Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
43. Beraksi


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. 3 bulan penantian Neil akhirnya tiba. Neil yang sudah berada di depan pintu masuk laboratorium sihir merasa ragu untuk masuk. Dia masih memikirkan bidadarinya yang bisa mengamuk sewaktu waktu.


Selama 3 bulan sebelumnya Neil lebih sering berada diperpustakaan untuk mengisi waktunya. Kadang ditemani Lian kadang juga datang sendiri. Neil sudah mendapatkan banyak pengetahuan dari buku buku yang dibacanya.


Sekarang dia mengetahui kalau di dunianya yang baru terdapat 5 benua yang dikuasai oleh beberapa kerajaan besar. Ilmu geografi, ilmu matematika, ilmu alkemis bahkan ilmu jimat sudah dia pelajari. Walaupun tidak bisa mempraktekan beberapa pengetahuan yang berada diluar kemampuannya, Neil berpikir mungkin suatu saat pengetahuannya akan berguna.


Ada 1 hal yang masih ingin Neil ketahui dan itu belum ditemukan di berbagai buku yang telah dibacanya. Neil berpikir mungkin masih memerlukan banyak waktu untuk mencarinya. Informasi yang ingin Neil cari adalah informasi mengenai kedatangannya ke dunia ini.


Berdasarkan informasi dari anak kecil yang ditemuinya saat bertapa, Neil seharusnya sudah mati. Tapi kenyataannya dia sekarang masih hidup. Neil ingin mengetahui informasi tersebut untuk mencari keberadaan Kent dan Deila. Neil ingin tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati dan bereinkarnasi.


Mengambil nafas berat Neil memperlihatkan tanda masuknya ke arah pintu. Dan seketika pintu pun terbuka dengan sendirinya. Melangkahkan kakinya ke dalam, ternyata apa yang dikhawatirkannya benar benar terjadi. Yui datang menghampiri dengan senyum malaikatnya.


"Berani juga kamu datang kesini lagi".


"Ka..ngen, ehh maksudku aku sudah berjanji untuk bertemu dengan Master Yosh kembali".


Jantung Neil yang sudah dag dig dug, menjadi dag dig dug derr. Dia sangat malu bertemu kembali dengan Yui.


"Maaf. Aku minta maaf kepada nona Yui untuk kejadian sebelumnya". Neil membungkuk hormat kepada Yui.


Tidak menjawab permintaan maaf Neil, Yui mempersilahkan Neil untuk masuk. "Masuklah, master sudah menunggumu".


Tidak ingin mendebat, Neil melangkah masuk untuk menemui Yosh. "Terima kasih".


Melihat punggung Neil yang semakin menjauh, sambil tersenyum Yui bergumam pelan. "Cukup tampan juga".


"Master Yosh, saya menghadap".


"Oh nak Neil, kemarilah. Aku sudah menunggumu".


"Bagaimana kabar master".


Yosh yang mendengar Neil menanyakan kabarnya merasa tersanjung. Ini adalah pertama kalinya di akademi dia mendengar ada seseorang yang menanyakan kabarnya. Biasanya orang orang menemuinya hanya untuk minta tolong dan memberikan pujian.


"Baik. Aku baik baik saja nak Neil. Terima kasih perhatiannya. Ohh ya, pesanan nak Neil sudah disiapkan".


Yosh kemudian mengambil koper yang berisi peralatan sihir pesanan Neil. Membuka koper, Yosh menjelaskan perihal alat sihir buatannya.


"Kacamata, sarung elemen, belati dan tali sihir, dan pistol. Untuk katana ada diruang sebelah".

__ADS_1


"Secara teknis, alat alat sihir ini sudah diuji dan aman digunakan. Hanya saja karena sumber energinya menggunakan batu sihir, masa pakainya terbatas. Nak Neil harus mengisinya kembali agar dapat digunakan".


"Sebenarnya jika nak Neil bisa mengalirkan mana ke batu sihir ini, alat ini dapat berfungsi sebagai mestinya. Sayangnya, saya merasakan kalau mana dalam tubuh nak Neil terlalu lemah".


"Benar master, untuk itulah saya membutuhkan peralatan sihir ini untuk melindungi diri".


"Baiklah, sekarang nak Neil kenakan peralatan ini. Dengan kacamata ini, nak Neil tidak perlu lagi memakai topeng itu".


