
"Apa kau yakin iblis itu tidak akan menyerang kita lagi ?" Tanya Geiz dengan khawatir.
"Aku yakin master. Percayalah padaku !".
Mendengar kata kata Neil dan gerakan raksasa rubah yang acuh, Geiz dan Yuwe berusaha menenangkan dirinya masing masing. Setelah merasakan serangan luar biasa raksasa iblis, mereka berdua terlihat sangat waspada.
"Bukankah iblis itu menyerang kita habis habisan, kenapa tiba tiba dia menjadi sangat tenang seperti itu ?" Tanya Yuwe lebih penasaran.
"Aku juga tidak tahu... Bagaimana kalau kita coba mengajaknya bicara ?" Usul Neil yang sedang berpura pura.
Setelah menerima liontin giok dari si rubah, Neil menceritakan tentang maksud kedatangannya ke bukit bulan kepada rubah iblis. Mendengarnya, si rubah pun terpaksa menyetujui keinginan Neil.
Agar sesuatunya terasa lebih alamiah dan wajar bagi Geiz dan Yuwe, atas usul Neil mereka menyetting kembali saat kejadian pertemuan pertama kali mereka dengan si rubah. Tentunya dengan sedikit menghapus ingatan Geiz dan Yuwe.
"Hati hati Neil !" Seru Yuwe pada Neil yang sedang berjalan mendekati si rubah.
"Kenapa aku merasa bocah itu menjadi semakin bodoh". Gumam Geiz lirih yang masih bisa di dengar oleh Yuwe.
Neil yang sudah sedikit lebih dekat dengan rubah iblis terlihat sedang mengumpulkan keberaniannya untuk memulai bicara dengan si rubah. Geiz dan Yuwe sudah bersiap untuk hasil terburuknya.
"Raksasa rubah, bisakah kita bicara !" Seru Neil pada si rubah yang tidak dijawabnya. Neil lalu berpikir untuk langsung ke intinya saja.
"Bisakah kami meminta informasi mengenai keluarga Sander yang masuk kesini puluhan tahun lalu ?"
Setelah menunggu beberapa saat dengan salah tingkah karena tatapan Geiz dan Yuwe, dia akhirnya mendengar kata kata rubah iblis yang sudah sangat dinanti nantikan.
"Keluarga Sander..."
Mendengar kata 'keluarga sander' dari rubah iblis, Geiz ikut maju ke depan. Rasa ingin tahunya mangalahkan rasa khawatirnya.
"Jika kau mengetahui tentang keberadaan orang tuaku, aku mohon.." Pinta Geiz pada rubah iblis.
Raksasa rubah kemudian menampilkan dua gambar proyeksi suami istri yang membuat air mata Geiz menetes. Yuwe yang melihat rubah iblis lebih bersahabat juga mendekat ke arahnya.
Proyeksi gambar kemudian berubah menjadi sosok anak kecil yang sangat imut dengan iris mata berwarna biru. Jika Juan disana, dia pasti akan langsung mengenali anak itu.
"Apakah anak ini adalah dirimu ?" Tanya raksasa rubah pada Geiz.
"Benar... dimana mereka. Katakan padaku !" Balas Geiz dengan emosional.
__ADS_1
Melihat Geiz emosional, raksasa rubah kemudian sedikit mengerang untuk mencairkan suasana. Neil juga mencoba menenangkan gurunya. Sementara Yuwe nampak sangat waspada.
"Guru, tenanglah. Lebih baik jangan membuat rubah iblis marah !" Bisik Neil pada Geiz.
Geiz yang mendengar bisikan Neil lalu menarik nafas panjangnya. Dia mengatur nafasnya kembali sebelum minta maaf pada rubah iblis.
"Maafkan aku... Aku mohon padamu berikan informasi yang kau ketahui, aku akan melakukan apa..."
Sebelum Geiz menyelesaikan kata katanya, Neil menyelanya dengan segera. Mengetahui kecerdikan rubah iblis, dia khawatir rubah iblis meminta hal hal yang tidak diinginkan kepada gurunya.
"Iya, katakan sekarang !" Seru Neil lebih keras.
Rubah iblis yang ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Neil langsung mengeluarkan salah budaknya yang merupakan ibu kandung dari Geiz. Secara perlahan ibu kandung Geiz terbang ke arah Geiz.
Geiz yang melihat ibu kandungnya langsung mematung di tempat. Dia tidak menyangka dapat bertemu dengan salah satu orang tuanya. Sebuah kata lirih terdengar dari bibirnya. "Ibu.."
