
"Penyusup... prajurit,....." Teriak Duke yang merasakan serangan dalam jumlah besar.
Sampai di halaman kediamannya, dia melihat para punggawanya sedang bertarung melawan pasukan jenderal Bul. Satu persatu anggota keluarganya juga mulai datang untuk membantu. Tanpa Duke sadari, Veriza istrinya juga ikut menyusul.
"Kenapa kau kemari ?" Ucap Duke Jo pada istrinya.
"Siapa mereka suamiku. Kenapa mereka menyerang kemari ?"
"Kelompok penyihir gelap. Sepertinya mereka mencari sesuatu disini. Mereka berbahaya, evakuasi para wanita dan pelayan. Aku sudah meminta bantuan, semoga mereka datang tepat waktu".
"Baiklah... berhati hatilah suamiku ?"
"Jaga dirimu juga istriku !"
Melihat pasukannya kewalahan melawan pasukan jenderal Bul, Duke turun ke dalam pertempuran. Dia terlebih dulu membantu Bie yang sedang bertarung melawan pasukan jenderal Bul.
Duke muncul didepan Bie dan memukul mundur musuhnya. Bie yang sedang asyik bertarung mengeluh dengan campur tangan ayahnya. Duke juga meminta pasukannya untuk mundur kebelakangnya.
Sebagai pengguna sihir air Duke membuat ratusan belati es diudara yang siap untuk membunuh seluruh musuhnya. Jenderal Bul yang melihat krisis di depannya kemudian membuat lapisan pelindung untuk pasukannya.
"Bang bang bang..."
Suara belati es yang menabrak dinding pertahanan jenderal Bul menggema di kediaman keluarga Hung. Asap dingin seperti kabut mengepul di halaman rumah.
"Enyahlah kalian dari sini atau mati !" Gertak Duke setelah asap dingin sudah mulai hilang.
"Serahkan teko itu jika kau masih ingin hidup" Balas jenderal Bul tanpa rasa takut.
"Apa maksudmu ?"
"Jangan berpura pura. Serahkan teko emas padaku !"
Mendengar kata teko emas, Duke teringat dengan kejadian 16 tahun yang lalu dimana dia menemukan sebuah teko di saat pesta kelahiran putrinya.
Sementara Bie dan saudara Duke lainnya yang tidak mengetahui mengenai teko tersebut nampak bingung. Salah satu saudara kemudiam mendekati Duke untuk menanyakan masalahnya.
__ADS_1
"Apa kau mengetahui tentang teko itu ?"
"Aku menemukannya 16 tahun yang lalu. Tidak tahu apa, tapi aku merasakan aura yang kuat di dalam teko itu ?"
"Seharusnya kau menceritakannya kepada kami. Lihat masalah yang kau buat !"
"Aku tidak bermaksud begitu. Teko itu bahkan tidak pernah kusentuh lagi".
"Apa yang sedang kalian bicarakan. Cepat serahkan teko itu ?" Seru jenderal Bul yang memotong pembicaraan Duke.
Setelah memikirkannya, Duke memutuskan untuk mengambil teko itu. Dia ingin mengulur waktu sampai bantuan datang. Duke tidak percaya untuk menyerahkan teko itu pada jenderal Bul.
Organisasi sihir gelap adalah organisasi jahat. Mengerahkan banyak pasukan hanya untuk sebuah teko itu terlalu mencurigakan.
"Bie ambilkan teko itu ?"
Melihat kalau Duke akan memberikan teko emas itu, jenderal Bul dan pasukannya tertawa senang. Beberapa kerabat mempertanyakan mengenai keputusan Duke. Mereka khawatir kalau teko itu akan menimbulkan bencana dimasa depan.
Mendengarkan protes dari kerabatnya dia tidak bergeming. Menjaga keselamatan keluarga adalah prioritas utamanya saat ini. Dia juga menjelaskan rencananya untuk mengulur waktu.
Setelah beberapa saat, Bie kembali dengan membawa teko emas. Diserahkan teko itu kepada ayahnya, Bie kembali ke barisan bersama pasukan.
"Apa yang kau tunggu. Cepat serahkan teko emas itu !" Seru Bul pada Duke Jo.
"Katakan dahulu padaku siapa pengkhianatnya ?"
"Hahahhaahaa... kau tidak usah repot repot mencarinya karena aku sudah membantumu melenyapkannya. Anggap saja itu sebagai balasan karena kau bersedia menyerahkan teko itu padaku".
