
"Untuk yang pertama aku setuju. Tapi untuk yang kedua aku menolak !" Balas jiwa Neil dengan tegas.
"Apa susahnya tidak menikah ?"
Jiwa Neil yang mendengar perkataan dari jiwanya yang lain sudut bibirnya berkedut. Tanpa sadar dia bercelutuk.
"Bagaimana anak kecil bisa tahu urusan orang dewasa".
"Aku memang masih kecil sekarang, tapi beberapa tahun lagi aku sudah dewasa !" Protes jiwa lain Neil yang sudah gerah selalu dipanggil anak kecil.
"Terserah, tapi yang pasti aku menolak permintaan kedua. Lebih baik aku mati daripada harus membujang !"
"Kau... !"
Jiwa lain Neil yang masih memerlukan bantuan dari Neil berpikir sejenak. Dia tahu masih terlalu berbahaya dengan kekuatannya saat ini.
"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika kau mati aku akan meninggalkan istri dan anakmu !"
Sekarang giliran sudut bibir jiwa Neil yang berkedut. Memikirkan perbuatan sosok didepannya di masa depan, dia tidak bisa tidak mengeluh.
"Sebenarnya aku mulai senang dengan kehadiranmu disini. Aku merasa tidak sendirian lagi".
Jiwa lain Neil yang mendengar keluhan Neil merasa tersentuh. Walau sebagai jiwa pengganti, dia dianggap keberadaannya oleh Neil.
"Seleraku sangat tinggi. Jangan menikah tanpa persetujuanku !" Ujar jiwa lain Neil dengan tak acuh.
"Setuju... aku tahu kalau kau anak yang baik !"
"Aku menyesal mengatakannya !"
"Bagaimana menurutmu dengan Yui... cantik imut dan mon..."
Sebelum Neil menyelesaikan kata katanya, jiwa lain Neil sudah memotongnya. "Apa seleramu begitu buruk !"
"Matamu yang rabun. Memangnya seperti apa seleramu ?"
"Imajinasimu tidak akan sampai... Dialah yang memiliki mahkota sang dewi" Balas jiwa lain Neil yang sedang membayangkan sosok Dewi Arlina.
__ADS_1
Melihat sosok anak kecil yang sedang membayangkan seorang dewi, jiwa Neil tertawa terbahak bahak.
"Hahahaahaaa, kau mengingatkanku tentang anak anak di bumi yang sedang bermimpi bertemu peri".
"Kau... terserah apa katamu. Ingat janjimu, dan lagi... jangan lakukan hal itu lagi di kamar mandi... menjijikan !"
"Apa kau pikir aku menginginkannya. Jika saja ada itu aku tidak akan melakukannya". Balas jiwa Neil dengan terbata bata.
"Aku tidak peduli... jangan lakukan hal itu lagi !"
Tidak ingin berdebat lagi, jiwa Neil tidak menerima ataupun tidak menyetujui. Dia sudah senang karena masih bisa bertemu dengan guru dan orang orang terdekatnya. Tekadnya untuk semakin lebih kuat juga terus ada didalamnya.
"Kalau sudah tidak ada yang dibahas lagi aku kembali !" Ujar jiwa Neil yang mulai berbalik.
"Aku akan bermeditasi dalam waktu lama, jadi jangan menggangguku !" Balas jiwa lain Neil dengan tak acuh.
Keesokan paginya Neil dan Geiz sudah berada di dalam kamar Yuwe untuk melihat keadaan ibu kandung Geiz. Masih belum bangun dari sadarnya, mereka tidak tahu apa penyebabnya.
"Perlu pemeriksaan mendalam untuk mengetahui penyebab ketidaksadaran. Kita harus membawanya kepada seorang master alchemist". Ujar seorang alchemist setempat yang diundang untuk mengobati ibunya Geiz.
"Kalau begitu kami akan berangkat sekarang ke menara sihir". Yuwe melanjutkan maksudnya.
"Kalau seperti itu kondisinya, terimalah ini !" Kepala suku memberikan sebuah tanda pengenal suku, dia kemudian melanjutkan kegunaannya. "Dengan ini, kalian akan dianggap tamu dari suki kami".
"Terima kasih. Ini sangat berarti untuk kami". Balas Yuwe pada ketua suku.
Mereka berempat kemudian pergi meninggalkan pemukiman dan bergerak ke arah menara sihir benua utara. Dengan kecepatan maksimal, mereka bisa sampai di menara sihir dalan waktu 3 hari.