Yuwe langsung menopang ibu kandung Geiz yang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dia juga memeriksa keadaannya.
"Untuk laki laki itu, dia sudah mati". Ujar iblis ubah dengan tak acuh.
Neil Geiz dan Yuwe yang mendengar kata kata si rubah langsung terkejut. Neil yang merasa si rubah tidak memiliki empati langsung melayangkan protesnya.
"Tidak bisakah kau mengatakannya nanti !'
Neil dan Yuwe yang melihat Geiz memeluk ibunya merasa senang. Setidaknya sesuatu yang telah lama dinantikan sekarang sudah terwujud. Berbeda dengan mereka, rubah iblis malah menyindirnya.
"Manusia lemah".
Neil dan Yuwe yang mendengar perkataan rubah iblis hanya menatapnya dengan perasaan benci. Mereka masih sadar sedang berhadapan dengan siapa.
"Bagaimana ayahku mati. Dan dimana makamnya sekarang ?" Tanya Geiz kepada rubah iblis dengan tatapan polosnya.
"Hahahaaa... manusia itu mati karena dia lemah !" Ejek raksasa rubah kembali.
Geiz yang mendengar jawaban si rubah mengepalkan kedua tangannya, dia sangat marah dengan perkataan iblis di depannya.
"Iblis kep*r*t !" Seru Geiz pada si rubah.
Mengetahui maksud perkataan si rubah, Neil kemudian mengatakan kepada gurunya bahwa dia tahu dimana makam ayah kandung Geiz.
__ADS_1
"Tenanglah master. Sepertinya aku mengetahui dimana makam ayah kandung master".
Geiz yang mendengar penjelasan dari Neil menatapnya dengan curiga, tapi sebelum kecurigaannya bertambah Neil melanjutkan kata katanya.
"Kita sudah selamat sampai disini. Kita juga harus menyadarkan bibi".
Melihat Neil yang sangat tenang dalam situasi seperti ini, Yuwe memujinya dalam hati. Dia juga turut menenangkan Geiz untuk melihat situasi dengan pikiran yang dingin.
"Benar apa yang dikatakan oleh Neil, Geiz. Keselamatan bibi lebih penting".
Geiz yang mendengar perkataan Neil dan Yuwe lantas menarik nafas panjang. Melihat sosok ibu dipangkuannya, dia bertekad untuk membahagiakannya.
"Sekarang pergilah dari sini jika tidak ingin mati, karena tempat terkutuk ini akan kuhancurkan !" Seru rubah iblis tiba tiba.
"Tunggu... kami perlu memindahkan makam paman terlebih dahulu !" Pinta Neil tanpa jeda.
"Cepatlah. Kalian membuatku muak !"
Menatap ke arah Geiz, Neil meminta gurunya untuk mengikutinya masuk ke dimensi penyegelan. Mengikuti Neil, Geiz menyerahkan keselamatan ibunya kepada Yuwe.
Ayah Geiz adalah salah satu manusia percobaan rubah iblis yang ditugaskan untuk membuka segel sebelumnya. Karena dimasukkan dengan paksa, dia mati saat tiba di dalam dimensi penyegelan.
Kembali masuk ke dalam dimensi penyegelan, Neil menunjukkan kumpulan jasad manusia yang telah mati kepada gurunya.
"Darimana kau mengetahui tempat ini Neil ?"
"Aku tidak sengaja melihatnya saat sedang bertarung tadi master !" Jawab Neil dengan terbata bata.
Melihat jasad yang tidak asing, Geiz langsung berlari ke arahnya. "Ayah...!"
Geiz lalu membersihkan dan mengangkat jasad ayahnya yang masih utuh. Neil sekarang tahu kalau dimensi segel mempertahankan kondisi jasad manusia yang telah mati didalamnya.
Geiz sebenarnya memiliki banyak pertanyaan pada Neil, tapi dia sadar kalau sekarang bukan waktu yang tepat. Dia ingin mengurus kedua orang tuanya terlebih dahulu.
"Master, sebaiknya kita cepat keluar dari tempat ini !"
Hanya mengangguk, Geiz kemudian bangkit dengan membawa serta jasad ayahnya.
"Bawa itu juga !" Geiz menunjuk sebuah batu kepada Neil.
__ADS_1
"Batu... tapi untuk apa master ?"
"Jangan banyak tanya. Bawa saja !"