Jenderal Bul mengingat kejadian sebelumnya dimana dia menerima laporan dari anak buahnya mengenai teko emas. Dia kemudian bergegas menemui orang memiliki informasi tersebut.
Salah seorang anggota organisasi sihir gelap tidak sengaja mendengarkan percakapan dua orang lelaki yang sedang membahas mengenai teko emas. Dia kemudian menemui lelaki tersebut dan menjanjikan emas yang sangat banyak jika dia memberitahukan mengenai informasi teko emas itu pada bosnya.
Tapi naas apa yang dijanjikan hanyalah janji belaka. Jenderal Bul yang sudah mendapatkan informasi malah membunuh mati kedua lelaki tersebut. Bul kemudian menyumpal mulut kedua mayat lelaki itu dengan sekantung emas lalu meninggalkannya.
"Siapa yang bilang kalau aku akan menyerahkan teko ini padamu ?" Balas Duke dengan tak acuh.
__ADS_1
"Bedebah... prajurit habisi mereka semua !" Seru jenderal Bul pada seluruh pasukannya.
Tapi sebelum pasukan Bul bergerak menyerang, Duke mengambil keputusan untuk membuang teko emas itu dengan seluruh kekuatannya. Dengan bantuan sihirnya, dia melemparkan teko emas ke atas hingga hilang dari pandangan.
Jenderal Bul yang tidak bisa berbuat apa apa saat teko itu dibuang merasa sangat kesal. Dia mengeluarkan aura membunuhnya yang membuat pasukan dari kedua belah pihak meringis kesakitan.
"Kalian tunggu apalagi, cepat kejar teko itu !" Teriak jendela Bul pada pasukannya.
Dengan masih kesakitan, pasukan Bul bergerak ke barat dimana teko itu dilempar. Dengan tatapan membunuh, jenderal Bul mengancam Duke dan keluarganya.
"Kali ini kalian selamat !"
Jenderal Bul langsung menghilang mengikuti jejak teko emas. Duke merasa lega karena dia mengambil keputusan yang tepat. Merasakan kekuatan jenderal Bul, jika dia tadi memaksakan pertarungan mungkin akibatnya akan buruk
"Semoga mereka tidak menemukan teko emas itu". Gumam Duke yang menatap ke arah dimana teko itu dilempar.
Sementara jenderal Moel yang sedang menahan pasukan bantuan yang dikirimkan oleh pihak kerajaan merasa bingung dengan kepergian jenderal Bul.
"Apa jenderal bodoh itu telah kalah !" Gumam Moel dalam hatinya. Dia kemudian menghubungi Bul melalui telepati.
Mendengar informasi dari Bul bahwa dia sedang mengejar teko emas, Moel menjadi sangat marah. Dia kemudian menghabisi seluruh pasukan yang dikirimkan oleh pihak kerajaan.
"Blaarrr....."
Ledakan energi hitam meledak di pintu gerbang keluarga Hung. Duke yang sudah merasa lega dikagetkan kembali dengan serangan yang dilancarkan oleh jenderal Moel.
Pasukan Duke dan jenderal Moel saling berhadapan. Pertarungan kedua bagi Duke tidak bisa dihindarkan. Moel yang sedang marah tidak bisa diajak bicara. Dia berencana membumihanguskan kediaman keluarga Hung.
"Kubunuh kalian semua !" Teriak jenderal Moel dengan teror api hitamnya. Malam yang gelap menjadi semakin kelam.
Melihat kebakaran dimana mana, Duke dan para saudaranya berusaha memadamkan api hitam yang membara dengan sihir airnya.
Mengeluarkan tombak esnya, Duke siap bertempur sampai mati. "Mimpi..."
Duke langsung terbang menusuk ke arah jenderal Moel. Tidak tinggal diam, Moel juga mengeluarkan kapak hitamnya. Benturan dua senjata sihir tingkat tinggi menghasilkan tekanan energi yang sangat dahsyat.
__ADS_1
Mengetahui kekuatan jenderal Bul yang sebelumnya berada di level 6 menengah, Duke tidak bisa menganggap remeh musuhnya kali ini. Duke yang berada di level 6 awal pasti tahu akan resikonya.
Meningkatkan energinya, Moel membuat Duke terpental ke belakang. Dia kemudian memutar mutar kapaknya hingga membentuk pusaran angin panas yang menyengat kulit.