi penjaga domain untuk mengutarakan niatnya. Raja yang mengetahui keinginan Geiz lantas memberikan ramuan penguat jiwa dengan syarat Geiz berjanji bersedia menjadi guru untuk putra mahkota sebelum masuk ke akademi setelah mereka keluar dari domain sihir.


Geiz yang membutuhkan ramuan tersebut akhirnya mengiyakan penawaran raja. Tidak hanya ramuan penguat jiwa yang diberikan raja, beberapa herbal dan beberapa daging beast juga diberikan oleh raja. Barang barang tersebut dikirim melalui token pemberian raja.


Mendapatkan banyak bonus tambahan, Geiz memikirkan eksperimen untuk memperkuat jaringan tubuh Neil.


"Apakah kau merasakan perbedaan".


Geiz yang telah mengamati bahwa tubuh Neil mampu bereaksi cepat terhadap obat obatan menanyakannya efeknya.


Neil kemudian termenung dan meraba tubuhnya.


"Tidak ada.. tidak terasa apa apa master".


"Ehhm..".


"Ehhm.. apakah ada yang ingin master sampaikan".


Neil yang melihat raut keraguan di wajah gurunya menjadi penasaran.


Sementara Geiz yang mendengarnya nampak cuek, dia sepertinya sedang berpikir keras.


"Sebenarnya aku membutuhkan persetujuanmu, Neil". Ucap Geiz setelah menimang nimang resikonya.


"Ehh, persetujuan apa itu master".


Neil mulai deg degan. Jantungnya perlahan berdegup semakin kencang, keringat dipunggungnya mulai bercucuran. Geiz yang melihat Neil nampak ketakutan mengedutkan sudut bibirnya.


"Sudahlah tidak jadi". Balas Geiz

__ADS_1


"Eh, katakan saja guru. Aku penasaran".


Neil memaksa gurunya untuk mengutarakan maksudnya. Geiz yang terdesak akhirnya mengatakan maksudnya.


"Aku ingin kau meminum sebotol ramuan".


"Ohh, hanya itu. Sini biar aku minum master".


Neil yang sudah sering minum pil dan ramuan sekarang fine fine saja. Nafasnya mulai kembali normal. Ternyata sesuatu yang ditakutkan tidak terjadi.


"Beberapa hari sebelum masuk ke domain, aku meminta tolong kepada seorang kerabat alchemist untuk membuatkan ramuan penguat tubuh. Masalahnya aku meminta ramuan yang tidak biasa".


Dengan keraguan Geiz melanjutkan. "Kami tidak pernah mencoba ramuan itu sebelumnya kepada manusia".


"Apa sudah di ujicoba ke binatang". Neil menanyakan pertanyaan yang tidak diinginkan gurunya.


Dengan nafas berat Geiz menjawabnya. "Seekor beast jenis badak..ma..ti".


Neil yang mendengar bahwa seekor binatang sejenis badak tidak dapat menahan efek ramuan, bulu kuduknya langsung berdiri. Dia bergumam didalam hatinya.


"Apa kau ingin aku mati guru".


"Aku mendengar dari Lian bahwa dia mengajariku untuk mendapatkan banyak herbal langka. Sebenarnya apa yang guru inginkan dengan melatihku sampai seperti ini..ehmm, jika jawabannya memuaskan aku akan mempertimbangkannya". Neil mulai membuat gurunya salah tingkah.


"Eh, kenapa kau bertanya seperti itu". Melihat tatapan tajam Neil yang serius, Geiz sudah tidak bisa lari lagi. Dia lalu memulai curhatnya.


" Aku ingin pergi ke bukit bulan. Untuk memasukinya aku memerlukan token dari Master Kepala".


Melihat Neil mendengarkan seksama, Geiz melanjutkan. "Aku ingin menemui rubah ekor sembilan untuk menanyakan keberadaan orang tuaku".


Mendengar kata orang tua Neil termenung, dia juga merindukan kedua orang tuanya. Neil mengerti penderitaan yang dialami oleh gurunya. Menarik nafas panjang Neil menyetujui menjadi kelinci percobaan Geiz.

__ADS_1


"Sebelumnya aku sudah banyak meminum ramuan dan menelan pil, bukankah tidak masalah kalau meminum satu lagi".


Mendengar penyataan muridnya, Geiz tidak bisa berkata apa apa. Dia bingung harus senang atau sedih untuk mengekspresikannya. Mengeluarkan botol ramuan, Geiz menanyakan kembali kepada Neil.


"Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu, kau bisa membuangnya jika kau mau".


"Warnanya hitam seperti waktu.. sepertinya aman..".


"Glugukk glugukkk". Tidak menjawab pertanyaan gurunya, Neil langsung mengambil botol dan meminum ramuannya dengan suka cita.


Geiz yang melihatnya sudah sangat khawatir. Dan benar saja, setelah beberapa saat Neil pingsan, tubuhnya mengejang. Geiz yang melihat muridnya kejang kemudian koma sangat khawatir.


Dengan cemas, Geiz terus mengalirkan mana ke dalam tubuh Neil.


"Seharusnya aku membuang ramuan itu. Bagaimana aku begitu kejam mengorbankan nyawa muridku sendiri demi kepentingan pribadi".


Hati dan pikiran Geiz mulai berkecamuk. Pil gizi, pil penawar racun dan berapa herbal berukuran kecil dimasukkan kedalam mulut Neil agar bisa diserap oleh tubuhnya.


Beruntung Neil sebelumnya yang telah mengonsumsi ramuan racun dan ramuan kehidupan warisan Eillias. Ramuan itu telah menyatu dengan darahnya yang membuat Neil kebal terhadap racun dan memiliki regenerasi sel yang cepat.


Tapi karena ramuan yang Geiz berikan berfungsi untuk menguatkan jaringan tubuh, tubuh Neil membutuhkan waktu yang lama untuk berevolusi.


Waktu terus berlalu, siang berganti malam, hari bergantu minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun Neil belum juga sadarkan diri.


Geiz yang sudah kehabisan banyak mana dan stock obat obatannya karena Geiz juga membutuhkan obat obatan untuk dapat terus menjaga kondisi tubuh muridnya, mulai terlihat lega karena kondisi tubuh Neil sudah membaik. Geiz memperkirakan tidak lama lagi Neil akan sadar dari komanya.


Penantian tinggal penantian, Neil yang sudah koma selama 3 tahun belum juga sadar dari komanya. Geiz juga heran karena Neil belum juga sadar dari komanya.


Dengan kondisi tubuh Neil saat ini, seharusnya dia sudah sadar dari komanya. Merasa frustasi, Geiz menggoyang goyang tubuh Neil berharap dia segera sadar. Tanpa sadar air mata mengalir dan jatuh ke dada Neil.


Seperti di sinetron sinetron, di alam sadarnya Neil merasa ada sesuatu yang menyakiti dadanya. Perlahan Neil merasakan ada seseorang yang menggoyang goyang tubuhnya. Neil mulai sadar dari komanya.

__ADS_1


__ADS_2