Takdir Baru 3 Sekawan

Takdir Baru 3 Sekawan
24. Berlatih VI


__ADS_3

"Master.."


Membuka mata Neil memanggil gurunya yang sedang menangis di atasnya. Geiz yang mendengar suara Neil terdiam sejenak baru kemudian menatap kearah Neil.


"Neil..kau..kau sadar..syukurlah".


Geiz yang melihat Neil telah sadar reflek memeluk kepalanya.


"Maafkan aku..seharusnya melarangmu meminumnya".


"Maaf, telah membuatmu khawatir master. Tapi bukankah sekarang aku baik baik saja".


Neil tidak menyangka kalau gurunya akan sangat mengkhawatirkannya.


"Master, apakah aku boleh meminta sesuatu".


Mendengar perkataan muridnya, Geiz melepaskan pelukannya.


Sambil mengusap air matanya, Geiz meminta Neil mengatakan apa yang di inginkan.


"Jika aku bisa melakukannya".


"Jika aku bisa sampai ke tahap yang master inginkan, ijinkan aku ikut menemani master ke bukit bulan".


Neil ingin membantu gurunya agar dapat bertemu dengan orang tuanya. Kaget dengan permintaan muridnya, Geiz malah tertawa.


"Ha ha ha... Apa itu permintaanmu".


Menatap serius, Geiz melanjutkan. "Sejujurnya aku juga tidak yakin kau bisa melampauinya atau tidak".


"Eh, jangan remehkan".


Neil yang merasakan perbedaan pada tubuhnya, ingin melihat sejauh mana peningkatan kemampuannya. Dia kemudian bangkit berdiri dan melakukan peregangan.


Neil merasa kalau tubuhnya sekarang sangat ringan dan kuat. Melakukan ancang ancang dia berseru. "Lihatlah master".


"Wuusshhhh". Neil berlari kedepan dengan sangat cepat, lebih cepat dari Cita.


Geiz yang sudah terkejut akan kondisi Neil yang baik baik paska koma menjadi lebih terkejut lagi dengan peningkatan kekuatan Neil.

__ADS_1


Dengan tatapan tidak percaya, Geiz hanya dapat melihat Neil yang perlahan menghilang dari hadapannya. Tanpa sadar senyum manis muncul dalam bibirnya.


Sampai Neil kembali, Geiz masih tidak dapat berkata apa apa. Dia sangat senang dan bahagia atas keberhasilan Neil.


"Bagaimana master". Tanya Neil dengan bangga.


"Apakah ramuannya berhasil".


Geiz merasakan kalau Neil sudah melampaui Level Body I dan bahkan siap untuk menembus Level Body II.


Neil yang mendengar gumaman gurunya lantas berujar. "Master, berjanjilah untuk tidak memberikan ramuan seperti itu lagi kepada orang lain".


Geiz yang mendengar perkataan muridnya, sudut bibirnya berkedut. Geiz memang merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan tubuh Neil.


Jika memberikan ramuan itu pada orang lain, kemungkinan besar orang itu akan mati seketika. Tentu saja Geiz tidak akan melakukan hal bodoh kedua kalinya kepada orang lain.


"Bagaimana kalau kau meminumnya sekali lagi. Mungkin kau bisa lebih kuat lagi". Sambil tersenyum Geiz berkelakar.


"Tidak lagi...ehh, master belum menjawab pertanyaanku". Ucap Neil mengalihkan kembali pembicaraannya.


Geiz yang bingung harus menjawab apa, berusaha menundanya.


Neil yang mendengar jawaban dari gurunya hanya dapat mengeluh dalam hati.


Walaupun Geiz senang dengan perkembangan Neil, tapi dia masih khawatir dengan jiwanya. Geiz masih memikirkan keterangan muridnya bahwa manusia seperti dirinya hanya berumur pendek tidak seperti usia manusia di dunianya yang memilki usia sampai ribuan tahun.


Dia juga tidak bisa merasakan tekanan jiwa di dalam diri Neil.


"Sudahlah, untuk sementara lupakan dulu". Gumam Geiz dalam hati.


"Hahh, master tidak asik. Aku akan mencoba kekuatanku".


Neil kemudian pergi meninggalkan gurunya dan mencari batu besar untuk menguji kekuatannya.


Sementara Geiz mulai menghitung kembali stock obat, herbal dan makanan. Geiz menghabiskan banyak stock untuk membantu memulihkan kondisi tubuh Neil dengan lebih cepat.


Sementara di akademi sihir proses pengembangan fasilitas akademi tengah berlanjut. Pembelian barang melalui biro kerajaan berjalan lancar.


Berbagai herbal, kantongan batu sihir dan aneka logam sudah tersimpan diakademi. Masing masing divisi sibuk dengan kegiatannya masing masing.

__ADS_1


Juan juga menjadi lebih sibuk dengan berlarian kesana kemari mengurus dokumen dan memantau pekerjaan.


"Bukankah bisa dilakukan dengan sihir, kenapa aku juga harus datang". Juan mengeluh kepada Milia kenapa urusannya tidak dilakukan dengan sihir.


"Maaf Master Kepala, untuk menjalin kerjasama berkelanjutan yang baik anda perlu bertemu langsung dengan mereka".


Milia menerangkan pentingnya tatap muka. Juan yang tampak enggan hanya bisa menurutinya.


"Benar benar tidak habis pikir bagaimana tulang tua seperti ini harus banting tulang".


"Master Ren". Sapa Juan saat melihat Ren sedang berjalan sendirian di koridor utama.


"Eh, Master Kepala. Ada sesuatu yang bisa kubantu".


"Apakah kau melihat Geiz, sudah 1 tahun ini aku tidak melihatnya". Tanya Juan yang ingin tahu keberadaan Geuz.


"Master Geiz. Bukankah dia sedang menjalani latihannya. Apakah dia tidak memberitahu". Jelas Ren.


Juan yang mendengar jawaban dari Ren menjadi teringat bahwa dia memberikan tugas yang mustakhil untuk Geiz. Juan menduga Geiz tidak bisa dihubungi karena sedang menjalani latihan tertutup dengan Neil. Menggelengkan kepalanya Juan bergumam.


"Benar benar bodoh. Apa dia tidak tahu sedang melakukan hal yang mustakhil".


"Hal mustakhil".


Ren yang mendengar kata mustakhil menanyakan apa yang dimaksud Juan.


Juan yang sedang buruk suasana hatinya merasa kesal ditanya oleh Ren.


"Urus saja urusanmu sendiri. Terima kasih informasinya".


Mengakhiri kalimatnya Juan langsung pamit melanjutkan pekerjaannya. Sementara Ren yang tertegun mendengar jawaban Juan lantas berseru. "Bukankah kau yang bertanya lebih dulu pak tua".


Merasa kesal, Ren melanjutkan perjalanannya untuk mengajar. Sampai didepan pintu kelas, Ren menyapa anak didiknya.


"Siang anak anak".


"Selamat siang pak". Jawab para murid.


Murid murid akademi disana sangat tertib. Karena selain kemampuan sihir, kerapihan dan ketertiban juga dinilai oleh akademi.

__ADS_1


Jika nilai mereka semakin bagus, mereka juga akan semakin mudah untuk masuk ke kerajaan atau organisasi. Bagi para putra bangsawan, nilai bagus akan meningkatkan pamor keluarganya.


__ADS_2