Sementara pertemuan antar ketua menara sihir dari kelima benua akan dilaksanakan di benua utara. Don dan ketiga ketua menara sihir lainnya sudah berkumpul di benua utara. Sama seperti di menara sihir benua tengah, mereka berempat disambut dengan karpet merah dan kemegahannya.
"Apakah belum ada kabar dengan ketiga orangku Tung ?" Tanya Don pada ketua menara sihir benua selatan.
"Aku khawatir mereka telah tiada !" Jawab Tung dengan memberikan ekspresi empatinya.
"Dengan hancurnya bukit bulan, kami tidak menemukan jejak apapun didalamnya". Lanjut Tung masih dengan ekspresi empatinya.
"Aku merasa bersalah dengan Juan". Gumam Don dengan lirih.
__ADS_1
"Selamat datang kawan kawan lamaku !" Sambut Kwen pada keempat kawannya.
"Tidak bisakah kau mengganti pakaianmu jika bertemu dengan kami". Sindir ketua menara sihir benua barat.
"Apa ada masalah dengan pakaianku Ben?" Balas Kwen dengan senyum kecutnya.
"Aku benar benar bosan melihatnya. Jika kau kekurangan pakaian aku bisa memberikannya beberapa padamu ?"
"Sudahlah Ben, kita semua tahu kalau Kwen tidak memiliki selera berpakaian". Imbuh Tung dengan tak acuh.
Kwen yang selalu mendengar sindiran yang sama saat bertemu dengan kawan kawannya sudah terbiasa dengan sikap mereka, dia sama sekali tidak menaruhnya dihati.
Kwen memang selalu memakai pakaian dengan motif sama setiap harinya. Walaupun pakaiannya banyak, tapi semuanya berjenis dan bermotif sama yaitu sebuah hanfu berwarna putih polos dengan motif bunga lili.
Kwen mulai mengenakan hanfu yang sama setiap harinya semenjak dia kehilangan mendiang istrinya. Kwen mengenakan hanfu yang sama setiap harinya agar dia bisa selalu mendiang mendiang istrinya.
Sebelum istri Kwen meninggal dunia, dia telah membuat sebuah hanfu terakhir untuk suaminya. Hanfu itu dia tenun sendiri dan dia batik sendiri sebelum akhir hayatnya. Karena itulah Kwen memutuskan untuk memakai hanfu dengan jenis dan motif yang sama setiap harinya.
Karena tidak ada satupun dari keempat ketua menara sihir yang mengetahui tentang sejarah dari hanfu tersebut, mereka selalu mengejek Kwen setiap kali mereka bertemu.
"Kalian memang pandai kalau mengejek orang !" Sambung Don yang ingin mengakhiri sesi basa basi mereka.
"Satu orang lagi yang tidak punya selera humor. Ayolah Don, kita sudah lama tidak berjumpa". Balas Tung yang ingin menghibur Don.
"Kita dapat bercanda lain waktu. Untuk saat ini lebih penting bagi kita untuk menyusun rencana". Saran Lya, ketua menara sihir benua timur.
"Kalau Lya sudah bicara, aku akan selalu setuju !" Sahut Ben tanpa malu malu.
"Sudahlah hentikan. Aku tuan rumah disini. Jadi kalian harus mengikuti aturanku !" Putus Kwen sebagai penengah.
Mendengar perkataan Kwen, mereka berempat berjalan ke arah tempat duduknya masing masing untuk memulai rapat daruratnya. Semua setuju bahwa mereka harus membuat keputusan bersama untuk kepentingan seluruh umat manusia.
"Sebagai tuan rumah aku yang memimpin rapat darurat kali ini !" Kwen memulai rapatnya sebagai pemimpin rapat, dia kemudian melanjutkan. "Tung, ceritakan kondisi benua selatan saat ini khususnya area bukit bulan".
Tung kemudian menjelaskan tentang kondisi wilayahnya terutama mengenai kondisi bukit bulan dengan update terakhir. Mereka mencari solusi akan masalah yang mungkin ditimbulkan di masa depan.
Dengan lepasnya rubah iblis dari bukit bulan, mereka sadar akan bencana yang akan dihadapi oleh dunia apabila rubah iblis sampai mengamuk dibelahan bumi walaupun saat ini mereka merasa sedikit lega dengan hilangnya aura dari rubah iblis.
__ADS_1