
"Tapi bagaimana Master Yuwe bisa begitu mudah kecolongan ?" Neil masih penasaran dengan cara gurunya mencuri.
"Mudah katamu..." Yuwe sedikit kesal dengan perkataan Neil yang meremehkannya, dia kemudian melanjutkan kata katanya. "Aku hanya membiarkannya"'.
Mengambil nafas panjang Neil tidak berani bertanya lagi. Dia tidak ingin menyinggung Yuwe lebih dalam.
"Kemasi barang barangmu, kita segera keluar dari sini. Aku tunggu di pintu keluar"
"Baik master".
Setelah mengemasi barang barangnya Neil keluar dari penginapan bersama Yuwe untuk mencari informasi.
"Kita akan kemana master ?" Tanya Neil tak acuh.
"Ke kota sebelah". Selesai mengucapkannya, Neil diteleportasi bersama oleh Yuwe ke kota sebelah.
"Bisa seperti ini". Neil yang sudah diteleportasi ke kota sebelah sedikit terkejut. Dengan memandang bangunan yang lebih maju dari pedesaan Neil melanjutkan kata katanya. "Kalau begitu apakah kita bisa langsung berteleportasi ke bukit bulan master ?".
"Bodoh, apa gurumu juga belum memberitahumu... Untuk melakukan teleportasi kita harus mengetahui titik lokasinya. Sebelumnya aku pernah menandai lokasi ini, jadi aku bisa berpindah kesini".
"Ohh begitu. Lalu kenapa kita tidak langsung teleportasi saja dari akademi kesini. Dengan begitu, kita tidak perlu membayar mahal ke menara sihir". Tanya Neil lagi dengan lugunya.
"Sudah kuduga kau akan mengatakan itu. Sekarang aku mengerti kenapa Geiz bodoh itu tidak banyak mengajarimu". Gumam Yuwe di dalam lubuk hatinya.
"Untuk berteleportasi sejauh itu kita membutuhkan mana yang teramat sangat besar. Tidak mungkin manusia melakukannya".
"Ohh begitu". Neil menjawab sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
Yuwe dengan ekspresi datarnya merasa sedikit tertekan dengan perilaku Neil. Tidak ingin membahasnya lagi, dia mengajak Neil untuk sarapan.
"Baiklah, sekarang kita cari rumah makan !"
"Rumah makan.. apa kita akan sarapan master Yuwe ?"
"Tentu saja. Apa kau tidak lapar. Lagipula sarapan baik untuk memulai hari".
"Ehh, " Neil yang jarang sarapan semenjak transmigrasinya sedikit tertekan. Dia yang hampir setiap pagi menahan lapar bertanya dengan lugunya. "Bukankah orang orang disini jarang sarapan master ?/ Mereka mengisi tenaga dengan berta.. maksudku berkultivasi"
"Siapa bilang! Apa gurumu yang pelit itu yang mengatakannya ?/ "
__ADS_1
Tidak menjawab Neil memilih tempat duduk untuk mengalihkan perhatian. Dia tidak ingin mendengar kalau gurunya dijelek jelekkan oleh wanita didepannya. "Bagaimana kalau kita duduk disana master ?"
Tidak menjawab Yuwe menyetujui permintaan Neil. Setelah duduk ditempatnya, seorang pelayan datang menawarkan dagangannya dengan membawa sebuah menu. "Selamat datang di rumah makan kami, silahkan pilih menunya ?"
Neil yang hendak mengambil menu dari tangan pelayan dihentikan oleh Yuwe. "Tidak perlu. Ambilkan makanan terbaik disini. Apakah ini cukup ?"
Pelayanan yang melihat bayarannya lebih dari cukup kemudian berujar. "Ini lebih dari cukup. Mohon tuan dan nyonya menunggu sebentar".
"Jangan terlalu mengikuti kebiasaan gurumu yang pelit itu. Bukankah sebelumnya kau sudah terbiasa sarapan ?"
"Bagaimana master mengetahuinya, padahal kan kita baru beberapa hari bertemu ?"
"Bukankah sebelumnya kau yang mengatakannya kalau aku mencari kalian untuk sarapan !"
"Aku lupa.. Terima kasih master, tapi aku sudah terbiasa tidak sarapan semenjak disini".
Tidak menjawab, Yuwe malah mengambil sekantung uang emas dan memberikannya kepada Neil. "Simpanlah, aku tahu kau tidak memiliki uang".
