
"Sampai bertemu 3 tahun lagi Neil, berjanjilah untuk berlatih dengan baik dan jangan membuat masalah".
"Apakah master akan berangkat ke kerajaan sekarang ?" Tanya Neil tanpa menjawab pertanyaan gurunya.
"Aku sudah berjanji kepada Raja akan kembali setelah urusan di akademi selesai. Seorang laki laki tidak boleh mengingkari janjinya, kau harus ingat itu baik baik".
"Baik master. Jaga diri master baik baik".
"Dasar bodoh. Kau yang seharusnya menjaga diri baik baik. Sudahlah... Master kepala aku titipkan bocah bodoh ini kepadamu".
"Kau bisa tenang. Keselamatannya terjamin di akademi". Balas Juan dengan tak acuh.
Geiz kemudian melangkah pergi keluar untuk memenuhi janjinya kepada Raja. Geiz akan mengajar Putra Mahkota selama 3 tahun sebelum dia bisa masuk ke akademi diusia 12 tahun.
Neil yang melihat gurunya pergi merasa kehilangan. Kebersamaan dengan gurunya selama 70 tahun di domaim sihir sudah membuat mereka berdua sangat akrab. Bahkan Neil sudah menanggap Geiz sebagai anggota keluarganya sendiri.
"Sepertinya kau akan cocok mengenakan berbagai macam alat sihir". Juan membangunkan Neil dari lamunannya dengan ucapannya.
"Alat sihir, sepertinya menarik !" Neil sudah membayangkan mengggunakan berbagai atribut sihir untuk menjadikannya terlihat memiliki kekuatan seperti superhero dibumi.
Juan yang melihat senyum Neil merasa menyesal mengatakannya. Mengambil nafas berat dia berujar. "Sekarang kembalilah, besok siang kembalilah kemari".
"Baik master kepala. Saya akan kembali besok siang. Saya mohon undur diri".
...----------------...
Di Kerajaan Dimezia tepatnya di kediaman Duke Jo Hung, sedang terjadi keributan di antara pelayan yang sedang memperebutkan hadiah dari Nona Hung, Veriza.
Keluarga Hung sedang mengadakan lomba memasak dengan hadiahnya akan diangkat sebagai kepala pelayan utama Keluarga Hung untuk menggantikan kepala pelayan utama yang telah meninggal minggu lalu.
__ADS_1
Sebenarnya pihak keluarga sudah memiliki kandidat terbaik untuk penggantinya, tapi hanya untuk membuatnya lebih menarik mereka mengadakan lomba. Keluarga Hung memang terkenal senang mengadakan suatu pesta atau kegiatan besar lainnya. Setidaknya itulah yang image Keluarga Hung di mata masyarakatnya.
Beruntung masyarakat Duke Jo berada di atas garis kemiskinan karena kekayaan alamnya yang melimpah dan dapat dikelola dengan baik. Sehingga kebiasaan pesta Keluarga Hung dianggap wajar wajar saja.
Tapi tidak disangka prediksi mereka sedikit meleset. Salah seorang pelayan yang tidak dijagokan ternyata pandai memasak. Dibandingkan dengan pelayan yang dikandidatkan, pelayan yang masih bersaing memiliki usia yang lebih muda dan memiliki paras yang cukup cantik.
"Ayoo Jen..."
"Semangat Meri".
Dukungan untuk kedua kandidat menggema di ruangan lomba. Pelayan Jen dan Meri sedang menjalani babak final untuk memperebutkan posisi kepala pelayan utama.
Pelayan Jen yang sudah memiliki banyak pengalaman sedikit lebih memimpin dalam teknik memasak di bandingkan dengan Pelayan Meri. Pelayan Jen sedang memasak makanan kesukaan Veriza yaitu puyuh bakar nasi hijau, sedangkan Meri sedang memasak sate puyuh pedas manis.
Veriza sendiri selain sebagai pengambil keputusan juga bertindak sebagai tukang icip icip. Sebelumnya dia telah mencicipi berbagai masakan terbaik buatan pelayannya. Tidak sendiri, Veriza dalam melaksanakan lomba selalu ditemani oleh putrinya, Neila. Walaupun Neila tidak melakukan apa apa dan hanya menjadi teman ngobrolnya.
Sebenarnya Duke sudah meminta kepada Veriza untuk mengajak serta bibi bibi Neila sebagai juri, tetapi Veriza menolak dengan alasan mengajak mereka hanya akan merepotkannya saja.
"Waktu memasak selesai, kedua kontestan agar menghentikan seluruh aktifitas memasaknya dan lekas menyajikan hidangannya". Suara pembawa acara melantun indah diruangan.
Jen dan Meri lekas menyajikan hidangan terbaiknya kepada Veriza dimeja yang telah disediakan. Mereka berdua kemudian mundur ke belakang untuk menunggu hasilnya.
"Aku tidak menyangka kalau kau berbakat memasak Meri ?"
"Aku hanya memiliki sedikit pengalaman memasak sebelumnya dengan ibuku". Mengatakan itu membuat Meri mengenang hari hari bahagia bersama dengan ibunya.
Meri dulu berasal dari keluarga petani yang hidup bahagia, karena suatu bencana Meri dan keluarganya harus pindah dari tempatnya. Saat keluarga Meri pindah bersama dengan rombongan, diperjalanan mereka di hadang oleh begal. Para orang tua dan pemuda yang melawan dibantai secara massal, Meri dan teman temannya di tangkap dan dijual sebagai budak.
"Aku yakin kelak kamu akan menjadi kepala pelayan utama, tapi untuk saat ini aku yang akan menang".
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak ingin menjadi kepala pelayan utama Kak Jen".
Jen dan Meri saling pandang. Sebenarnya mereka berdua baik baik saja, hanya para pendukung masing masing yang saling sikut sikutan.
Veriza dan Neila berjalan menuju ke meja yang telah disediakan untuk menilai masakan Jen dan Meri. Sampai menempati tempat duduknya, seluruh pelayan memberikan hormatnya kepada mereka.
"Aku mendengar kalian membuat keributan saat perlombaan. Apa kalian sudah tidak menghargaiku lagi ?"
"Tidak Nona, maafkan kami karena telah membuat keributan sebelumnya". Seluruh pelayanan menjawab serempak dan kemudiam bersujud meminta maaf.
"Baiklah.. kali ini aku memaafkan kalian semua. Jika hal ini terulang lagi, kalian semua akan mendapatkan hukumannya".
"Terima kasih Nona". Pelayan kembali menjawab dengan serentak.
Veriza kemudian mulai mencicipi masakan Jen dan Meri untuk memberikan penilaian. Veriza dan Neila mencicipi masakan buatan Jen terlebih dahulu baru kemdian mencicipi masakan Meri.
"Bagaimana pendapatmu putriku ?"
"Keduanya enak ma". Neila menjawabnya sambil memakan masakan di depannya.
"Hmm, kalau begini sulit untuk menentukan siapa pemenangnya".
"Jadiin kepala 1 dan kepala 2 aja ma".
"Hmm, benar juga katamu Neila. Tapi siapa yang akan dijadikan kepala 1 dan kepala 2 ya".
"Hmm, Bibi Jen kepala 1 dan kak Meri kepala 2. Bibi Jen kan lebih tua ma".
"Pintar anak mama. Mama sepakat dengan putri kesayangan mama".
__ADS_1
Veriza sebenarnya sudah memiliki penilaian yang sama sebelumnya dengan Neila. Hanya saja dia ingin tahu sebaik apa putrinya dalam menilai sesuatu. Tidak menyangka kalau Neila memiliki penilaian yang sama dengannya. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.