"Untuk seluncur ini kecepatan minimalnya sudah tinggi, jadi nak Neil harus berhati hati menggunakannya"


Melepas topeng pemberian Lian, Neil memakai kacamatanya. "Ini lebih baik".


Neil kemudian memasang sarung tangan elemennya, pistol dan belati terbangnya. Neil memikirkan dimana dia akan berlatih menggunakan peralatan tersebut.


"Apa nak Neil ingin memilih katana sekarang ?"


"Katana.. baiklah".


Neil dan Yosh berjalan menuju ke ruang sebelah yang berisi koleksi pedang sihir buatan akademi. Tepatnya berada di tempat penyimpanan koleksi peralatan sihir.


Kembali ke ruang koleksi alat sihir, Neil melihat ke arah dinding yang hancur di tabraknya. Terlihat sudah diperbaiki Neil menghela nafas lega.


"Silahkan pilih salah 1 katana yang cocok dengan nak Neil. semuanya berkelas tinggi".


Karena tidak memiliki banyak perbedaan diantara katana yang ada. Neil memilih katana yang cukup polos tanpa banyak motif. Menggenggam gagang pedang, Neil membuat sedikit gerakan berpedang.


"Pilihan yang bagus. Pedang itu ringan dan tajam. Ditempa langsung oleh pengrajin pedang ternama Zoaro. Dapat meningkatkan kemampuan penggunanya sampai 25%"


"Ehh, benarkah". Neil yang sebenarnya asal pilih tidak menyangka kalau pedang pilihannya memiliki kualitas yang baik.


"Sebenarnya pedang lainnya juga tidak kalah baiknya. Semuanya berkualitas tinggi".


"Pedang naga itu adalah yang terbaik". Yosh menunjuk ke salah satu pedang disisi lainnya.


"Pedang naga..."


"Pedang itu mampu membelah batu seukuran ruangan ini dengan sekali tebas".


"Benarkah master. Luar biasa.."

__ADS_1


"Apa kau tidak berniat untuk mengganti pedangnya nak Neil ?"


Merasa tertarik, Neil mendekat kesisi pedang. Melihat pedang berjenis excalibur dengan motif naga terbang dan berbagai jenis pedang lainnya membuat Neil ingin mengganti katanya.


"Mungkin aku akan memilih memilih terlebih dahulu master. Ehm, pedang naga ini kuat tapi sepertinya terlalu berat".


"Bagaimana kalau pedang ini ?" Yosh memperlihatkan sebuah pedang yang mirip dengan katana tetapi lebih lebar dan runcing di depannya.


Meletakkan katananya, Neil mengamati pedang pilihan Yosh. Sedikit lebih pendek dari katana sebelumnya, tetapi lebih lebar. "Ini cukup ringan".


"Itu adalah replika pedang Dewa Harimau. Walaupun itu replika, tapi kekuatannya berada 1 level dibawah pedang naga".


"Hebat. Kalau begitu aku ambil yang ini saja master".


"Pilihan yang bijak".


Melihat berbagai peralatan sihir dan pedang ditangannya, Neil kembali berpikir dimana dia harus berlatih.


"Apa yang sedang kau pikirkan nak Neil ?"


Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Neil menjawabnya. "Aku hanya bingung master. Dimana harus berlatih. Master kepala tidak mengizinkanku keluar".


"Hmm, dari caramu kesini bukankah kau memiliki ruangan yang cukup luas".


......................


"Wuushhhh..... Wuoowww, ini menyenangkan sekali". Seru Neil yang sedang berlatih terbang menggunakan skateboardnya di lorong akademi.


Neil menjadikan lorong akademi sebagai tempat latihannya. Tidak adanya pejalan kaki membuat Neil bebas beratraksi di dalamnya. Neil juga sesekali terbang mengitari taman.


"Bruuakkk". Suara tabrakan terdengar di pertigaan lorong.


"Aduh, jatuh lagi. Kenapa sulit sekali bermanuver disini".


Semenjak berlatih terbang dengan skateboardnya, Neil sudah jatuh ratusan kali. Beruntung tubuhnya sekarang mampu menahan rasa sakitnya.


"Coba lagi. Waktunya beraksi". Sambil tersenyum, Neil melanjutkan latihannya.


Sesekali Lian menemani dan mengajarinya berlatih. Dengan arahan dari Lian dan panduan di buku, Neil berlatih secara otodidak.

__ADS_1


"Apa kau tidak apa apa ?" Suara yang tidak asing ditelinga Neil terdengar dari belakang.


__ADS_2