Neil yang mendapatkan sekantung emas sudut bibirnya berkedut. Dia bingung harus senang atau sedih. Mendapatkan uang dari seorang wanita, benar benar diluar prinsipnya.
Saat masih dibumi, dia memang sedikit boros dalam menggunakan uang. Dia bahkan tidak segan segan untuk memberikan beberapa lembar pecahan uang kepada orang orang didekatnya.
"Tidak usah master. Buat pegangan master saja".
"Uangku masih setumpuk gunung. Ambil saja, tidak usah malu malu". Sambil menunggu makanan datang, Yuwe melanjutkan. "Apa kau akan bergantung terus hanya untuk makananmu !"
Mendapatkan tekanan mental bertubi tubi, Neil tidak memungkiri bahwa dia membutuhkan uang untum memenuhi kebutuhannya. Tidak mungkin dia terus bergantung pada gurunya atau token dari akademi yang hanya bisa dipakai di akademi. Menolak malu Neil akhirnya menerima uangnya
"Aku ambil master. Terima kasih. Kalau aku sudah mendapatkan uang, aku akan mengembalikannya kepada master ?"
Yuwe yang mendengar jawaban Neil sedikit tertawa kecil. Dia kemudian berujar. "Kalau begitu aku menunggunya".
Neil kemudian memasukkan sekantung uangnya sebelum pelayan datang membawakan makanannya. "Silahkan tuan dan nona, ini adalah makanan terbaik kami. Semoga tuan dan nona menikmatinya dan kembali lagi kemari".
"Apakah aku bisa bertemu dengan tuanmu ?" Yuwe bertanya kepada sang pelayan.
"Maaf nona ada keperluan apa ingin bertemu dengan tuan kami".
"Hanya menginginkan sebuah informasi". Yuwe mengatakannya sambil mengeluarkan sekantung emas kembali.
__ADS_1
Melihat sekantung emas mata pelayan menjadi merah, tanpa berpikir dia mengiyakannya. "Semua bisa diatur. Mohon nona menunggu sebentar".
Menerima sekantong emas sang pelayan bergegas menghubungi tuannya. Sementara Neil yang melihat cara Yuwe mendapatkan informasinya hanya geleng geleng kepala. Di dalam hatinya dia bergumam. "Tidak dibumi atau disini. Semua sama saja. Asal ada uang, urusan dijamin lancar".
"Master, sepertinya master begitu boros".
"Haha haha, uang bukan masalah bagiku. Aku bisa mendapatkan lebih banyak jika aku mau".
"Memangnya bagaimana caranya mendapatkan banyak uang master ?"
"Kau ingin tahu... Makan dulu makananmu..." Yuwe mulai merasa aneh dengan Neil, dia merasa Neil sepertinya tidak mengerti banyak hal. Tapi terkadang dia juga mengerti tentang sesuatu.
Tidak ingin banyak berfikir mereka berdua memulai sarapannya. Neil menyantap makanannya yang kemudian diikuti oleh Yuwe.
"Ehm, ini enak.." Celoteh Neil sambil mengunyah makanan dimulutnya.
Kali ini Neil tidak terlalu berhati hati dengan makanan didepannya. Dia yakin kalau semua makanan yang dibeli dengan uang pasti aman untuk dimakan.
Menyelesaikan makannya, sang pelayan yang sudah mendapatkan mandat dari tuannya memberikan kode kepada Yuwe. Yuwe yang mengerti kode dari pelayan kemudian menghampirinya.
"Kau tunggu disini. Aku harus menyelesaikan sesuatu".
"Baik master". Neil yang mengerti kemana Yuwe akan pergi mempersilahkannya.
"Mohon nona ikuti saya". Sang pelayan mengajak Yuwe untuk mengikutinya.
Sampai diruangan termewah di rumah makan tersebut, pelayan memerintahkan Yuwe untuk masuk menemui tuannya. "Silahkan nona, nona kami sudah menunggu".
Masuk kedalam ruangan, Yuwe melihat seorang wanita paruh baya yang tidak asing baginya. Ketika mata mereka berpapasan, dua buah senyum muncul secara bersamaan.
"Lama tidak bertemu, Yuwe Yu".
"Sepertinya kau masih mengenaliku Yien".
"Bagaimana aku lupa dengan konsumen VIP ku. Silahkan duduk".
"Terima kasih. Aku membutuhkan sebuah informasi".
"Tidak usah buru buru. Kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kalau minum sedikit teh".
__ADS_1
Menepuk tangannya, seorang pelayan masuk dengan membawa dua buah cangkir teh dengan beberapa camilan.